Angin Perubahan di Kelompok 311
Ruang yang sehari-harinya dipenuhi perkakas bengkel itu, nampak tertata rapi. Karena hari itu, ruang tersebut digunakan pertemuan kelompok.Tikar telah digelar memenuhi ruangan. Sementara disudut ruangan sudah nampak Ibu Eko PJ I kelompok 311 menghadap meja yang diatasnya bertumpuk buku administrasi kelompok. Setiap anggota yang datang langsung menghadap PJ untuk melakukan pembayaran kewajiban dan mengisi absen.
Sayangnya sampai pukul 09.00 ternyata yang ada diruangan tersebut baru 4 anggota. Memang biasanya pertemuan kelompok 311 dimulai pukul 10.00 . Tapi karena pertmuan bulan ini bertepatan dengan puasa, maka disepakati untuk diajukan pukul 09.00 . Sepuluh menit kemudian mulailah anggota berdatangan. Sampai pertemuan dimulai pada pukul 09.15, anggota yang hadir telah mencapai 20 orang. Sehingga ruangan nampak penuh.
Sebelum acara pertemuan dimulai, mereka saling mengobrol bahkan saling gojlok. Sebagian lagi ada yang mengingatkan teman-temannya untuk tidak lupa mengisi absen. Pendek kata saat itu suasana terasa begitu akrab dan penuh kekeluargaan. Bahkan kalau terdengar telepon rumah berdering, anggota yang terdekat segera mengangkatnya tanpa menunggu tuan rumah. Karena bisa dipastikan, telepon masuk tersebut berasal dari anggota yang tidak sempat hadir. Selain itu juga menunjukan, banyak anggota yang telah familier terhadap suasana rumah tersebut.
Suasana yang riuh karena saling ngobrol berubah senyap, begitu acara dimulai. Saat itu Ibu Is yang duduk dekat PJ I mulai membacakan susunan acara, kemudian dilanjutkan pada pembacaan notulen. Dari notulen itu pula bisa diketahui bahwa pada bulan lalu telah terjadi TR sebesar Rp 900 ribu. Namun dana untuk TR tersebut telah kembali. Dalam notulen itu juga disebutkan, untuk anggota yang mengikuti pelatihan TR mendapat transport Rp 15 ribu. Dana tersebut diambil dari tabungan kelompok.
Acara terus mengalir sampai pada musyawarah pengajuan pinjaman. “Ibu-ibu untuk yang SPP mohon dibaca sendiri,” himbau Ibu Ita selaku PPL yang mendampingi kelompok 311. Mendapat himbauan demikian, anggotapun nampak kebingungan. Karena memang biasanya semua dibacakan oleh PJ termasuk penulisannya.
Meski nampak kikuk, akhirnya himbauan tersebut dilakukan juga. “Wah… enak begini (dibaca sendiri-red) kita bisa tahu lebih rinci” tukas Ibu Rina setelah membaca SPP-nya dan dibenarkan anggota lainnya. Sejak itulah, akhirnya disepakati untuk SPP harus dibaca sendiri oleh anggota yang mengajukan. Disamping itu juga diminta agar SPP tidak lagi ditulis oleh PJ.
Suasana berubah heboh, setelah diketahui plafon kelompok tidak mencukupi. Saat itu anggota yang mengajukan SPP, baik untuk SP 1 maupun SP 2 senilai Rp 38 juta, sementara plafon kelompok hanya ada Rp 30 juta. Ibu Rina yang waktu itu mengajukan SP 1 mencoba merayu Ibu Gin agar menunda SPPnya. Pertimbangannya, bila SPP Ibu Gin yang Rp 10 juta itu ditarik maka semuanya beres. “Bulan depan aja bu, nanti saya dukung. Ibu Gin kan banyak uangnya. Jadi belum mendesak sekarang,” tukas Ibu Rina.
“Hanya orang mati yang tidak butuh duit. Saat ini saya butuh karena saya sudah janjian sama orang. Lagi pula saya juga tidak ada PP. Jadi memang sudah waktunya saya pinjam,” tukas Ibu Gin membalas rayuan Ibu Rina. Suasanapun semakin heboh. Karena masing-masing mengajukan alasan bahwa SPP-nya tidak bisa ditunda. Ada yang beralasan untuk anak sekolah dan ada juga yang beralasan untuk modal usaha menjelang lebaran.
Karena masing-masing bertahan, PPL pun mengajukan beberapa alternatif solusi. Diantaranya dengan memotong pinjaman secara merata. Karena potongannya ternyata cukup besar maka beberapa anggota mulai ikut merayu Ibu Gin. Mendapat serangan yang gencar akhirnya Ibu Gin luluh juga. Ia bersedia menurunkan pinjamannya dari Rp 10 juta menjadi Rp 5 juta.
Tapi nampaknya keputusan Ibu Gin belum meredakan permasalahan. Beberapa anggota yang SPP ternyata juga masih tidak mau menurunkan SPP-nya. Akhirnya Ibu Ita selaku PPL membuat ketegasan agar kelompok segera membuat keputusan. Sebab kalau semua bertahan pada kepentingannya maka permasalahan tidak akan pernah selesai. Dengan demikian, kelompokpun sepakat agar SPP diturunkan untuk menyesuaikan plafon kelompok. Dengan demikian diputuskan yang mengajukan SP 1 diturunkan Rp 1,25 juta, sedang SP 2 diturunkan Rp 660 ribu.
Heboh, saling rayu dan saling gojlok tapi tidak ada dendam dihati, begitulah suasana musyawarah di kelompok 311. “Ini baru pertama kali terjadi. Mungkin karena akan lebaran sehingga banyak yang butuh. Biasanya lancar-lancar saja karena plafon kelompok selalu cukup.” ujar Ibu Eko.
Dulu lanjutnya, kelompok 311 memang pernah diturunkan plafonnya, karena saat itu kondisinya sedang sakit. Masalah tersebut terjadi sekitar empat tahun lalu karena ulah PJ, sehingga terjadi TR terlalu besar. Saat itu anggota kelompok 311 ini banyak yang berasal dari Siwalan Kerto. Tapi karena banyak bermasalah akhirnya banyak yang dikeluarkan.
“PJ waktu itu suka meminjamkan uang pada anggota maupun non anggota. Ketika si anggota tersebut tidak bisa membayar, maka PJ meminta anggota tersebut untuk SPP. Kemudian ketika realisasi, dipotong sebesar pinjamannya. Karena anggota tersebut merasa tidak ikut memakai uangnya maka iapun tidak mau membayar angsuran. Sehingga mau tidak mau kelompok harus TR terus menerus karena tidak hanya satu anggota yang mengalami hal itu,” ujar Ibu Harto, mantan PJ yang menggantikan PJ bermasalah.
Sejak peristiwa itu, PJ dipegang Ibu Harto. Seiring dengan itu, keanggotan lebih banyak dikembangkan di daerah Rewin. Pada perekembangan selanjutnya, PJ dipegang Ibu Eko hingga sekarang. Saat ini jumlah anggota ada 32 orang dan hanya 5 orang yang berasal dari Siwalan Kerto. Tak mengherankan bila kelompok ini kemudian lebih dikenal dengan kelompok Rewin.
Pertemuanpun kini dilakukan secara anjang sana dengan maksud diantara anggota agar lebih saling mengenal. “Mereka yang mendapat arisan akan ketempatan pertemuan kelompok. Karena sekarang saya yang mendapat arisan maka pertemuan bulan depan dirumah saya,” ujar Ibu Lilik, PJ II yang disambut canda anggota lainnya agar konsumsinya dobel. Karena pada bulan ini tidak ada konsumsi.
Agar permasalahan lama yang membuat kelompok sakit tidak terulang maka dibutlah beberapa aturan kelompok. Diantaranya adalah, kalau TR satu kali maka pinjamannya akan diturunkan Rp 1 juta. Bila ternyata TR dilakukan lebih dari 2 kali maka pinjamannya akan diturunkan 50 %. (gt)








