Dinamika Kelompok

Menjaga Kebersamaan Ala Kelompok 466

Perbedaan pendapat dalam kelompok memang hal yang wajar. Asal semua mempunyai tujuan yang sama yaitu menjaga eksistensi kelompok. Berikut pengalaman kelompok 466 dalam mengelola perbedaan pendapat.

Ada yang istimewa di lantai 2 gedung III Kopwan SBW pada 11 Pebruari lalu. Sejak pukul 9.00, tempat tersebut didatangi ibu-ibu yang mengaku anggota kelompok 466. Mereka berkumpul sebagaimana layaknya akan mengadakan pertemuan kelompok. Tapi benarkan mereka akan mengadakan pertemuan kelompok dikantor ? karena hal demikian tentunya diluar kelaziman. Memang, ada beberapa kelompok yang seluruh anggotanya diundang kekantor. Tapi biasanya yang demikian ini adalah kelompok bermasalah. Sementara kelompok 466 bukanlah kelompok bermasalah. Bahkan kelompok ini dapat dikategorikan kelompok bagus. Salah satu indikatornya adalah tingkat kehadiran yang rata-rata mencapai 70 %. Tabungan kelompoknya pun tidak pernah terpakai dan jumlahnya mencapai hingga Rp 7 juta.
Tapi saat itu salah satu anggota kelompok 466 ada yang mengalami musibah. Kebetulan dirumah anggota itulah, pertemuan kelompok akan diadakan. “Pada hari sebelumnya saya menerima kabar dari Ibu Kardiana bahwa suaminya akan dioperasi. Sehingga tidak mungkin mengadakan pertemuan dirumahnya. Untuk mengabari anggota satu persatu tentang perubahan ini tentu juga tidak memungkinkan. Akhirnya saya menghubungi SBW yang kemudian disarankan untuk pertemuan di kantor,” ungkap Ibu Mercy Maria, PJ I kelompok 466.
baca selanjutnya… »

Add to Google © Copyright 2010 - 2008 Setia Bhakti Wanita

Mengajukan Pinjaman Sambil Lesehan

pertemuan rutin kelompok

pertemuan rutin kelompok

Untuk menjadikan Kopwan SBW seperti saat ini membutuhkan waktu 31 tahun. Tapi kalau mau menghancurkannya tentu tidak membutuhkan waktu selama itu. Bahkan cukup dalam hitungan bulan atau hari. Kuncinya hanya satu yaitu tanggalkan rasa tanggung jawab.
Bisa dibayangkan bagaimana Kopwan SBW ini dibangun. Modal awalnya hanya Rp 300 ribu. Anggotanya juga cuma 35 ibu. Sedang aktivitasnya hanya berada disebuah garasi dirumah salah satu pengurus. Lalu bagaimana mengelolanya, sehingga bisa besar seperti sekarang ini.
Pastinya sangat dibutuhkan perjuangan yang tidak ringan. Sudah begitu, tidak ada imbalan finansial atas kerja keras dan perjuangan tersebut. Bahkan tidak jarang justru mengeluarkan biaya dari saku pribadi. Dengan kondisi seperti itu, bisa dipastikan tidak akan banyak yang ingin jadi pengurus. Tapi, meski kondisi minimalis, ternyata Kopwan SBW bisa menjadi besar..[..]gt baca selanjutnya… »

Add to Google © Copyright 2010 - 2008 Setia Bhakti Wanita

Disiplin Hadir Meski Rumah Jauh

Saling kenal dan tahu karakter masing – masing anggota dalam satu kelompok, itulah salah satu syarat sistem tanggung renteng. Hal tersebut bisa terjadi karena adanya kedekatan tempat tinggal. Tapi tidak demikian dengan kelompok 332. Berikut liputan Bulletin SBW pada pertemuan kelompok Juni lalu.

Sampai 1989 anggota kelompok 85 yang berada di Putro Agung telah mencapai 75 orang. Sejak itulah pecah kelompok diakukan hingga 4 kali. Dan salah satunya kemudian menjadi kelompok 332 dengan anggota awal 11 orang. Mereka berasal dari sekitar Karang Asem dan Pacar Kembang. Dengan demikian kelompok ini bolehlah dikatakan sebagai kelompok senior.

Tapi jangan kaget bila tidak banyak anggota dikelompok ini yang tahu dan ikut merasakan bagaimana Kopwan SBW semasa berkantor di Jl. Panglima Sudirman. Pasalnya dari 11 anggota awal, ternyata kini hanya tersisa 4 orang. Bahkan kini yang bertempat tinggal di Karang Asem dan Pacar Kembang hanya tersisa 5 orang dari 46 anggota. Justru kebanyakan mereka berasal dari Sidoarjo, Rewin, Tropodo, Benowo bahkan ada yang dari Gersik. baca selanjutnya… »

Add to Google © Copyright 2010 - 2008 Setia Bhakti Wanita

Kepentingan Bersama Diutamakan

Ketika kepentingan pribadi jadi dasar dalam pengambilan keputusan. Ketika aturan dan hasil kesepakatan diabaikan. Itulah awal perpecahan yang menuju pada kehancuran. Tidak percaya ??? kelompok 499 punya bukti tentang hal tersebut.

Suasana keakraban dan kekeluargaan saat itu sangat terasa pada pertemuan kelompok 499. Seakan, sebagai keluarga, mereka sudah lama tidak bertemu. Sehingga pertemuan kelompok menjadi ajang lepas kangen.

Setiap anggota yang baru datang selalu disambut dengan rasa riang dan canda tawa. Mereka saling bersalaman bahkan peluk dan cium sebagaimana ikatan sebuah keluarga. Tak ketinggalan mereka juga saling kabar – kabari tentang kondisi masing-masing. Sehingga suasana nampak riuh penuh cerita dan tawa.

Suasana tersebut tentunya berbeda dengan 2 tahun lalu. Bahkan boleh dikata bertolak belakang. Bagaimana tidak, saat itu pertemuan kelompok justru sering dijadikan ajang adu urat leher. Hak yang semestinya bisa didapat setiap anggota, ternyata hak tersebut hanya bisa dinikmati anggota-anggota tertentu. Sehingga ada anggota yang merasa dianak tirikan. Sakit hati… tentu saja terjadi, karena merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya terjadilah dua kubu yang saling bertentangan dan puncaknya mereka menuntut perpisahan. baca selanjutnya… »

Add to Google © Copyright 2010 - 2008 Setia Bhakti Wanita

Beban Lebih Ringan Bila PJ Sebagai Koordinator

3Kelompok ini tergolong tua. Setidaknya saat ini telah berusia 24 tahun. Tapi selama itu pula kelompok ini belum pernah ada anggotanya yang melalaikan kewajiban. Dan saat ini anggotanya telah mencapai 52 orang. Itulah kelompok 186 yang bermarkas di Jl Kutisari Utara II.

Rumah yang berada di Jl. Kutisari Utara II/ 8 itu nampak ramai setiap tanggal 5 pukul 16.30. Setidaknya dirumah tersebut ada 37 perempuan berkumpul memenuhi beranda dan ruang tamu. Sebagian diantara mereka nampak berseragam berwarna crem. Sementara didekat pintu masuk telah dijajar meja yang diatasnya terdapat berbagai buku administrasi kelompok. Setiap anggota yang baru datang langsung menghampiri meja dan mengisi daftar hadir. Begitulah sekilas suasana pertemuan kelompok 186 pada September lalu.

Sebelum acara pertemuan dimulai, anggota nampak ramai. Ada yang sibuk ngobrol dengan teman didekatnya. Tapi ada pula beberapa anggota yang sibuk melihat barang dagangan yang dibawa oleh salah satu anggota. Sementara di belakang meja Ibu Rini, PJ I dan Ibu PJ II kelompok 186 sibuk menata administrasi. Anehnya, disaat itu tidak nampak kegiatan pembayaran kewajiban. Bahkan diatas meja tidak terlihat selembarpun uang. baca selanjutnya… »

Add to Google © Copyright 2010 - 2008 Setia Bhakti Wanita
 Page 1 of 2  1  2 »
[E] E-kopwansbw