Dibalik Pemilihan Pengurus

Jawa Timur saat ini lagi hangat-hangatnya memasuki masa pemilihan gubernur. Para calon gubernur juga sibuk melakukan kampanye dengan berbagai caranya. Dan seperti biasanya yang terjadi diwilayah lain, suasana akan memanas begitu mendekati hari H. Bahkan diberbagai daerah, ada yang sampai berlanjut dengan gejolak karena tidak puas terhadap hasil pemilihan. Sebagai warga Jawa Timur, tentu berharap tidak sampai terjadi gejolak diwilayah ini pasca pemilihan gubernur. Sehingga pembangunan di Jawa Timur bisa terus berlanjut.

Tak beda dengan Pilkada, nampaknya Kopwan SBW juga demikian. Menjelang pemilihan pengurus, suasana serasa memanas dengan bertebarannya berbagai isu. Bahkan sempat muncul kekhawatiran akan terjadinya gejolak saat RAT. Tapi syukurlah kekhawatiran tersebut tidak menjadi kenyataan. Proses pemilihan pengurus dan pengawas berjalan lancar walaupun terjadi perdebatan cukup seru. Tapi kondisi demikian masih merupakan hal wajar.

Pengurus dan pengawas Kopwan SBW kini telah terpilih. Tentu juga tidak bisa dipungkiri ada pihak-pihak yang kecewa dengan hasil tersebut. Namun, semua tetap berharap kekecewaan tersebut tidak menjadi pemicu terjadinya gejolak baru pasca pemilihan. Sehingga seluruh energi Kopwan SBW bisa lebih difocuskan untuk upaya pengembangan kedepan.

Dalam proses pemilihan pengurus dan pengawas kali ini nampaknya beda dengan sebelumnya. Beberapa tahapan harus dilalui oleh semua calon pengurus dan pengawas. Dalam pemilihan kali ini ada 15 anggota yang mencalonkan diri menjadi pengurus. Dari jumlah tersebut diantaranya ada 4 pengurus yang masih menjabat, 4 PPL dan 1 mantan pengurus. Sedang untuk posisi pengawas terdapat 6 anggota yang mencalonkan diri. Data ini berdasarkan berita acara dari kelompok yang masuk.

Kemudian dari data tersebut oleh tim 7 diklasifikasikan berdasarkan jumlah dukungan dari masing-masing calon. Untuk bisa masuk menjadi kandidat, calon pengurus harus diusulkan minimal oleh 10 kelompok. Dengan ketentuan ini akhirnya terjaring 10 anggota sebagai kandidat pengurus dan 1 anggota kandidat pengawas. Mereka inilah yang kemudian bisa tampil untuk menyampaikan visi dan misinya saat RAT.

Tapi sebelumnya, mereka juga harus melalui proses tes kesehatan dan tes psikologi yang hasilnya akan menjadi bahan pertimbangan tim formatur saat bersidang. Kemudian proses selanjutnya seluruh kandidat mendapatkan pengarahan dari Bp Taufik, Deputy V Kementrian Negara Koperasi dan UKM. Dalam kesempatan itulah para kandidat mendapat gambaran tentang koperasi dan permasalahan yang melingkupinya.

”Dalam perjalanan ke SBW saya membaca buku Dari Pemilihan Suara Sampai Pertumpahan Darah. Dari buku tersebut ada pelajaran bahwa voting ternyata menjadi sumber konflik dan keruntuhan sebuah organisasi bahkan negara. Dengan voting pasti ada yang kalah dan ada yang menang. Ujungnya pasti ada yang sakit hati, dampak selanjutnya konflik dengan saling menyerang. Inilah yang akan menghabiskan energi kita dan tidak sempat berfikir kedepan. Disamping itu kerusakan akibat konflik sulit untuk dipulihkan seperti sedia kala,” papar Bp Taufik dihadapan kandidat pengurus dan pengawas pada 15 Pebruari lalu..

Lebih lanjut disampaikan, SBW telah menjadi ikon keberhasilan sebuah koperasi. Tapi dengan membaca buku tersebut, telah memunculkan kekhawatiran terhadap kelangsungan SBW. Untuk itulah kuncinya ada 5 yaitu pertama bersatu, kedua bersatu, ketiga bersatu, keempat bersatu dan kelima bersatu.

Dicontohkannya, INKUD yang dulu punya power besar, kini telah kehilangan powernya. Bahkan Tower INKUD juga sudah beralih nama dan kepercayaan pada lembaga inipun terus merosot. Sudah banyak juga, contoh koperasi yang tenggelam begitu terjadi pergantian pengurus. Banyak juga koperasi yang runtuh akibat konflik internal dengan melibatkan pihak luar. ”Itulah sebabnya saya berharap apapun yang terjadi, SBW sebagai ikon gerakan ibu-ibu bisa tetap dipertahankan,” tandasnya.

Kedepan sudah waktunya SBW membangun sistem kaderisasi secara berjenjang . Dalam sistem inilah anggota yang akan menjadi pemimpin sudah teruji secara berjenjang. Dimulai dengan menjadi anggota yang terbaik dikelompoknya. Kemudian dipercaya oleh kelompok untuk menjadi PJ yang akan teruji kepemimpinannya. Dengan demikian mereka yang menjadi PJ sudah teruji dikelompok.

Begitu pula yang menjadi PPL adalah PJ yang telah teruji dikelompoknya. Jenjang berikutnya PPL yang telah teruji kinerja dan prestasinya mempunyai kans besar untuk menjadi pengurus atau pengawas. ”Jadi bukan anggota yang hanya pandai berbicara dan seolah-olah pinter dalam forum kemudian dipilih jadi pemimpin. Sementara ia tidak pernah teruji dalam jenjang –jenjang tersebut,” tandas Bp Taufik.

Ancaman yang ada di SBW lanjutnya, hanya bisa dikendalikan secara bersama-sama dengan semangat demi kebaikan bersama. Musyawarah untuk mencapai mufakat, itulah cara penyelesaian tanpa harus ada yang merasa kalah dan ada yang menang. Contohnya dari 13 calon pengurus dan pengawas yang ada ini bisa bermusyawarah –mufakat menentukan siapa diantara mereka yang pantas menjadi pengurus dan pengawas. Kalau ini bisa dilakukan, tentu kondisinya lebih nyaman dan biaya lebih murah.

Dikatakan juga, koperasi bukan organisasi politik yang lebih lekat pada masalah perebutan kekuasaan. Tapi organisasi kebersamaan untuk bersinergi mencapai nilai tambah ekonomi, sosial dan budaya. Sehingga anggota dan koperasinya menjadi lebih bermartabat. Bila kondisi pemilihan pengurus yang sejuk bisa diwujudkan, ini akan menjadi prestasi baru bagi SBW disamping sebagai kampiun koperasi. (gt)

Tulis Komentar

 

Spam Protection by WP-SpamFree

Add to Google © Copyright 2012 - 2008 Setia Bhakti Wanita
[E] E-KopwanSBW [S] SBW's Learning Center