<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Setia Bhakti Wanita</title>
	<atom:link href="http://www.setiabhaktiwanita.com/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.setiabhaktiwanita.com</link>
	<description>Berkembang dengan Derap Kebersamaan</description>
	<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 03:20:21 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>FKJU Buka Sentra Kue</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/fkju-buka-sentra-kue.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/fkju-buka-sentra-kue.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 03:20:21 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seputar SBW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=740</guid>
		<description><![CDATA[Forum Komunikasi Jaringan Usaha (FKJU) SBW kembali melakukan gebrakan untuk anggota-anggotanya dengan membuka Sentra Kue. Gagasan yang terlontar saat pertemuan koordinasi FKJU di Batu ini telah dimulai pada 24 Januari. Sedang tempatnya berada di depan kantor Kopwan SBW. Sentra Kue ini berlangsung mulai pukul 4.30 hingga pukul 7.30. Karena pada pukul 8.00 aktivitas kantor Kopwan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2012/01/FKJU-web.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-741" title="FKJU web" src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2012/01/FKJU-web-300x235.jpg" alt="" width="300" height="235" /></a>Forum Komunikasi Jaringan Usaha (FKJU) SBW kembali melakukan gebrakan untuk anggota-anggotanya dengan membuka Sentra Kue. Gagasan yang terlontar saat pertemuan koordinasi FKJU di Batu ini telah dimulai pada 24 Januari. Sedang tempatnya berada di depan kantor Kopwan SBW. Sentra Kue ini berlangsung mulai pukul 4.30 hingga pukul 7.30. Karena pada pukul 8.00 aktivitas kantor Kopwan SBW sudah dimulai.<span id="more-740"></span></p>
<p>Dengan adanya Sentra Kue ini, diharapkan semua produk makanan dari anggota FKJU bisa tertampung. Bukan itu saja, Sentra Kue juga bisa menjadi sarana promosi bagi produk makanan anggota. Untuk itu, setiap kue harus diberi lebel sebagai identitas pembuat  yang bisa dihubungi bila ada pemesanan.</p>
<p>Pada pembukaan hari pertama memang belum seramai yang diharapkan, tapi cukup lumayan sebagai perkenalan. Kue yang belum laku di Sentra Kue dilanjutkan penjualannya di pujasera SBW. Hal ini juga merupakan strategi FKJU dalam memperkenalkan produk anggotanya pada sesama anggota SBW. Dengan demikian diharapkan, ketika ada anggota SBW yang punya hajat bisa pesan aneka kue, baik melalui FKJU atau ke anggota langsung.</p>
<p>Memasarkan produk makanan melalui Sentra Kue, merupakan salah satu program FKJU bidang tata boga yang telah dirumuskan saat pertemua koordinasi yang diadakan di Kota Batu. Tentu saja bukan hanya bidang tata boga yang dibahas dalam pertemuan tersebut. Karena dalam FKJU, kini telah dibagi menjadi 6 bidang yaitu tata boga, kerajinan, persewaan dekorasi, garmen, pracangan dan tata rias kecantikan. Rumusan dari hasil pertemuan tersebut sekaligus menjadi rencana program FKJU tahun 2012.</p>
<p>Rencana program masing-masing bidang tersebut telah di sosialisasikan selama tiga hari sejak 17 Januari lalu. Dalam sosialisasi tersebut, masing-masing bidang telah sepakat untuk mengadakan pertemuan setiap bulan. Nampaknya para anggota telah menyadari betapa pentingnya jalinan komunikasi antar anggota. Dengan pertemuan rutin itulah, mereka bisa membahas berbagai persoalan usaha yang dihadapi serta pengembangannya.</p>
<p>Disamping tentang kesepakatan adanya pertemuan rutin, anggota di masing-masing bidang juga menyepakati diadakannya pelatihan. Dalam hal ini pengurus FKJU telah merumuskan beberapa pelatihan pengembangan diri anggota terkait dengan usaha. Untuk bidang tata boga misalnya, telah direncanakan adanya penyatuan resep masakan. Sehingga ada standart rasa saat mendapat pesanan. Karena kemungkinan besar, banyak pesanan yang akan dikerjakan secara bersama-sama. Untuk penyatuan resep ini, FKJU menggandeng Finna. (gt)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/fkju-buka-sentra-kue.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Bubur Abang TR Kelompok 291</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/bubur-abang-tr-kelompok-291.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/bubur-abang-tr-kelompok-291.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 03 Jan 2012 07:05:58 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dinamika Kelompok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=736</guid>
		<description><![CDATA[Bukti telah banyak, bahwa pendomplengan bukan saja menggoyang stabilitas kelompok tapi juga keluarga. Kendati demikian masih saja ada kelompok yang terbelit masalah tersebut. Satu diantaranya kelompok 291.
Bagi Bu Nunuk, PJ adalah orang terpercaya dikelompok. Apalagi bila ia sudah mengemban amanah anggota kelompoknya selama 15 tahun. Itulah sebabnya, Ibu Nunuk tidak pernah membayangkan akan dikhianati oleh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2012/01/Dinamika-kelompok-web.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-737" title="Dinamika kelompok web" src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2012/01/Dinamika-kelompok-web-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Bukti telah banyak, bahwa pendomplengan bukan saja menggoyang stabilitas kelompok tapi juga keluarga. Kendati demikian masih saja ada kelompok yang terbelit masalah tersebut. Satu diantaranya kelompok 291.<span id="more-736"></span></em></p>
<p>Bagi Bu Nunuk, PJ adalah orang terpercaya dikelompok. Apalagi bila ia sudah mengemban amanah anggota kelompoknya selama 15 tahun. Itulah sebabnya, Ibu Nunuk tidak pernah membayangkan akan dikhianati oleh PJ tersebut. Akibat dari itu, uangnya sebesar Rp17 juta amblas. Padahal uang tersebut merupakan pinjaman dari Kopwan SBW dengan menggunakan fasilitas SP1, SP2 dan SP3. Artinya setiap bulan ia harus menganggarkan dana untuk angsuran tersebut.</p>
<p>Ternyata, Bu Nunuk tidak sendiri. Setidaknya ada 8 anggota yang mengalaminya dengan nilai bervariasi. Ada yang kena Rp 500 ribu, ada yang Rp1 juta, ada pula yang Rp 5 juta dan kerugian tertinggi adalah Bu Nunuk. Total semuanya diperkirakan mencapai Rp50 juta lebih. “Saya kira ia hanya pinjam kepada saya. Eee..nggak taunya juga pada anggota lainnya,” ujar Bu Nunuk anggota kelompok 291 ini sambil menahan geram.</p>
<p>Tak mengherankan, bila Bu Nunuklah yang paling bersungut-sungut diantara anggota yang jadi korban. Karena setiap bulan dia harus menyediakan dana angsuran untuk pinjaman Rp17juta. Sementara penagihan yang dilakukan pada PJ tersebut tidak selalu membuahkan hasil. Apalagi PJ tersebut juga sudah dikeluarkan dari keanggotaan. Dengan demikian beban itu menjadi tanggung jawabnya. Artinya, masalah ini jelas akan mengganggu stabilitas anggaran keluarganya. Walaupun Ibu Nunuk berusaha menutupi masalah ini dari keluarganya.</p>
<p>Seperti biasa, kelompok yang didalamnya terjadi kasus pendomplengan, pasti mangalami keguncangan. Karena sudah bisa dipastikan sang pendompleng akan mengalami kesulitan dalam membayar. Ibaratnya kemampuan sang pendompleng sudah besar pasak daripada tiang. Akibatnyapun sudah bisa ditebak yaitu TR berkelanjutan. Disaat seperti itulah kasusnya akan mulai terungkap karena sudah membebani seluruh anggota dalam kelompok. Masalah dengan pola inilah yang membelit kelompok 291.</p>
<p>Dalam kasus kelompok 291 ini modusnya, PJ waktu itu memanfaatkan data konfirmasi. Dari konfirmasi, PJ tersebut bisa memperkirakan siapa saja anggota yang sudah memenuhi syarat mengajukan SPP. Mereka inilah yang kemudian didekati sebelum hari pertemuan kelompok dilangsungkan. Sehingga saat musyawarah pengajuan pinjaman, sudah ada satu kata antara si peminjam dan si pendompleng.</p>
<p>Sungkan, kasihan itulah alasan anggota yang didomplengi. Sehingga mereka menyetujui memberikan sebagian atau seluruhnya dari pinjaman mereka. Dalam kasus demikian, diperparah oleh kualitas musyawarah yang rendah. PJ yang saat itu berkepentingan mendompleng tentu akan berupaya agar pengajuan berjalan mulus dengan mendominasi keputusan. Sementara anggota lainnya tidak terbuka dan asal setuju saja.</p>
<p>Penyesalan memang datangnya belakangan dan waktu tidak mungkin bisa diputar ulang. Begitu pula dengan kelompok 291 yang harus melakukan TR untuk menyelesaikan permasalahannya. Pada Juli lalu PJ yang bermasalah tersebut dikeluarkan dari keanggotaan. Sebagai konsekuensinya, semua tanggung jawabnya kepada Kopwan SBW diambil alih kelompok dengan cara klop-klopan. Sisa pinjamannya ditutup dengan total simpanannya di Kopwan SBW dan sisanya menjadi tanggung jawab bersama seluruh anggota dalam kelompok.</p>
<p>Tentu saja pinjaman yang di TR tersebut adalah pinjaman atas nama mantan PJ tersebut. Karena pinjaman itulah yang disetujui oleh anggota kelompok dengan proses musyawarah dan telah dibuktikan dengan tanda tangan seluruh anggota. Sehingga senilai itu pula yang menjadi tanggung jawab anggota dalam kelompok.</p>
<p>Lalu bagaimana dengan pinjaman mantan PJ dari mendompleng. Tentu saja pinjaman tersebut sifatnya adalah pinjaman pribadi antara yang didomplengi dan yang mendompleng. Sehingga bukan menjadi tanggung jawab seluruh anggota dalam kelompok. Karena yang dimusyawarahkan dan disetujui adalah atas nama anggota yang mengajukan SPP. Perkara setelah mendapat pinjaman dari SBW kemudian dipinjamkan lagi pada yang lain, itu merupakan urusan dan tanggung jawabnya pribadi. Tentu saja hal tersebut tidak terkait dengan kelompok dan koperasinya.</p>
<p>Kendati masalah pendomplengan adalah masalah pinjaman antar pribadi, tapi Kopwan SBW dengan tegas melarangnya. Hal itu dilakukan sebagai bentuk perlindungan pada hak-hak anggota maupun kelompok dari akibat prilaku tersebut. Sedang bentuknya adalah mekanisme musyawarah yang dilandasi dengan kejujuran dan keterbukaan.</p>
<p>“Tadi saya mengamati musyawarahnya kok setuju-setuju saja. Ya.. mudah-mudahan kata setujunya tadi karena memang didasari dengan data bahwa anggota yang mengajukan SPP, konditenya baik dan layak dipercaya. Jadi bukan asal setuju. Sehingga masalah yang membelit kelompok ini tidak terulang lagi,” tandas Ibu Chandra, Ketua I Kopwan SBW saat memberi pengarahan pada pertemuan kelompok 291, Desember lalu.</p>
<p>Pertemuan kelompok 291 pada Desember lalu memang menjadi pertemuan istimewa. Karena pada bulan itulah, kelompok ini telah terbebas dari masalah TR. Walaupun tabungan kelompok sebesar Rp7juta telah amblas untuk menutup TR bahkan masih ditambah dengan TR spontanitas. Memang itulah yang harus dibayar oleh kelompok ini akibat dari ketidak terbukaan dan ketidak jujuran dari anggotanya. Sehingga keputusan dari hasil musyawarah beresiko tinggi.</p>
<p>Hampir enam bulan, konsekuensi tersebut dijalani kelompok yang kini beranggotakan 23 ibu. Sebagai rasa syukur sudah terlepas dari masalah, merekapun <em>selamatan bubur abang</em>. Kini dibawah koordinasi Ibu Budi Ekowati selaku PJ I, kelompok ini diharapkan bisa berjalan lebih baik dan mensejahterakan anggotanya. “Pinjaman harus dipakai sendiri, wis kapok didomplengi” itulah ikrar mereka.</p>
<p>Tapi tentu saja harapan dan ikrar tersebut hanya akan menjadi pepesan kosong, bila system tanggung renteng tidak dijalankan secara benar dan menjadi komitmen bersama. Begitu pula dengan aturan-aturan kelompok yang telah disepakati akan tidak berarti bila tidak dijalankan. Kelompok ini mempunyai aturan, bila tidak hadir 3 kali secara berturut-turut, SPPnya akan ditangguhkan selama 1 bulan. Kemudian, bila melakukan 1 kali TR, pinjamannya akan diturunkan sesuai dengan hasil musyawarah.  (gt)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/bubur-abang-tr-kelompok-291.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Wacana Pengembangan Usaha Baru</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/wacana-pengembangan-usaha-baru.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/wacana-pengembangan-usaha-baru.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 24 Dec 2011 06:28:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=720</guid>
		<description><![CDATA[Rapat Anggota membahas Rancangan RK-RAPB 2012 kali ini telah memunculkan wacana tentang usaha baru Kopwan SBW.  Bagaimana pembahasan rancangan menjadi keputusan dalam RA yang diselenggarakan 20 Desember lalu ? berikut liputan bulletin SBW.
  Dalam proses persidangan awal semua berjalan lancar dan relatif lebih cepat. Tata tertib sidang dan jadwal Rapat Anggota disepakati untuk tidak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2012/01/Saji-1a-web.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-721" title="Saji 1a web" src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2012/01/Saji-1a-web-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Rapat Anggota membahas Rancangan RK-RAPB 2012 kali ini telah memunculkan wacana tentang usaha baru Kopwan SBW.  Bagaimana pembahasan rancangan menjadi keputusan dalam RA yang diselenggarakan 20 Desember lalu ? berikut liputan bulletin SBW.<span id="more-720"></span></em></p>
<p><em> </em> Dalam proses persidangan awal semua berjalan lancar dan relatif lebih cepat. Tata tertib sidang dan jadwal Rapat Anggota disepakati untuk tidak dibacakan. Koreksi terhadap 2 agenda itupun tidak ada. Sehingga palupun diketok sebagai tanda sepakat dan disetujui tanpa koreksi walau tanpa dibacakan. Acarapun terus berlanjut sampai pada paparan Rancangan RK-RAPB tahun 2012 yang disampaikan oleh Ibu Sadjim, Ketua Kopwan SBW.</p>
<p>Menginjak pandangan umum, agendanyapun disepakati 3 termin yaitu pembacaan dan tanggapan pengurus dan pengawas atas berita acara. Kemudian dilanjut pada tanya jawab yang disepakati pada masing-masing termin ada 2 penanya. Dalam pandangan umum ini, nampaknya  ada beberapa masalah yang cukup menyita waktu dan perhatian anggota. Hal tersebut adalah perubahan SHU, masalah karyawisata, fasilitas pinjaman baru dan penjualan inventaris.</p>
<p>Diantara  masalah tersebut, yang menjadi tarik ulur antara anggota dan pengurus adalah masalah karyawisata dan penjualan inventaris. Untuk karyawisata, nampaknya anggota masih terpaku pada hasil temu wicara utamanya terkait dengan peserta. Dalam resume temu wicara disebutkan bahwa peserta mengunakan prosentase jumlah anggota dalam kelompok. Untuk kelompok beranggotakan 15 orang berhak ikut 1 orang, kelompok beranggotakan 30 orang berhak ikut 2 orang dan seterusnya.</p>
<p>Namun dalam rencana RK-RAPB ditetapkan untuk memberangkatkan 1 kelompok 1 orang. Hal ini berdasarkan ketersediaan anggaran. Dari perhitungan yang telah dilakukan Pengurus, dana pendidikan yang tersedia untuk karyawisata anggota sebesar Rp489.686.702,-. Sedang pilihan tujuan yang dikehendaki anggota adalah Bandung atau Jakarta. Padahal untuk ke Bandung dibutuhkan biaya Rp 515.700.000,- untuk 382 peserta. Sehingga kekurangan dana sebesar Rp. 26.013.297,- Sedang kalau ke Jakarta butuh dana Rp 802.200.000,- sehingga kekurangannya sebesar Rp. 312.513.297<strong><em>,-</em></strong></p>
<p>Dari paparan tersebut, anggota bisa menerima dan sepakat dengan pilihan tujuan ke Bandung. Tapi dalam sesi tanya jawab, Ibu Yuni (klp170) kembali mempersoalkan hal tersebut. “Ibu Pengurus kami kecewa. Karena dalam temu wicara telah ditetapkan system perwakilan. Artinya setiap kelompok bisa ikut lebih dari satu bergantung pada jumlah anggotanya. Soal kekurangan dana, nantikan pengurus bisa mencarikannya dari alokasi anggaran apa, itu terserah,” tukasnya.</p>
<p>Menanggapi pertanyaan tersebut, pengurus kembali memaparkan masalah alokasi anggaran yang bisa digunakan untuk karyawisata anggota. “Kalau 1 kelompok 1 orang yang ikut saja, anggarannya sudah kurang apalagi bila lebih dari satu. Memang kalau dipaksakan bisa saja tapi itu akan mengurangi SHU yang akan diterima anggota. Kita inginnya kalau bisa semua anggota bisa ikut, tapi kemampuan koperasi jelas tidak memungkinkan,” ungkap Ibu Chandra, Wakil Ketua I bidang usaha dan keuangan.</p>
<p>“Ibu … yang namanya hasil temu wicara itu bukan keputusan tapi sifatnya adalah masukan untuk menyusun rancangan RK-RAPB. Sedang keputusannya ya… di Rapat Anggota. Dari masukan anggota itu, kita melakukan penghitungan dengan cermat dengan berbagai alternatif. Hasilnya seperti dipaparkan tadi,” tambah Ibu Sadjim.</p>
<p>Setelah memberikan gambaran, pengurus kembali mengembalikan pada peserta Rapat Anggota untuk mengambil keputusan. Akhirnya anggotapun sepakat seperti keputusan awal yaitu 1 kelompok 1 orang yang ikut karya wisata dengan tujuan Bandung.  Tarik ulur juga terjadi ketika menentukan tentang uang saku. Tapi kemudian anggota sepakat untuk uang saku ditiadakan dan sebagai gantinya akan mendapat pinjaman sebesar Rp2 juta yang diangsur 20 kali.</p>
<p><strong>Wacana </strong></p>
<p>Pada Rancangan RK-RAPB 2012, Kopwan SBW telah merencanakan untuk membuka usaha baru. Diantaranya adalah biro travel, tapi untuk tahap awal ini yang digarap masih sebatas usaha ticketing. Kemudian juga ada rencana usaha perumahan untuk anggota dan karyawan. Tapi dalam tahap awal inipun, pengerjaanya masih dalam batas pembiayaan. Karena semuanya masih dalam penjajakan untuk pengembangannya.</p>
<p>Terkait dengan pembukaan usaha baru ini, juga disarankan oleh Ibu Tarigan. Dalam sambutannya  Ketua Puskowanjati ini memberikan wacana tentang pembukaan rumah sakit ataupun apotik. Karena kedua usaha ini jelas dibutuhkan oleh anggota maupun masyarakat dan kedepan prospeknya bagus. “Kalau kita ke apotik, berapapun harga obat yang ditawarkan, kita tidak pernah bisa menolaknya. Kenapa SBW tidak membuka usaha ini untuk melayani anggota dengan harga yang wajar,” tukasnya.</p>
<p>Wacana usaha baru juga disampaikan Bp. Fattah Jasin, Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Timur saat memberi sambutan. Dikatakannya dengan system tanggung renteng yang diterapkan, Kopwan SBW akan mampu berkembang dengan berbagai usahanya. “Kalau hanya membuka apotik saja bukan hal sulit bagi SBW. Bahkan kalau mau buka usaha real estate atau pom bensin sekalipun tidak masalah. Jadi tinggal kesepakatan anggota saja. Karena SBW punya kemampuan untuk itu. Untuk pengembangan swalayan yang sudah ada, perlu dipertimbangkan  Kopwan SBW untuk menjalin kerjasama dengan Asosiasi Koperasi Retail Indonesia (ASKI),” sarannya.</p>
<p>Diharapkannya pula, SBW tidak puas dengan apa yang telah dicapai dalam 33 tahun ini. Karena kedepan persaingan usaha semakin ketat.  Untuk itu SBW harus tanggap terhadap perubahan demi pengembangan kedepan. Hal sama juga disampaikan Bp Sukamto, Ketua IV Dekopinwil. Menurutnya koperasi harus siap menghadapi globalisasi yang mengusung liberalisasi dan kapitalisasi. Namun apapun usaha yang dikembangkan oleh koperasi, diharapkan tidak meninggalkan jatidirinya sebagai koperasi. Jatidiri juga harus menjadi landasan dalam setiap penyusunan RK-RAPB. (gt)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/wacana-pengembangan-usaha-baru.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Arti Sebuah Kebersamaan Ditengah Musibah</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/arti-sebuah-kebersamaan-ditengah-musibah.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/arti-sebuah-kebersamaan-ditengah-musibah.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 19 Dec 2011 07:00:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seputar SBW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=732</guid>
		<description><![CDATA[Satu lidi tentu tidak bisa digunakan untuk menyapu lantai. Tapi begitu lidi-lidi itu digabungkan dan diikat menjadi sebuah sapu, manfaatnya sebagai alat pembersih lantai sangat bisa dirasakan. Hal ini pula yang dirasakan Ibu Indah (klp 45) korban kebakaran. 
Tak terlintas dalam pikiran Ibu Indah, kalau asap hitam yang mengepul dikawasan Kalianyar itu sebagai pertanda jago [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8864-web.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-733" title="IMG_8864 web" src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2012/01/IMG_8864-web-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Satu lidi tentu tidak bisa digunakan untuk menyapu lantai. Tapi begitu lidi-lidi itu digabungkan dan diikat menjadi sebuah sapu, manfaatnya sebagai alat pembersih lantai sangat bisa dirasakan. Hal ini pula yang dirasakan Ibu Indah (klp 45) korban kebakaran. <span id="more-732"></span></em></p>
<p>Tak terlintas dalam pikiran Ibu Indah, kalau asap hitam yang mengepul dikawasan Kalianyar itu sebagai pertanda jago merah telah melibas kampungnya. Walaupun ia juga sudah mendengar kabar bahwa kebakaran pada<em> 28 Oktober </em>itu terjadi di Kalianyar. Perkiraannya justru yang terbakar adalah gedung atau perusahaan yang ada di Kalianyar. Itulah sebabnya ia tetap melanjutkan pekerjaannya yang berlokasi di Jl. Singoyudan.</p>
<p>Tapi ketika pulang kerja sekitar pukul 4 sore, ia begitu terkejut melihat keramaian akibat kebakaran itu justru berada di ujung gang tempat tinggalnya. Dia semakin shock, setelah melihat sendiri bahwa yang terbakar adalah rumah-rumah di belakang balai RW Kalianyar Wetan. Karena memang, rumahnya berada tepat dibelakang balai RW itu. Tapi ia tidak bisa berbuat apa-apa, karena api sudah terlalu besar dan melahap semuanya. Sehingga tidak ada yang bisa diselamatkan.</p>
<p>“Waktu itu saya mau nekat masuk untuk bisa menyelamatkan barang-barang yang tersisa. Tapi oleh kakak saya digandoli, karena memang sudah tidak mungkin masuk. Api terlalu besar dan merambat dengan cepat. Sehingga tidak ada satupun barang yang bisa diselamatkan,” tutur Ibu Indah mengenang kejadian yang begitu menegangkan saat itu.</p>
<p>Akibat dari kebakaran itu, rumah tiga lantai milik Ibu Indah ludes isinya. Memang sepintas rumah diatas tanah sekitar 3 X 3 m itu seperti masih utuh. Bahkan kondisi pintu di lantai satu seperti tidak tersentuh api. Tapi lantai 2 dan 3 yang sekaligus berfungsi sebagai kamar, kondisinya hangus. Bahkan tembok dibagian belakang sampai jebol. Sehingga semua barang yang ada di dua kamar tersebut hangus.</p>
<p>“Rumah saya itu, yang lantai bawah untuk dapur. Sedang lantai 2 ditempati kakak dan ibu mertua saya. Saya dan suami menempati lantai 3. Kalau barang-barang yang ada didapur masih ada yang bisa dipakai. Tapi itupun akhirnya ada yang mencurinya. Kompor misalnya yang masih bisa dipakai itu juga hilang. Sedang di lantai 2 dan 3 semuanya habis. Termasuk surat-surat penting seperti surat nikah juga ikut hangus,” papar Ibu Indah.</p>
<p>Dengan demikian, keluarga Ibu Indah memulai kehidupannya seperti dari nol lagi. Balai RW saat itu difungsikan sebagai tempat pengungsian bagi warga yang rumahnya habis terbakar. Termasuk keluarga Ibu Indah.  Untungnya menurut Ibu Indah, banyak pihak yang memberi perhatian. Diantaranya datang untuk memberi bantuan. Termasuk ibu-ibu pengurus Kopwan SBW yang datang menjenguknya.</p>
<p>“Saya sangat berterimakasih atas perhatian ibu-ibu pengurus SBW. Saya juga sangat terharu atas perhatian seluruh anggota SBW pada kami. Saya tidak menyangka kalau akan mendapat bantuan begitu besar dari SBW. Dan disinilah saya merasa begitu besar manfaatnya menjadi anggota Kopwan SBW,” tukas Ibu Indah menahan haru dengan mata berkaca-kaca.</p>
<p>Memang Ibu Indah telah mendapat kabar dari Ibu Taji selaku PJ dikelompoknya bahwa dia akan mendapat bantuan dari SBW. Tapi dia tidak menyangka kalau bantuan yang akan diterima cukup besar baginya. Total bantuan yang diterima Rp29,3 juta dengan rincian dari dana sosial sebesar Rp3 juta dan partisipasi anggota baik melalui kelompok maupun kotak sumbangan dikantor SBW terkumpul sebesar Rp26,3 juta. Bantuan tersebut diserahkan pada 29 Nopember oleh Ibu Rina, Bendahara I dan didampingi Ibu Esti dan Ibu Yusi selaku pengawas.</p>
<p>“Alhamdulillah…. saya betul-betul tidak bisa membayangkan sebelumnya kalau akan menerima bantuan sebesar itu. Bos ditempat kerja saya saja cuma bisa ngomong sabar tapi tetap marah-marah sewaktu saya masih belum bisa masuk kerja. Sekali lagi saya menyampaikan terimakasih pada seluruh anggota SBW,” pintanya.</p>
<p>Begitulah arti sebuah keluarga besar yang tidak tanggung-tanggung jumlahnya kini mencapai 11 ribu anggota lebih. Suatu yang kecil tapi terkumpul dari 11 ribu anggota, tentu menjadi sebuah kekuatan besar. Itulah kebersamaan yang telah terpupuk dalam keluarga besar Kopwan SBW. Semua itu menjadi lebih mudah karena sudah tertata dalam sebuah system.</p>
<p>Setiap kali ada anggota yang mengalami musibah bisa langsung disampaikan pada anggota melalui kelompok. Sehingga bentuk kepedulianpun bisa terhimpun dengan cepat. Seperti juga ketika ada anggota yang meninggal, hal itupun bisa langsung tersampaikan pada anggota lainnya melalui kelompok. Walaupun setiap anggota hanya membantu Rp200,- untuk setiap anggota yang meninggal, tapi karena terkumpul dari 11 ribu anggota maka hasilnyapun bisa dirasakan. Apalagi juga ditambah dari dana sosial. Begitulah indahnya kebersamaan, persoalan berat menjadi ringan karena menjadi kepedulian bersama. (gt)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/arti-sebuah-kebersamaan-ditengah-musibah.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Klp 513 Memperkuat Kebersamaan Dengan Rekreasi</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/klp-513-memperkuat-kebersamaan-dengan-rekreasi.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/klp-513-memperkuat-kebersamaan-dengan-rekreasi.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 15 Dec 2011 06:48:14 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dinamika Kelompok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=728</guid>
		<description><![CDATA[Beragam cara dilakukan kelompok untuk memperkuat kebersamaan diantara anggotanya. Seperti kelompok 513 yang menyelenggarakan rekreasi bersama pada Nopember lalu. Kegiatan tersebut juga diselenggarakan dalam rangka peringatan HUT kelompok yang ke 7.
Tanpa terasa, tujuh tahun sudah kelompok 513 menapaki perjalanan sebagai anggota Kopwan SBW. Entah sudah berapa banyak cerita dibalik perjalanan tersebut. Tapi yang jelas sejak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2012/01/klp-513-web.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-729" title="klp 513 web" src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2012/01/klp-513-web-300x198.jpg" alt="" width="300" height="198" /></a>Beragam cara dilakukan kelompok untuk memperkuat kebersamaan diantara anggotanya. Seperti kelompok 513 yang menyelenggarakan rekreasi bersama pada Nopember lalu. Kegiatan tersebut juga diselenggarakan dalam rangka peringatan HUT kelompok yang ke 7.<span id="more-728"></span></em></p>
<p>Tanpa terasa, tujuh tahun sudah kelompok 513 menapaki perjalanan sebagai anggota Kopwan SBW. Entah sudah berapa banyak cerita dibalik perjalanan tersebut. Tapi yang jelas sejak dibentuk pada 5 Nopember tujuh tahun lalu, belum sekalipun terjadi TR. Itulah buah dari kedisiplinan dan rasa tanggung jawab dari masing-masing anggotanya. Setiap anggota kelompok 513 mampu menjaga kepercayaan yang diberikan kepadanya.</p>
<p>Tentu saja kondisi kelompok yang demikian itu ingin terus dipertahankan oleh anggotanya. Diantaranya dengan mengadakan rekreasi bersama agar rasa kebersamaan diantara anggota semakin kuat. Acara inipun telah dirancang sejak Juni lalu. Untuk pembiayaan misalnya, mereka telah sepakat setiap anggota menabung Rp25 ribu setiap bulannya sejak bulan Juni. Sedang kekurangannya, disepakati mengambil tabungan kelompok yang selama 7 tahun belum pernah digunakan.</p>
<p>Hari yang dinanti-nantikan itupun tiba, Sabtu, 19 Nopember pagi, anggota kelompok 513 berkumpul di rumah Ibu Ratna Suminar, PJ I. Sayang pada kegiatan yang diadakan dalam rangka peringatan HUT kelompok itu, tidak semua anggota bisa ikut. Karena ada kesibukan lain yang tidak bisa ditinggalkan. Sehingga dari 31 anggota, yang ikut hanya 19 orang. Kendati demikian, hal tersebut tidak mengurangi kegembiraan selama perjalanan menuju Pandaan.</p>
<p>Seakan tidak ingin menyia-nyiakan waktu, selama perjalanan mereka bercanda ria. Suasana dalam bus juga semakin heboh karena panitia menyediakan doorprice bagi yang bisa menjawab kuis. Tak ketinggalan makananpun terus mengalir. Semua membuka bekal dan saling berbagi. “Kami bisa tertawa lepas dan bercanda sepuasnya. Seakan lupa kalau sebagian dari kita sudah nenek-nenek. Suasana seperti inilah yang jarang dirasakan karena kesibukan,” celetuk salah satu anggota.</p>
<p>Tanpa terasa rombonganpun sampai di Pabrik Tekstil Kasri – Pandaan sebagai tujuan wisata pertama. Selama 1 jam ditempat ini, anggota seakan memuaskan hasrat berbelanja. Apalagi anggota yang mempunyai toko, tidak menyia-nyiakan untuk kulakan. Merekapun langsung menyerbu showroom yang menyediakan beragam ukuran handuk, keset, selimut dengan aneka coraknya. Harganyapun lebih murah dari yang dijual di pasaran.</p>
<p>Setelah puas berbelanja, perjalananpun dilanjutkan ke Bhakti Alam yang ada di Desa Ngembal – Nongkojajar. Ditempat wisata alam dan perkebunan ini, rombongan kelompok 513 disambut kereta kelinci setelah membayar tiket masuk Rp25 ribu per orang. Merekapun diantar keliling area perkebunan. Sepanjang perjalanan yang ditemani seorang pemandu, mereka bisa menikmati pemandangan perkebunan durian, jambu, belimbing, kelengkeng, sayur-mayur, strowbery dan melon. Sayang waktu itu duriannya masih belum bisa dipanen.</p>
<p>Sampai dikebun melon, rombongan berhenti sejenak untuk mencicipi manisnya buah melon. Kesempatan itupun tak disia-siakan untuk berfoto-foto. Puas berkeliling, rombongan diantar ke penjual buah untuk memberi kesempatan berbelanja oleh-oleh. Sekali lagi, ditempat ini, rombongan kembali mendapat hidangan minuman juice rasa jeruk dan semangka. Uuuh… segarnya, begitulah komentar mereka setelah meneguk juice.</p>
<p>Udara yang sejuk dan tenaga terkuras setelah berkeliling, perutpun mulai keroncongan. Setelah sholat duhur, rombonganpun menyantap hidangan makan siang yang telah disiapkan. Sayur asem, urap-urap, tempe goreng, tahu goreng, ikan asin, ayam panggang bumbu rujak tak ketinggalan sambal pencit terasa semakin nikmat.</p>
<p>Setelah rehat sejenak, rombonganpun mulai berkemas untuk pulang karena sudah pukul 2 siang. Tapi sebelum pulang, rombongan mendapat kenang-kenangan berupa susu yang telah diolah dengan berbagai rasa seperti coklat, strawberry dan melon hasil dari peternakan sapi perah.</p>
<p>Dalam perjalanan pulang, ternyata bus semakin sesak karena ruangan tersita oleh-oleh. Kendati demikian, keceriaan tetap mewarnai perjalanan walau sudah lelah. Memang tubuh boleh lelah, tapi jiwa semakin fresh dengan aneka kesan. Semua itu semakin memperkuat kebersamaan diantara mereka. Tak mengherankan bila diantara mereka kemudian ada kasak-kusuk untuk merencanakan acara serupa ditahun mendatang. Selamat ulang tahun kelompok 513, semoga semakin kompak dan bisa menghantarkan anggotanya menuju kesejahteraan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/klp-513-memperkuat-kebersamaan-dengan-rekreasi.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>PJ Belajar Komunikasi Efektif</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/pj-belajar-komunikasi-efektif.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/pj-belajar-komunikasi-efektif.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 01 Dec 2011 06:43:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seputar SBW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=724</guid>
		<description><![CDATA[Komunikasi merupakan unsur terpenting dalam kehidupan. Tak terkecuali dalam kelompok. Terkait dengan hal itu, pada 22-23 Nopember digelar pelatihan untuk PJ dengan mengusung tema membangun komunikasi efektif dalam kelompok.
Dapatkan informasi dari sumbernya langsung. Begitulah yang ingin disampaikan instruktur dari Lapenkopnas dalam pelatihan untuk PJ Kopwan SBW. Pesan inipun dibuktikan dengan “game pesan berantai” yang dimainkan [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2012/01/Plt-Komunikasi-2-web.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-725" title="Plt Komunikasi 2 web" src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2012/01/Plt-Komunikasi-2-web-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Komunikasi merupakan unsur terpenting dalam kehidupan. Tak terkecuali dalam kelompok. Terkait dengan hal itu, pada 22-23 Nopember digelar pelatihan untuk PJ dengan mengusung tema membangun komunikasi efektif dalam kelompok.<span id="more-724"></span></em></p>
<p>Dapatkan informasi dari sumbernya langsung. Begitulah yang ingin disampaikan instruktur dari Lapenkopnas dalam pelatihan untuk PJ Kopwan SBW. Pesan inipun dibuktikan dengan “<em>game pesan berantai”</em> yang dimainkan oleh peserta pelatihan. Dari game itu ditunjukan bagaimana sebuah informasi bisa berubah. Semakin panjang jalur yang dilalui maka semakin besar perubahan yang terjadi. Perubahan itu bisa berupa pengurangan atau penambahan sehingga merubah arti dan makna informasi awal. Dalam ilmu komunikasi diistilahkan dengan distorsi pesan.</p>
<p>Selain itu, peserta juga diajak memainkan kartu karakter. Dalam hal ini setiap peserta diminta memilih salah satu kartu yang sesuai dengan karakternya. Kemudian mereka diminta untuk mengkomunikasikan karakter tersebut kepada peserta lainnya didalam sebuah kelompok. Dari permainan itu, nampak sekali bagaimana pola komunikasi masing-masing peserta. Ada yang tegang tapi ada juga yang terlihat santai bahkan ada yang diselingi tawa. Anggota tubuh merekapun ikut menunjang cara mereka berkomunikasi. Mulai dari tatapan mata hingga gerak tangan dan tubuh mereka. Tapi ada juga yang nampak duduk kaku sambil malu-malu dengan suara yang lirih.</p>
<p>Dari berbagai gaya berkomunikasi pada permainan tersebut,  kemudian dijadikan bahan untuk menjelaskan tentang efektifitas sebuah proses komunikasi. Diantaranya disampaikan bahwa seorang pembicara juga harus bisa menjadi pendengar yang baik. Tidak ngomong sendiri tanpa peduli orang tertarik atau tidak, tanpa peduli orang mau mendengarkan atau tidak. Dalam hal ini Bp Arifudin mengunakan beberapa istilah untuk menghindari kegagalan komunikasi. Hal-hal yang harus dihindari tersebut diistilahkan dengan KURUS: kurang focus, KUDIS: kurang disiplin, KUSAM: kurang kerjasama, KUPER: kurang persiapan, KUALAT: kurang berlatih, KUSTA: kurang strategi, KUTIL: kurang teliti, KURAP: kurang rapi, KUNO: kurang inovatif.</p>
<p>Disamping itu sebagai komunikator yang baik harus punya kesiapan, kesungguhan, ketulusan, percaya diri, ketenangan, keramahan, kesederhanaan, cakrawala luas, rasa ingin tahu, antusiasme, empati dan mempunyai gaya bicara sendiri. Hal inilah yang seharusnya dimiliki oleh seorang PJ agar komunikasi dalam kelompok lebih dinamis dan membawa rasa nyaman bagi anggotanya.</p>
<p>Pada kesempatan tersebut instruktur juga menyampaikan tentang penyebab komunikasi yang tidak efektif. Diantaranya disebabkan oleh pembicaraan yang bertele-tele dan tidak jelas apa yang ingin disampaikan. Apalagi bila sipembicara tidak percaya diri dan menyampaikan pesan dengan malu-malu. Sebaliknya komunikasi juga tidak efektif bila pesan yang disampaikan dengan cara tidak simpatik misalnya dengan marah-marah. Komunikasi juga menjadi tidak efektif  bila berlangsung satu arah sehingga tidak terjadi interaksi aktif antara komunikator dan komunikan. Kalau di kelompok adalah interaksi antara PJ dan anggotanya.</p>
<p>Pelatihan yang diikuti 379 PJ ini dibagi menjadi 8 kelas. Setiap hari digelar 4 kelas yang dibagi kelas pagi dan kelas siang dan berlangsung mulai 22-23 Nopember. Sedang untuk instrukturnya diambil dari Lapenkop Nasional yaitu Bp Arifudin, Bp Irawan dan Bp Priyatna. Dengan pelatihan ini diharapkan agar PJ mampu melakukan komunikasi yang efektif dikelompok. Sehingga kelompoknya bisa berkembang lebih dinamis dan nyaman bagi anggotanya.</p>
<p>Pelatihan dengan instruktur dari Lapenkop Nasional ini berlanjut pada 24 Nopember, yang diikuiti Pengurus, Pengawas dan PPL. Sedang tema yang diangkat, Mind Mapping dengan instruktur  Bp Arifuddin. Dalam pelatihan ini diawali dengan pengenalan cara kerja otak. Dengan mengetahui hal itu, diharapkan akan muncul kemampuan untuk memaksimalkan kerja otak. Diantaranya bagaimana memenej otak  dengan mind mapping (peta pikiran).</p>
<p>Pada kesempatan tersebut, Bp Arifuddin mencontohkan bagaimana membuat mind mapping. Dijelasakan dalam pembuatan mind mapping ini dimulai dari idea atau masalah pokok yang digambar ditengah kertas. Kemudian dari tengah tersebut dikembangkan dengan membuat cabang kekanan dan kekiri yang merupakan cabang pemikiran. Sehingga dari gambar atau peta tersebut, bisa dilihat semua permasalahan hanya dengan melihat sepintas. Dengan mind mapping ini akan sangat membantu dalam pembuatan perencanaan dan pengambilan keputusan. Waktupun menjadi lebih efesien dan bisa lebih kreatif dalam penyelesaian. (gt)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/pj-belajar-komunikasi-efektif.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Klp 342 Merajut Kebersamaan Yang Terkoyak</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/klp-342-merajut-kebersamaan-yang-terkoyak.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/klp-342-merajut-kebersamaan-yang-terkoyak.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 31 Oct 2011 07:34:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dinamika Kelompok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=716</guid>
		<description><![CDATA[Kebersamaan memang nikmat dan indah. Bahkan dengan kebersamaan banyak persoalan akan lebih mudah untuk diselesaikan. Sebaliknya bila kebersamaan terkoyak akan pahit rasanya dan banyak pengorbanan yang dibutuhkan untuk merajutnya kembali. Inilah pengalaman kelompok 342.
Sistem tanggung renteng merupakan alat teraphy bagi sikap dan perilaku anggota dalam sebuah kelompok. Tentu saja teraphy ini akan berhasil bila mekanisme [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2011/10/din-kelomp.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-717" title="din kelomp" src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2011/10/din-kelomp-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a></em><em>Kebersamaan memang nikmat dan indah. Bahkan dengan kebersamaan banyak persoalan akan lebih mudah untuk diselesaikan. Sebaliknya bila kebersamaan terkoyak akan pahit rasanya dan banyak pengorbanan yang dibutuhkan untuk merajutnya kembali. Inilah pengalaman kelompok 342.<span id="more-716"></span></em></p>
<p>Sistem tanggung renteng merupakan alat teraphy bagi sikap dan perilaku anggota dalam sebuah kelompok. Tentu saja teraphy ini akan berhasil bila mekanisme dalam system ini dijalankan secara konsisten. Indikator dari keberhasilan tersebut adalah semakin meningkatnya kedisiplinan, rasa tanggung jawab dan saling percaya dari setiap anggotanya. Semua itu merupakan unsur untuk merajut kebersamaan dalam sebuah kelompok.</p>
<p>Seperti terjadi pada kelompok 342 yang baru lepas dari lilitan masalah. Kini kelompok 342 mencoba bangkit kembali untuk merajut kebersamaan yang sudah terkoyak akibat ulah anggota-anggotanya. Pengorbanan, jelas dibutuhkan dalam pemulihan tersebut. Setidaknya, anggota kelompok ini harus rela menanggung TR sebesar Rp 22 juta. Artinya, setiap bulan setiap anggota harus mengeluarkan dana ekstra untuk membayar TR. Hal tersebut memang harus dilakukan sebagai bentuk tanggung jawab atas keputusan yang telah diambil. Karena setiap pinjaman yang dikeluarkan merupakan hasil persetujuan seluruh anggota.</p>
<p>Tekat untuk bangkit, tentu tidak cukup kalau hanya diwujudkan dengan kerelaan menanggung TR saja. Karena kalau hanya itu, bukan tidak mungkin permasalahan akan membelit kembali dilain waktu. Kini system tanggung renteng sebagai alat teraphy diterapakan secara konsisten dan kosekuen dibawah bimbingan PPL. Hal tersebut dimulai dengan semangat keterbukaan dari PJ yang kemudian disambut dengan partisipasi aktif dari seluruh anggotanya.</p>
<p>Seperti pada pertemuan September lalu. Setiap anggota mendapat copy tagihan untuk mengetahui berapa kewajiban yang sudah terbayar dan berapa kewajiban pada bulan itu yang harus dibayar. Dengan demikian setiap anggota akan bisa mengontrol aliran uang dari anggota pada kelompok sampai kekoperasi dan sebaliknya. Kontrolpun bisa terus dilakukan secara berkelanjutan karena masing-masing anggota punya kitir sebagai dokumen pembayaran.</p>
<p>Hal sama juga dilakukan saat pembagian SHU. Setiap anggota mendapat daftar yang berisi besaran SHU yang diterima masing-masing anggota. Daftar SHU tersebut dimasukan pada amplop berserta uang SHU yang diterima. Sehingga masing-masing anggota bisa mengontrol antara yang tertera dengan yang diterima. “Dulu semuanya tertutup dan hanya PJ yang tahu. Bahkan SHU yang diterima anggota banyak mendapat potongan. Makanya sejak keterbukaan yang dilakukan oleh PJ yang baru dengan pola tersebut, ada anggota yang sempat kaget. Karena SHU yang diterima ternyata cukup besar,” tukas Ibu Cut Zasmiaty, PPL pendamping kelompok 342.</p>
<p>Tidak hanya itu, dibawah koordinasi Ibu Nita, PJ I dan Ibu Wiwik, PJ II, proses musyawarahpun tidak sekedar seremonial. Setiap anggota yang SPP diwajibkan menulis dan membacakan sendiri dihadapan anggota yang lain. Sementara anggota yang lain mencermati apa yang disampaikan. Sehingga keputusan tidak hanya asal setuju. Karena semua anggota telah menyadari betapa pahitnya akibat asal setuju dan ketidak beranian menyampaikan pendapat.</p>
<p>Tentu saja, musyawarah tidak hanya dilakukan saat pengajuan SPP tapi juga dalam penerimaan anggota baru, pengunduran diri dan penyelesaian masalah seperti TR. Berbeda dengan kondisi dibawah PJ sebelumnya. Pengunduran diri tidak pernah disampaikan secara terbuka dalam musyawarah. Tak mengherankan bila kasus penggunaan nama anggota yang sudah keluar untuk pinjam juga bisa terjadi. Apalagi ditunjang dengan musyawarah yang lebih banyak didominasi oleh PJ, maka loloslah pinjaman tersebut. KTA semua anggota juga dibawa oleh PJ sehingga lebih memudahkannya untuk mencairkan pinjaman. Pendomplenganpun merajalela.</p>
<p>“Dibawah PJ yang lama, anggota selalu dibayang-bayangi ketakutan. Sehingga tidak berani menyampaikan pendapat. Anggota yang berani akan dimusuhi dan dipersulit kalau mengajukan pinjaman. Biasanya anggota hanya bisa berkasak-kusuk dengan teman disebelahnya. Atau membicarakannya diluar pertemuan kelompok. Pendek kata anggota itu dibuat seperti tidak tahu apa-apa dan sangat bergantung pada PJ. Semua pekerjaan mulai dari pengisian SPP, kitir bahkan penghitungan plafon, hanya PJ yang tahu. Daftar tagihan kita juga tidak pernah tahu apalagi SHU. Pokoknya semua apa kata PJ,” papar salah satu anggota yang mencoba mengungkap kondisi kelompoknya dibawah PJ lama.</p>
<p>Bahkan ada juga anggota yang mengungkap bagaimana PJ waktu itu menutupi TR. Jadi kalau ada anggota yang tidak membayar kewajiban tidak disampaikan dan tidak dimusyawarahkan. Dalam hal ini PJ memang siap membayari kewajiban tersebut. Tapi dibalik itu, apa yang dibayarkan PJ tersebut dianggap hutang yang harus dibayar bunganya. Beberapa anggotapun terbelit kasus ini, dimana hutang menjadi tidak pernah selesai karena bunga ber bunga. Diantaranya ada yang meminjam Rp 500 ribu yang kemudian beranak pinak menjadi Rp 5 juta. Celakanya lagi, setiap pembayaran hutang tersebut tidak tercatat dengan jelas. Sementara anggota tidak punya keberanian untuk menanyakan kejelasan hutangnya.</p>
<p>Praktis saat itu, system tanggung renteng lumpuh tidak berdaya. Dominasi PJ dan tidak ada keterbukaan, itulah penyebab awal dari kelumpuhan sistem. Mekanisme pertemuan kelompok berjalan tanpa makna. Sehingga fungsi system tanggung renteng sebagai alat teraphy sikap dan perilaku anggota menjadi mandul. Tak mengherankan nilai-nilai tanggung renteng juga tidak tumbuh mewarnai sikap dan perilaku anggota. Diantaranya ditandai dengan tidak beraninya anggota bersuara sehingga saling kontrol didalam kelompok, tidak terjadi. Akibatnya, kelompok berjalan dalam kondisi sakit yang semakin parah. Organ-organ dalam kelompok tidak berfungsi.</p>
<p>Dengan demikian jangan ditanyakan tentang kebersamaan dalam kelompok ini. Bahkan yang terjadi justru muncul kubu-kubu. Memang dalam kondisi demikian hanya revolusi yang bisa merubahnya. Hal ini dimulai dengan adanya keberanian bersuara dari anggota yang kemudian direspon PPL untuk melakukan gebrakan perubahan. Anggota yang pernah tersakitipun akhirnya punya kebaranian juga untuk bangkit.</p>
<p>Tepatnya 13 April 2010, Ibu Cut selaku PPL yang didampingi pengurus waktu itu mendorong anggota untuk melakukan penggantian PJ. Saat itu PJ dan beberapa anggota yang menjadi kroninya memberikan perlawanan cukup sengit. Sebetulnya yang berhak mengangkat dan memberhentikan PJ memang anggota kelompok melalui musyawarah. Sedang pengurus tinggal mengesahkan. Namun dalam kasus ini, PJ telah melanggar peraturan yaitu tidak menjalankan system tanggung renteng. Sehingga Pengurus berhak untuk memberhentikannya sesuai dengan ketentuan AD-ART.</p>
<p>Penyelesaian masalah di kelompok 342 saat itu memang cukup alot. Pertemuan yang dimulai pukul satu siang itupun baru selesai pukul sembilan malam. Kondisinya bukan hanya melelahkan tapi juga cukup dramatis. Karena perdebatan dalam kondisi hujan dan petir ditambah lagi listrik mati. Hasilnya memang pergantian PJ pun bisa dilaksanakan. Tapi sebelumnya, saat itu tidak ada satupun anggota yang mau dan berani menjadi PJ. Baru setelah PPL dan pengurus berhasil meyakinkan anggota, akhirnya terpilihlah Ibu Nita sebagai PJ I dan Ibu Wiwik sebagai PJ II.</p>
<p>Babak barupun dimulai ditengah berbagai permasalahan yang menghadang. Saat itu PJ lama melakukan boikot dengan tidak menyerahkan administrasi kelompok. Sehingga PJ didamping PPL memulainya dari nol dengan berdasarkan data dari koperasi. Belum lagi penyelesaian pendomplengan yang berujung pada TR. Setelah dilakukan klop-klopan, total TR sebesar Rp 22 juta harus diselesaikan anggota. Untuk penyelesaiannya, anggota yang tersisa bersepakat mengajukan hutang kelompok dengan masa angsuran 24 kali. Walaupun sebagai konsekuensinya indeks plafon kelompok diturunkan.</p>
<p>Satu per satu anggota yang tidak sejalan dengan perubahan akhirnya berhasil dikeluarkan, karena keberadaannya justru dirasa membebani perjalanan kelompok. Setidaknya dalam masa pembersihan itu ada 8 anggota yang dikeluarkan termasuk mantan PJnya. Kemudian berlanjut dengan anggota lainnya sehingga dari 40 anggota hanya tersisa 22 anggota. Setahun berjalan, kondisi kelompok ini semakin membaik yang ditandai dengan lunasnya hutang kelompok. Walaupun sebenarnya masa hutang kelompok adalah 2 tahun.</p>
<p>Rasa kebersamaan yang berhasil dibangun kembali, ternyata telah mempercepat pemulihan kondisi kelompok. Komitmen bersama untuk menerapkan system tanggung renteng secara konsisten itulah obat mujarab untuk bangkit kembali.  Kondisi saat ini memang harus tetap dipertahankan dan dikembangkan. Karena begitu lengah, maka bukan mustahil kalau masalahpun akan mendera kembali. (gt)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/klp-342-merajut-kebersamaan-yang-terkoyak.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Perjuangan Mempertahankan Kelompok 490</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/perjuangan-anggota-mempertahankan-kelompok-490.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/perjuangan-anggota-mempertahankan-kelompok-490.html#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 24 Oct 2011 03:14:50 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dinamika Kelompok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=711</guid>
		<description><![CDATA[Bila kewajiban anggota dipenuhi sesuai ketentuan, otomatis kewajiban koperasi pada anggotanya juga akan bisa terpenuhi. Keseimbangan inilah yang harus dipertahankan anggota melalui kelompok. Masalah terjadi karena ketidak seimbangan seperti pernah dialami kelompok 490.
Pertemuan kelompok 490 pada September lalu memang terasa istimewa. Bagaimana tidak, acara rutin bulanan yang sedianya akan diadakan di Pasar Bunga Kayon itu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2011/10/klp-490.-jpg.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-712" title="klp 490. jpg" src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2011/10/klp-490.-jpg-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Bila kewajiban anggota dipenuhi sesuai ketentuan, otomatis kewajiban koperasi pada anggotanya juga akan bisa terpenuhi. Keseimbangan inilah yang harus dipertahankan anggota melalui kelompok. Masalah terjadi karena ketidak seimbangan seperti pernah dialami kelompok 490.<span id="more-711"></span></em></p>
<p>Pertemuan kelompok 490 pada September lalu memang terasa istimewa. Bagaimana tidak, acara rutin bulanan yang sedianya akan diadakan di Pasar Bunga Kayon itu dipindah ke ruang VIP Rumah Makan Nur Pacifik. Tentu saja untuk itu ada biaya ekstra yang harus dikeluarkan kelompok. Walaupun demikian hal tersebut bukan menjadi masalah. Bahkan anggotapun merasa senang dan menikmatinya.</p>
<p>“Kalau setiap pertemuan disini enak ya… santai dan bisa karaokean,” celetuk salah satu anggota yang baru datang sambil senyam-senyum. Celetukan itupun ditanggapi dengan bercanda oleh anggota yang sudah datang lebih dahulu. “Memang enak… tapi biayanya…..,” tukas yang lain sambil tertawa.</p>
<p>Seakan tidak ingin menyia-nyiakan kesempatan, ibu-ibu anggota yang punya hoby menyanyi langsung menyambar mic. Merekapun minta pada operator untuk memilihkan lagu-lagu kesukaannya. Secara bergantian merekapun menyumbangkan suaranya sambil menunggu teman-teman yang belum hadir.</p>
<p>Mereka yang baru datang langsung menghadap PJ untuk mengambil amplop atas namanya. Pada amplop tersebut sudah tertera nama dan jumlah tagihan. Sedang untuk melihat rinciannya, sudah ada kitir yang telah dimasukan dalam amplop tersebut. Uangpun disiapkan sesuai dengan tagihan yang kemudian dibayarkan pada PJ. Sembari membayar kewajiban, anggota tidak lupa melihat daftar tagihan untuk dicocokan dengan kitirnya. Setelah semua angkanya cocok, merekapun bertanda tangan di kolom paling kanan pada daftar tagihan. Baru setelah itu mereka menanda tangani daftar absen sebagai bukti kehadirannya.</p>
<p>Ketika waktu sudah menunjukan pukul satu lebih dua puluh menit, PPL meminta pada PJ untuk segera membuka acara. “Nampaknya yang hadir sudah memenuhi quorum, sudah ada 11 anggota jadi sudah bisa dimulai,” tukas Ibu Endang Syafii selaku PPL.</p>
<p>“Pertemuan kali ini sengaja di diadakan disini untuk mempererat tali silahturahmi dan sekaligus halal bi halal dalam rangka lebaran. Semoga ini akan semakin menguatkan kebersamaan kita yang mulai terbangun sejak  satu tahun terakhir. Karena kondisi kelompok kita saat ini sudah baik, saya berharap untuk diusahakan ada penambahan anggota baru,” harap Ibu Susy, PJ I saat membuka acara pertemuan.</p>
<p>Kebetulan saat itu memang ada calon anggota. Sehingga acarapun dilanjutkan pada musyawarah penerimaan anggota baru yang dimulai dengan perkenalan. Mendengar perkenalan yang singkat, anggota yang lainpun memburu dengan berbagai pertanyaan agar bisa mengenal lebih dalam. Ada yang menanyakan nama suaminya, usahanya, motivasi menjadi anggota hingga siapa yang mengenalkannya dengan kelompok tersebut. Setelah semua informasi tergali dan  yakin konditenya baik, anggotapun setuju untuk menerimanya.</p>
<p>Nampaknya setelah musyawarah penerimaan anggota baru, tidak ada lagi masalah yang dimusyawarahkan. Sehingga acara berlanjut pada pembacaan notulen. “Memang tidak ada yang perlu dimusyawarahkan lagi. Karena SPP sudah diambil semua sebelum lebaran,” ujar Ibu Susy merespon keheranan PPL. Memang ketika ditawarkan sekali lagi, juga tidak ada yang mengajukan SPP. Sedang masalah kewajiban juga sudah klop sehingga tidak ada TR yang perlu dimusyawarahkan.</p>
<p>Kondisi kelompok ini memang sudah nampak tertata. Dilihat dari tingkat kehadiran anggota pada satu tahun terakhir misalnya, rata-rata mencapai 80% . Seperti pada pertemuan September lalu jumlah  anggota 17 orang, sedang yang hadir 15 orang. Tentu saja kondisi ini berbeda dengan sebelumnya dimana kehadiran menjadi masalah yang kemudian merembet pada lainnya. Bahkan karena masalah yang dihadapi cukup berat, dari jumlah 25 anggota, yang tersisa hanya 5 orang. Akibatnya selama hampir 2 tahun tidak bisa mendapat pelayanan.</p>
<p>Kondisi tersebut berawal dari tidak konsennya para anggota yang terdiri dari pedagang bunga di Pasar Kayon saat pertemuan kelompok. Mereka tidak bisa duduk jenak mengikuti proses pertemuan kelompok walaupun paling lama hanya berlangsung 2 jam. Kondisi tersebut diperparah lagi dengan PJnya yang tidak terbuka dan kurang tegas. Kalau terjadi TR tidak dimusyawarahkan dan ditutup-tutupi oleh PJ. Kalaupun menggunakan tabungan kelompok untuk TR, pengembaliannya juga tidak jelas. Tentu saja hal tersebut merupakan imbas karena tidak dimusyawarahkannya pengajuan pinjaman. SPP langsung ditanda tangani tanpa melalui proses system yang benar.</p>
<p>Pendek kata saat itu mekanisme system tanggung renteng tidak berjalan. Tak mengherankan bila ketidak seimbangan itupun terjadi. Kewajiban anggota tidak bisa terpenuhi dengan baik yang ditandai dengan TR berkelanjutan. Untuk mengembalikan keseimbangan tersebut, mau tidak mau harus kembali pada system. Permasalahannya justru sebagian besar anggota tidak punya komitmen untuk itu. Sehingga untuk tetap mempertahankan kelompok, harus dilakukan pembersihan. Anggota yang tidak mau mengikuti ketentuan system, dikeluarkan sampai akhirnya hanya tersisa 5 orang.</p>
<p>“Kami berlima mencoba mempertahankan kelompok ini, meski saat itu kita tidak bisa mengajukan pinjaman. Sebetulnya saat itu saya sempat putus asa dan ingin mundur. Tapi teman-teman mendorong untuk tetap mempertahankan kelompok ini. Alasanya karena banyak manfaat yang sudah dirasakan. Bahkan suami mereka juga mendorong untuk tetap mempertahankan agar kelompok tidak bubar,” ungkap Ibu Susy yang kini menjadi satu-satunya anggota yang berasal dari pedagang Pasar Bunga Kayon.</p>
<p>Seperti juga disampaikan Ibu Nining, PJ II yang telah menjadi anggota selama 9 tahun. Menurutnya manfaat yang dirasakan jadi anggota koperasi bukan hanya pinjaman. Tapi juga untuk meningkatkan kemampuan diri, diantaranya dengan diadakannya berbagai pelatihan ketrampilan ekonomi. Bahkan diakui, untuk biaya anaknya sekolah juga dari pinjaman SBW. Pengajuan  pinjaman juga mudah, syaratnya cukup bisa dipercaya dan bertanggung jawab.</p>
<p>Hal sama juga diungkap Ibu Handa. “Suami saya melarang saya keluar dari SBW karena banyak manfaat yang bisa dirasakan. Dulu tidak punya rumah sampai punya rumah, dari tidak punya mobil sampai punya mobil. Bahkan anak sampai bisa kuliah juga tak lepas dari pinjaman di SBW,” tukasnya.</p>
<p>Manfaat yang dirasakan itulah, sebagai motivasi perjuangan mereka untuk mempertahankan kelompoknya. Tentu saja perjuangan kelima anggota tersebut tidaklah ringan. Karena selama 2 tahun mereka tidak bisa mengajukan pinjaman. Padahal hak anggota berupa fasilitas pinjaman itulah yang sangat diharapkan.</p>
<p>Kini perjuangan tersebut telah membuahkan hasil. Dibawah koordinasi Ibu Susi dan Ibu Nining, mekanisme pertemuan  kelompok sudah bisa dijalankan sesuai dengan system tanggung renteng. Dari 5 anggota yang tersisa, masing-masing mengembangkan anggota diwilayahnya. Sehingga saat ini anggota kelompok kebanyakan berasal dari 3 wilayah anggota tersebut. Wilayah Pucang merupakan hasil perekrutan Ibu Handa. Kemudian wilayah Kertajaya oleh Ibu Sulastri dan Ibu Nining melakukan perekrutan di wilayah Kebraon. (gt)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/perjuangan-anggota-mempertahankan-kelompok-490.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>1390 Anggota Tergabung Dalam FKJU</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/1390-anggota-tergabung-dalam-fkju.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/1390-anggota-tergabung-dalam-fkju.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 19 Oct 2011 05:35:16 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seputar SBW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=707</guid>
		<description><![CDATA[Sesuai dengan amanah RA, pada 2011 ini telah terbentuk Forum Komunikasi Jaringan Usaha (FKJU) sebagai wadah anggota yang punya usaha. Dengan wadah tersebut diharapkan kapasitas usaha anggota bisa ditingkatkan. Sebagai langkah awal, FKJU telah mengelar pertemuan pada 17 -19 Oktober.
Pada RA membahas RK-RAPB 2011 telah disepakati akan dibentuk jaringan usaha anggota. Sebagai realisasi, pendataanpun dimulai [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><a href="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2011/10/FKJU.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-708" title="FKJU" src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2011/10/FKJU-300x225.jpg" alt="" width="300" height="225" /></a>Sesuai dengan amanah RA, pada 2011 ini telah terbentuk Forum Komunikasi Jaringan Usaha (FKJU) sebagai wadah anggota yang punya usaha. Dengan wadah tersebut diharapkan kapasitas usaha anggota bisa ditingkatkan. Sebagai langkah awal, FKJU telah mengelar pertemuan pada 17 -19 Oktober.<span id="more-707"></span></em></p>
<p>Pada RA membahas RK-RAPB 2011 telah disepakati akan dibentuk jaringan usaha anggota. Sebagai realisasi, pendataanpun dimulai melalui PPL yang memang setiap bulan terjun langsung ke kelompok. Dari hasil pendataan tersebut, telah tercatat 1.390 anggota yang punya usaha dengan beragam jenis. Untuk mengorganisir wadah anggota yang punya usaha ini, dipilihlah kepengurusannya dengan susunan Koordinator, Wakil dan Sekretaris.</p>
<p>Wadah usaha anggota yang kemudian disebut dengan Forum Komunikasi Jaringan Usaha ini diawaki oleh Ibu Fitri (klp133) sebagai Koordinator, Ibu Dhani (klp 466) sebagai Wakil, Ibu Ciplies (klp 462) selaku Sekretaris. Untuk langkah awal, FKJU telah menggelar temu anggota yang diselenggarakan pada 17 – 19 Oktober di gedung II Kopwan SBW. Dalam kesempatan tersebut telah dilakukan pembentukan kelompok per jenis usaha dan pemilihan koordinatornya. Pengelompokan ini dilakukan sebagai upaya mempermudah komunikasi dan koordinasi antar anggota.</p>
<p>“Dengan adanya forum ini diharapkan anggota yang punya usaha bisa saling bersinergi. Nantinya setiap usaha anggota dalam FKJU bisa saling terkoneksi untuk memperkuat basic usaha masing-masing anggota. Untuk itulah diharapkan data harus selalu up date,” harap Ibu Chandra, Wakil Ketua I SBW dalam pembukaan temu angggota FKJU pada hari pertama.</p>
<p>Hal sama juga disampaikan Ibu Sadjim Ketua Kopwan SBW pada pertemuan hari kedua. Disampaikannya, dengan data yang selalu up date, akan memudahkan pengembangannya. Misalkan ada anggota yang akan punya gawe, maka tinggal menghubungi FKJU. Kemudian dari pengurus FKJU tinggal berkomunikasi dengan masing-masing koordinator kelompok usaha. Koordinator kelompok juga tidak akan kesulitan menghubungi anggota yang punya produk sesuai dengan yang dibutuhkan.</p>
<p>“Pokoknya siapa yang membutuhkan akan dihubungkan dengan siapa yang bisa menyediakan kebutuhan tersebut. Inilah salah satu fungsi dari FKJU. Nanti kalau sudah pada permasalahan permodalan ya… larinya ke koperasinya. Begitu pula kalau nyimpan. Sehingga usaha anggota berkembang koperasinyapun ikut maju. Anggotanya sejahtera, koperasinya semakin kuat,” tukas Ibu Sadjim dalam kata sambutannya pada temu anggota FKJU dihari kedua.</p>
<p>Walaupun baru dibentuk, nampaknya FKJU langsung action. Pada pertemuan hari pertama misalnya, Ibu Fitri selaku koordinator menyampaikan tentang order catering dari beberapa perusahaan yang telah didapatnya. Order dalam jumlah besar tersebut disampaikan dalam forum agar bisa dikerjakan bersama-sama. Pada pertemuan pertama yang dibagi 3 kelompok yaitu supplier, masakan dan kue tidak menyia-nyiakan kesempatan tersebut. Merekapun langsung melakukan lobi-lobi untuk mendapatkan pekerjaan sesuai dengan keunggulan masing-masing. Karena sifat pembayaran dari order tersebut mundur satu bulan, maka pembiayaanya ditopang langsung oleh Kopwan SBW dalam bentuk pinjaman.</p>
<p>Selain itu disampaikan pula tentang adanya pameran makanan dan minuman tradisional yang diadakan di Gramedia Ekspo pada 26 – 30 Oktober. Dalam moment ini, FKJU akan menyewa stand yang biayanya ditanggung bersama oleh anggota yang ikut. “Harga stand Rp 2,5 juta. Dari saya nanti ada Rp 1 juta. Sisanya Rp 1,5 juta silahkan ditanggung bersama yang mau ikut. Ini sarana promosi bagi usaha kita, mari kita manfaatkan,” ajak Ibu Fitri yang nampaknya disambut antusias oleh anggota.</p>
<p>Disampaikan pula, bahwa Ibu Fitri mendapat tawaran untuk ikut pameran perikanan di Jakarta. Terkait dengan hal tersebut, kepada anggota yang mempunyai produk olahan makanan dari ikan bisa nitip. Tapi syaratnya olahan makanan kering. Tapi tentu saja dalam pameran ini tidak dimaksudkan untuk jualan langsung melainkan promosi usaha. Sehingga produk yang dibawa tidak perlu banyak. “Ini tingkat nasional, Tapi pengunjungnya tidak menutup kemungkinan dari luar negeri. Jadi anggap saja ini sebagai investasi jangka panjang untuk pengembangan usaha ibu-ibu. Untuk itu yang kita bawa cukup contoh produk dan kartu nama yang bisa dihubungi bila ada yang berminat,” tandasnya.</p>
<p>Dalam pertemuan yang berlansung selama 3 hari tersebut telah berhasil dibentuk 11 kelompok usaha. Pada pertemuan hari pertama gelombang pertama kelompok usaha yang terkait dengan jasa boga. Kemudian pada siangnya kelompok usaha yang terkait dengan dekorasi, bunga, kerajinan dan persewaan. Sedang pada hari kedua gelombang pertama menghadirkan anggota yang punya usaha terkait dengan kain seperti penjahit, butik atau usaha garment. Pada gelombang kedua menghadirkan anggota yang punya usaha terkait dengan toko, counter, pracangan ataupun agen. Pada hari ketiga menghadirkan usaha terkait dengan kecantikan seperti salon, Spa, rias penganting dan kosmetik.</p>
<p>Pertemuan FKJU ini direncanakan akan diadakan rutin setiap bulan untuk menghubungkan antara usaha yang satu dengan lainnya. Dalam jangka panjang juga direncanakan untuk mempunyai showroom yang memajang semua produk anggota FKJU. (gt)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/1390-anggota-tergabung-dalam-fkju.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>SBW Menggenjot Kapasitas Ekonomi Anggota</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/sbw-menggenjot-kapasitas-ekonomi-anggota.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/sbw-menggenjot-kapasitas-ekonomi-anggota.html#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 01 Oct 2011 05:18:09 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seputar SBW]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=699</guid>
		<description><![CDATA[Berbagai cara telah dilakukan SBW untuk meningkatkan kapasitas ekonomi anggota. Asumsinya, dengan meningkatnya kapasitas ekonomi akan meningkat pula kemampuan meningkatkan kesejahteraan anggota. Upaya tersebut diantaranya memberikan berbagai pelatihan ketrampilan ekonomi yang dilaksanakan setiap tahun.
Pada tahun ini, Kopwan SBW juga mengadakan pendataan anggota yang punya usaha. Pendataan ini dimaksudkan agar usaha anggota bisa saling terkoneksi. Harapannya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2011/10/FKJU-1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-700" title="FKJU 1" src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2011/10/FKJU-1-300x224.jpg" alt="" width="278" height="207" /></a>Berbagai cara telah dilakukan SBW untuk meningkatkan kapasitas ekonomi anggota. Asumsinya, dengan meningkatnya kapasitas ekonomi akan meningkat pula kemampuan meningkatkan kesejahteraan anggota. Upaya tersebut diantaranya memberikan berbagai pelatihan ketrampilan ekonomi yang dilaksanakan setiap tahun.<span id="more-699"></span></p>
<p>Pada tahun ini, Kopwan SBW juga mengadakan pendataan anggota yang punya usaha. Pendataan ini dimaksudkan agar usaha anggota bisa saling terkoneksi. Harapannya tentu usaha anggota tersebut akan bisa berkembang dan kapasitas ekonominya terangkat. Jaringan usaha ini akan diwadahi dalam bentuk forum dengan harapan setiap anggota yang punya usaha bisa saling bertemu diforum ini. Sehingga mereka bisa saling mengkomunikasikan potensi yang dimiliki sebagai upaya pengembangan usahanya.</p>
<p>Terkait dengan pembentukan Forum Komunikasi Jaringan Usaha anggota ini, telah dipilih 3 anggota yang akan berfungsi sebagai koordinator, wakil dan sekretarsi. Mereka adalah Ibu Fitri dari kelompok 133,  Ibu Dhani kelompok 466 dan Ibu Ciplies kelompok 462. Mereka inilah yang nantinya mengkoordinir dan memfasilitasi pertemuan anggota dalam forum jaringan usaha. Harapannya dari situ akan tersusun pula program-program terkait dengan pengembangan usaha anggota.</p>
<p>Tidak hanya itu, sejak 2010 Kopwan SBW juga telah melakukan pembentukan kelompok ekonomi. Hingga saat ini telah terbentuk 15 kelompok. Anggota yang tergabung dalam kelompok ini mendapat fasilitas tambahan pinjaman sebesar Rp 5 juta. Adapun syarat membentuk kelompok ekonomi tersebut telah diatur dalam Peraturan Khusus no 11 tentang Pembentukan Sub Kelompok Ekonomi.</p>
<p>Dalam Peraturan Khusus No 11 disebutkan ada 9 persyaratan untuk membentuk kelompok ekonomi.</p>
<p>Syarat Pementukan Sub Kelompok Ekonomi</p>
<table border="1" cellspacing="0" cellpadding="0" width="647">
<tbody>
<tr>
<td width="647" valign="top">1.          Jumlah anggota Sub Kelompok minimal 5 orang.</p>
<p>2.          Memiliki penghasilan tambahan dan usaha sendiri.</p>
<p>3.          Simpanan Wajib anggota minimal Rp. 4.000.000,-</p>
<p>4.          Berasal dari kelompok baik / tidak bermasalah.</p>
<p>5.          Bersedia disurvey.</p>
<p>6.          Pinjaman SP 1 maksimal Rp. 16.000.000,-</p>
<p>7.          Perhitungan plafon pribadi 4 x Simpanan Wajib dan   plafon kelompok mengikuti kelompok asal.</p>
<p>8.          Jika terjadi TR : Rp.11 juta di TR kelompok asal, yang   5 juta di TR anggota dari kelompok ekonomi.</p>
<p>9.    Pembentukannya   harus dimusyawarahkan dan disetujui oleh seluruh anggota kelompok karena   menyangkut plafon kelompok secara keseluruhan serta diketahui oleh PPL.</td>
</tr>
</tbody>
</table>
<p>Bila permodalan usaha masih belum tercukupi dengan bergabung di sub kelompok ekonomi, maka anggota bisa memanfaatkan fasilitas pinjaman di unit UKM. Tapi tentu saja persyaratannya berbeda dengan di kelompok. Untuk bisa mengajukan pinjaman di UKM harus menggunakan agunan sebagaimana di bank. Untuk menopang permodalan usaha anggota pula, pada tahun ini Kopwan SBW mengeluarkan produk pinjaman <strong><em>Multiguna Plus</em></strong>. Produk ini tentu sangat cocok bagi anggota yang membutuhakan perputaran modal cepat.</p>
<p>Khusus pinjaman <strong><em>Multiguna Plus</em></strong> ini agunannya berupa emas dengan system gadai dalam masa 4 bulan. Sedang jasanya 1,8 % per bulan atau total dalam empat kali angsuran sebesar 7,6%. Sementara ditempat lain jasanya bisa mencapai 3,5% per bulan. (gt)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/sbw-menggenjot-kapasitas-ekonomi-anggota.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

