Kebersamaan Harga Mati

PApua, Kunjungan, studi banding, malaysiaKalau di Indonesia ada Lembaga Pendidikan Perkoperasian atau yang lebih dikenal dengan Lapenkop. Di Malayasia juga ada lembaga sejenis. Bahkan peserta pelatihannya didatangkan dari berbagai negara. Dengan difasilitasi oleh lembaga ini, para peserta dari berbagai negara tersebut bisa saling bertukar pikiran.
Pada Mei lalu, 2 staf pengajar dari lembaga tersebut berkunjung ke SBW dengan didampingi Staf dari PUSKUD Jatim. Pada awalnya memang Lapenkopnya Malaysia ini berkunjung ke PUSKUD Jatim. Perkenalan itu berawal dari undangan dari lembaga tersebut kepada PUSKUD untuk mengikuti pelatihan di Malaysia. Sebagai tindak lanjut dari itu, lembaga tersebut mengirim 2 staf pengajarnya untuk berkunjung ke Jawa Timur. Oleh Puskud, kedua orang tersebut diajak berkunjung ke Kopwan SBW sebagai koperasi wanita terbesar di Jawa Timur.
Tujuan dari kunjungan ini, untuk memperkenalkan program pelatihan yang diselenggarakan oleh lembaga ini. Pelatihan ini diselenggarakan setiap tahun dengan peserta dari berbagai negara. Setiap negara diwakili oleh 2 orang. Sedang pembiayaan sepenuhnya ditanggung oleh Malaysia. Pada tahun lalu, dari Indonesia diwakili dari Puskud Jatim. Karena pelatihan ini diikuti oleh berbagai negara, maka persyaratan utama sebagai peserta harus bisa berbahasa Inggris.
Masih dibulan Mei, SBW juga mendapat kunjungan dari Komisi B DPRD Papua Barat. Kunjungan tersebut berawal ketika rombongan ini bertemu dengan Gubernur Jatim yang menjelaskan tentang gerakan koperasi di Jawa Timur. Dari penjelasan itulah rombongan ingin melihat langsung kenyataan dilapangan diantaranya ke SBW.
“Bapak gubernur tadi menjelaskan, di Jawa Timur ada Koperasi Wanita yang cukup maju. Makanya kami langsung ingin melihat SBW sebagai study banding. Hasil kunjungan ini akan kami bawa ke Papua untuk menggerakan koperasi disana. Kita akan coba di Papua untuk membentuk koperasi yang beranggotakan kaum hawa,” ujar Bp Obeth Ayok, Ketua Komisi B DPRD Papua Barat.
“Kenapa koperasi bisa besar seperti SBW ini ? nampaknya kebersamaan telah menjadi harga mati di SBW. Tapi saya yakin kebersamaan itu hanyalah salah satunya dan tentu masih banyak lagi kunci-kuncinya. Tapi yang jelas ini sangat mengagumkan. Ada budaya yang beda dengan di Papua. Kalau di SBW perempuan diberi kebebasan untuk berkreasi dan berkarya. Sementara di Papua, perempuan memang diberi kebebasan dalam urusan domestik. Tapi kalau sudah memasuki ranah formal yang bisa membawa keuntungan, justru dibatasi. Nampaknya para lelaki tak ingin tersaingi oleh perempuan,” papar salah satu peserta.
Sementara itu dipertengahan Mei, SBW juga mendapat kunjungan dari KPRI Bhineka Karya Pamekasan. Rombongan ini berkunjung ke SBW setelah melihat tayangan di televisi tentang SBW. Rombongan dari koperasi yang beranggotakan para guru dan PNS Pemkab pamekasan ini kagum pada kinerja SBW dengan omset yang miliaran rupiah dan anggota yang 10 ribu lebih.
Berbeda dengan tamu pada umumnya, tamu dari Pamekasan ini justru mendahului dengan mengirimkan quistioner pada pengurus. Diantaranya yang ditanyakan tentang masalah keuangan. “Kami memang menerapkan sistem potong gaji. Tapi ternyata hal itu belum menjamin angsuran bisa lancar. Karena kita kalah dengan juru tagih bank,” ujar Bp Nawir, Ketua KPRI Bhineka Karya.
Mendapat pernyataan tersebut, Ibu Sadjim, Ketua I Kopwan SBW menjelaskan sekilas tentang sistem tanggung renteng. Dari paparan tersebut, peserta semakin penasaran. Karena dari pengalaman mereka bukan kelompok yang menyebabkan amannya asset. Terbukti program P2KP yang menggunakan kelompok juga tidak jalan. Memang permasalahannya bukan hanya kelompok tapi bagaimana mengelola kelompok. Dalam hal ini SBW menawarkan sistem tanggung renteng.
Sedang diawal Juni, SBW mendapat kunjungan dari Koperasi Bhakti Artha Swadana Surabaya. Koperasi ini dibawah Dinas Pendapatan Daerah Propinsi Jatim dengan 2.500 anggota yang tersebar diseluruh Jatim. “Koperasi kami mengelola asset Pemprop yang diserahkan dalam bentuk yayasan,” ujar Bp Mayun, Ketua Koperasi Bhakti Artha Swadana.
Seperti juga tamu lainnya, mereka penasaran dengan apa yang telah dicapai SBW utamanya tentang sistem tanggung renteng. Dari hasil diskusi dengan waktu yang sangat terbatas, akhirnya mereka sepakat untuk mengikuti program pelatihan sistem tanggung renteng yang ditangani oleh LC SBW. (gt)

2 Komentar untuk “Kebersamaan Harga Mati”

  1. diah satyawati berkomentar:

    prestasi yg bagus diperoleh dari kinerja yang bagus,semoga tetap jaya dalam derap kebersamaan.

  2. franstantridharma berkomentar:

    Lain ladang lain belalang. Lain lubuk lain ikannya. Sistem boleh bermacam-macam, sehingga masing-masing ‘aliran koperasi’ mempunyai perbedaan dengan kelemahan dan kekuatannya sendiri. Ada Credit Union yang khusus mengurusi simpan dan pinjam, ada koperasi simpan-pinjam yang modalnya dari sekelompok orang, Koperasi Serba Usaha. Saya rasa azas TR yang bersifat tegas, jelas dan adil bisa berlaku dalam koperasi jenis apa pun. Mari kita terus belajar demi berbagi ilmu dan kebaikan.

Tulis Komentar

 

Spam Protection by WP-SpamFree

Add to Google © Copyright 2012 - 2008 Setia Bhakti Wanita
[E] E-KopwanSBW [S] SBW's Learning Center