Pemboncengan Bukan Berarti Kebersamaan
Tanggung renteng adalah ruh Kopwan SBW. Sehingga sudah menjadi keharusan semua anggota Kopwan SBW memahami sistem tanggung renteng. Pemahaman terhadap system ini sebetulnya juga sudah dilakukan terus menerus oleh PPL saat pertemuan kelompok. Tapi ternyata hal inipun masih dirasa kurang. Sehingga dibuatlah rencana untuk memberikan pelatihan sistem tanggung renteng pada setiap anggota.
Permasalahannya, jumlah anggota Kopwan SBW sudah mencapai sepuluh ribu lebih. Sehingga menjangkau anggota per anggota sangat tidak memungkinkan. Untuk itulah pada tahun ini digelar kembali pelatihan dan pemantapan system tanggung renteng. Seperti tahun sebelumnya, dalam pelatihan inipun setiap kelompok diwajibkan mengirimkan anggotanya.
Diharapkan dari anggota yang telah mengikuti pelatihan bisa menyebarkan pemahamannya tentang system tanggung renteng pada teman-temannya di kelompok. Bahkan diharapkan dari setiap anggota yang telah memahami system tanggung renteng bisa mengadakan perubahan dikelompoknya agar menjadi lebih baik.
Pada tahun lalu, dalam sehari dibagi menjadi dua kelas yaitu kelas pagi dan kelas siang. Tapi pada pelatihan yang dimulai sejak 23 April ini, bisa dilakukan dalam dua kelas secara bersamaan. Sehingga dalam sehari bisa dilakukan dalam empat kelas. Hal ini semua bisa dilakukan karena jumlah pemandu ditambah menjadi …. Orang. Disamping itu untuk alat bantu juga ditambah seperti laptop dan LCD yang kini telah menjadi dua unit.
Meski pelatihan ini dilaksanakan dalam dua kelas secara bersamaan tapi suara dari kelas berbeda tidak saling menggangu. Karena memang kedua kelas dipisahkan oleh ruang baru yang kedap suara. Sehingga konsentrasi peserta pelatihan di masing-masing kelas juga tidak sampai terganggu. Bahkan antusias peserta pelatihan kali ini cukup tinggi.
Berbagai persoalan dikelompok juga tidak segan-segan diungkap oleh peserta dalam pelatihan ini. Tentu saja, pengungkapan masalah di kelompok ini bukan dimaksudkan untuk menjelekan teman dikelompok. Tapi lebih pada keinginan menjadikan kelompok lebih baik. Kelompok yang punya kemampuan untuk mencegah terjadinya permasalahan atau kelompok yang mampu mengatasi permasalahan secara mandiri.
Diantara permasalahan yang cukup menarik menjadi bahasan adalah masalah pendomplengan kemudian muncul pula istilah pemboncengan. Walau istilahnya berbeda tapi inti permasalahannya sama yaitu sama-sama menggunakan yang bukan haknya. Dan akibat yang ditimbulkannyapun sama yaitu menjadi beban yang harus ditanggung semakin berat. Kalau anggota yang terbebani merasa tidak mampu maka beban itu menjadi beban seluruh anggota dalam kelompok. Akibat selanjutnya bisa ditebak, kebersamaan kelompok akan goyah.
“Bagaimana ya… kasihan. Dia kan butuh dibantu, sementara plafon saya juga mencukupi untuk dipakai sebagian olehnya. Maka dari plafon saya yang Rp 10 juta, Rp 5 jutanya saya pinjamkan pada teman,” tukas salah satu peserta. Lontaran inipun ditanggapi peserta lainnya dengan senyam-senyum. Karena nampaknya, ada diantara peserta yang juga melakukan hal sama. Bahkan ada yang kemudian nyletuk bahwa itu bentuk dari kebersamaan.
Betulkah hal demikian sebagai bentuk kebersamaan ? Tanya pemandu yang juga PPL ini. Dari permasalahan tersebut, pemandupun akhirnya mengajak peserta untuk melakukan penghitungan resiko. “Memang saat itu butuhnya hanya Rp 5 juta walaupun plafon pribadi mencapai Rp 10 juta. Sehingga sisanya diberikan ke teman karena kasihan. Tapi perlu diingat, koperasi tahunya adalah nama anggota yang tertera di SPH. Dan teman-teman ibu di kelompok juga tahunya Rp 10 juta itu yang memakai adalah ibu,” papar pemandu.
Dijelaskan lebih lanjut, jadi kalau untuk pinjaman Rp 5 juta itu angsurannya Rp ……per bulan, ibu harus mencadangkan dana setiap bulan sebesar itu ditambah dengan angsuran ibu sendiri. Kalau pada bulan itu, teman ibu yang nebeng itu membayar, maka selamatlah dana cadangan ibu. Tapi bagaimana pada bulan-bulan berikutnya ? jelas ibu akan deg-degan setiap bulannya. Bahkan bisa jadi ibu melakukan penagihan setiap bulan pada teman ibu tersebut. Padahal nagih hutang itu sulit karena biasanya orang mudah berhutang tapi mbulet ketika membayar.
Itu baru resiko yang harus ditanggung untuk menjaga nama baik di kelompok. Belum lagi resiko pertanggung jawaban di keluarga. Apakah suami ibu rela bila harus mengeluarkan dana ekstra tersebut. Kalau tidak, berarti ibu juga akan menghadapi masalah keluarga. “Jadi tolong dipikir lagi kalau ada teman yang nebeng atau ndompleng nama ibu. Karena kewajiban pada koperasi tidak bisa dibayar dengan kasihan tadi.” tandas pemandu.
Dengan demikian lanjut pemandu, system tanggung renteng tidak hanya berguna mengamankan asset koperasi tapi juga asset masing-masing anggotanya. Jadi kalau dikelompok timbul masalah, itu bukan dikarenakan sistemnya. Tapi karena anggota dalam kelompok tersebut salah dalam penerapan system. mekanisme dan nilai-nilai system ini tidak difahami dan dipraktekan secara benar.
Diantarannya musyawarah yang asal setuju. Sehingga keputusan yang dibuat tidak berdasarkan fakta yang benar. Hal ini terjadi karena tidak adanya keberanian anggota untuk mengemukakan hal yang benar. Alasannya juga macam-macam, misalnya karena sungkan, kasihan, tak enak sama teman. Bahkan lebih parah lagi takut bila pengajuan pinjamannya ditolak. Padahal disetujuinya pinjaman itu bukan karena satu orang melainkan hasil kesepakatan seluruh anggota dalam kelompok. Dan kesepakatan itupun juga didasarkan pada kemampuan serta kondite anggota yang bersangkutan.
Disamping itu masalah dikelompok muncul karena keputusan yang dibuat tidak dilandasi oleh nilai-nilai TR. Dalam bermusyawarah misalnya, bila tanpa dilandasi kejujuran, keterbukaan, kedisiplinan dan tanggung jawab, maka akan muncul masalah dibelakang hari. Apalagi dalam kelompok tersebut juga tidak ada anggota yang berani mengemukakan fakta sebenarnya.
Memang tak bisa dipungkiri, keberanian mengemukakan pendapat tidaklah mudah. Untuk itulah dalam pelatihan ini juga dijelaskan, keberanian mengemukakan pendapat memang tidak bisa muncul begitu saja. Untuk berani mengemukakan pendapat seseorang harus tahu peraturan sebagai dasar apa yang disampaikan. Disamping itu apa yang disampaikan juga harus berdasarkan fakta yang obyektif sehingga tidak menjadikan fitnah. Dan yang tak kalah penting adalah kondite diri. Bila kondite baik maka teman yang lain akan percaya dengan apa yang disampaikan. Hal ini juga akan menjadi tauladan bagi anggota dalam kelompok. (gt)







