Perangi Penyakit Kemapanan

Sedianya dalam acara yang diikuti sekitar 175 ibu non anggota itu menghadirkan Mbak Ratih Sanggarwati dan Okky Asokawati. Tapi sayang Mbak Okky tidak bisa hadir karena menyertai kegiatan Bapak Mentri Koperasi ditempat lain. Mbak Ratih ini pada 27 Desember lalu telah dikukuhkan sebagai duta Program Perempuan Keluarga Sehat dan Sejahtera (Perkasa). Sedang Mbak Okky Asokawati dikukuhkan sebagai duta koperasi.

Terkait dengan statusnya itulah mereka berdua berkeliling keberbagai daerah untuk mensosialisasi koperasi dan program Perkasa. Pada Agustus lalu, Kopwan SBW mendapat giliran untuk memfasilitasi acara sosialisasi tersebut. Dalam hal ini SBW diminta untuk menyediakan termpat dan peserta non anggota minimal 100 orang. Tentu saja bagi SBW permintaan tersebut bukan hal yang sulit untuk dipenuhi. Gedung lengkap ber AC sudah tersedia. Sementara untuk mendapatkan peserta, juga tidak sulit, tinggal minta kekelompok-kelompok untuk mengajak tetangga atau temannya.

Terbukti, pada 20 Agustus lalu gedung pertemuan SBW penuh sesak perempuan non anggota. Anggotapun tidak menyia-nyiakan moment ini, diantaranya ada yang mengelar dagangan di ruang pertemuan tersebut. Beberapa sponsor juga hadir menggelar produknya. Sehingga moment ini tidak hanya jadi ajang promo koperasi tapi juga produk anggota.

Pada kesempatan itu Mbak Ratih yang asli Ngawi itu mencoba memotivasi ibu –ibu untuk memerangi penyakit kemapanan yaitu MALAS. Dengan meningkatkan kualitas diri agar lebih produktif . Dicontohkan bagaimana hebatnya perempuan Indonesia dalam mengelola keuangan keluarga. Dengan penghasilan suami yang terbatas tapi masih bisa menutup kebutuhan keluarga.
Tapi sebetulnya, lebih hebat lagi bila kaum ibu juga berupaya meningkatkan kualitas dirinya sehingga bisa turut menopang penghasilan keluarga. Biasanya kalau diajak demikian alasannya selalu sama yaitu modal atau dana. Benarkah demikian ? nampaknya tidak selalu demikian. Karena yang utama justru kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan.

Dalam hal ini Mbak Ratih mencontohkan seorang ibu yang bekerja sebagai tukang tambal ban yang kemudian berubah menjadi pengusaha catering. Perubahan terjadi karena memang ada keinginan kuat dari ibu tersebut untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Diantara upaya si ibu tersebut adalah dengan menjadi anggota koperasi. Di koperasi itulah ia difasilitasi bukan hanya pinjaman modal tapi juga pemberian ketrampilan. Tentunya contoh demikian ini juga banyak di Kopwan SBW.

Lebih lanjut, Mbak Ratih menjelaskan tentang koperasi. Untuk membukanya ia mencoba mengangkat tradisi Rewang . ”Dengan adanya tradisi Rewang itu, kalau kita punya gawe, pekerjaanya bisa tuntas. Itu artinya pekerjaan berat menjadi ringan bila dikerjakan bersama-sama. Dan itulah koperasi,” tandasnya.

Dengan kemampuan kita yang terbatas, kita akan sulit mencapai tujuan. Beda bila kita yang punya kemampuan terbatas itu bergabung jadi satu, tentu tujuan akan lebih mudah dicapai. Itulah budaya kebersamaan dan itulah yang menjadi dasar kita berkoperasi. Dengan berkoperasi kita akan mendapatkan kesempatan lebih mudah untuk mendapatkan modal. Dengan bersama-sama, kita akan lebih mudah meningkatkan kualitas diri. Apalagi dengan sistem tanggung renteng.
Dengan berkoperasi kita bisa berkumpul untuk membuka wawasan dan untuk meningkatkan kualitas diri dan juga penghasilan. Bila kualitas para perempuan meningkat maka akan meningkatkan pula kualitas keluarga. Dengan kualtas keluarga meningkat akan melahirkan generasi penerus yang berkualitas pula.

Setelah mendapat penjelasan tentang manfaat berkoperasi, nampaknya ada beberapa peserta yang ingin menjadi anggota koperasi. Dalam hal ini Ibu Sadjim menjelaskan bagaimana mekanisme penerimaan anggota baik masuk melalui kelompok maupun membentuk kelompok. Cuma yang dikeluhkan penanya tersebut adalah sulitnya mencari anggota untuk bisa membentuk kelompok. Akhirnya Mbak Ratih minta peserta yang lain untuk maju bila berminat menjadi anggota.

Nampaknya banyak peserta yang berminat tapi nampak keraguan untuk bergbung dalam satu kelompok. Sehingga saat itu yang maju hanya 3 orang. Dari 3 orang inilah yang kemudian diharapkan bisa membentuk satu kelompok. Tapi sebelumnya diharapkan untuk bisa saling mengenal dahulu sehingga pada tahap berikutnya bisa saling mempercayai. Karena memang itulah modal awal membentuk kelompok. Pada tahap selanjutnya tentu bergantung masing-masing anggota bagaimana bisa menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. (gt)

Tulis Komentar

 

Spam Protection by WP-SpamFree

Add to Google © Copyright 2012 - 2008 Setia Bhakti Wanita
[E] E-KopwanSBW [S] SBW's Learning Center