<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Setia Bhakti Wanita &#187; anggota</title>
	<atom:link href="http://www.setiabhaktiwanita.com/tag/anggota/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.setiabhaktiwanita.com</link>
	<description>Berkembang dengan Derap Kebersamaan</description>
	<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 03:20:21 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Pelatihan tentang Partisipasi Anggota Dalam Pengambilan Keputusan</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/pelatihan-tentang-partisipasi-anggota-dalam-pengambilan-keputusan.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/pelatihan-tentang-partisipasi-anggota-dalam-pengambilan-keputusan.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 14 Jun 2009 21:11:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gale</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Agenda acara]]></category>

		<category><![CDATA[anggota]]></category>

		<category><![CDATA[pelatihan]]></category>

		<category><![CDATA[tanggung-renteng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=344</guid>
		<description><![CDATA[Keberadaan Koperasi Wanita Setia Bhakti Wanita Jawa Timur dengan 10.020 anggota yang dimilikinya dengan berbagai macam latar belakang serta perbedaan pola pikir, memacu Koperasi Wanita Setia Bhakti Wanita Jawa Timur untuk terus mengasah serta melatih kemampuan anggotanya dengan memberikan pelatihan-pelatihan mengenai sistem tanggung renteng dan pelatihan-pelatihan lainnya yang berkenaan dengan pengembangan potensi.
Koperasi Wanita Setia Bhakti [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_382" class="wp-caption alignleft" style="width: 215px"><a href="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2009/06/img_1865.jpg"><img class="size-medium wp-image-382" src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2009/06/img_1865-300x243.jpg" alt="pelatihan partisipasi anggota dalam pengambilan keputusan" width="205" height="165" /></a><p class="wp-caption-text">pelatihan partisipasi anggota dalam pengambilan keputusan</p></div></p>
<p>Keberadaan <strong>Koperasi Wanita Setia Bhakti Wanita Jawa Timur</strong> dengan 10.020 anggota yang dimilikinya dengan berbagai macam latar belakang serta perbedaan pola pikir, memacu Koperasi Wanita Setia Bhakti Wanita Jawa Timur untuk terus mengasah serta melatih kemampuan anggotanya dengan memberikan pelatihan-pelatihan mengenai sistem tanggung renteng dan pelatihan-pelatihan lainnya yang berkenaan dengan pengembangan potensi.</p>
<p><strong>Koperasi Wanita Setia Bhakti Wanita Jawa Timur</strong> mengharapkan pelatihan sistem tanggung renteng yang diberikan secara berkala ke anggotanya dapat dipahami bahkan dilaksanakan dengan penuh kesadaran guna meminimalisir permasalahan serta perbedaan pendapat mengenai pengaplikasian sistem tanggung renteng di dalam kelompok. Selain pemahaman mengenai sistem tanggung renteng, anggota koperasi wanita Setia Bhakti Wanita Jawa Timur juga di harapkan untuk turut serta dalam memberikan pendapat baik itu berupa ide maupun kritik yang membangun guna perkembangan Koperasi Wanita Setia Bhakti Wanita Jawa Timur.<span id="more-344"></span></p>
<p>Maka sesuai dengan Rencana Kerja Bidang Organisasi di tahun 2009 guna melatih dan mengembangkan potensi anggotanya, Koperasi Wanita Setia Bhakti Wanita Jawa Timur bersama dengan LAPENKOPNAS (Lembaga Pendidikan Perkoperasian Nasional) memberikan pelatihan tentang Partisipasi Anggota Dalam Pengambilan Keputusan. Pelatihan ini akan di ikuti oleh 377 perwakilan dari kelompok dan dilaksanakan pada tanggal 15 Juni 2009 sampai dengan 18 Juni 2009. Karena begitu banyaknya peserta pelatihan dan agar materi pelatihan yang di berikan bisa lebih mudah untuk di pahami dan diterapkan kelak, maka pelatihan tentang Partisipasi Anggota Dalam Pengambilan Keputusan ini akan di bagi menjadi 2 sesi pelatihan setiap harinya.</p>
<p>Dengan pelatihan-pelatihan yang telah di sampaikan maupun akan di berikan kelak kepada anggota Koperasi wanita Setia Bhakti Wanita Jawa Timur, diharapkan dapat diterapkan di dalam kehidupan sehari-hari dan diaplikasikan di kelompok sehingga misi dari Koperasi Wanita Setia Bhakti Wanita Jawa Timur dapat tercapai yaitu meningkatkan pelayanan koperasi dan kualitas sumberdaya manusia untuk menumbuh kembangkan kehidupan yang lebih bertanggung jawab (mandiri) dan berkesinambungan.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/pelatihan-tentang-partisipasi-anggota-dalam-pengambilan-keputusan.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pelatihan Ketrampilan Glass Painting</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/pelatihan-ketrampilan-glass-painting.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/pelatihan-ketrampilan-glass-painting.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 May 2009 17:29:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fidi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seputar SBW]]></category>

		<category><![CDATA[anggota]]></category>

		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[ketrampilan]]></category>

		<category><![CDATA[pelatihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[Glass painting adalah sebuah ketrampilan dalam melukis di media gelas atau kaca. Kerajinan kaca yang satu ini tampak berbeda dari produk kaca dekorasi yang biasa ditemui di toko-toko kerajinan. Produk yang sering disebut sebagai decorative glass painting ini bisa berupa gelas, lampu hias, toples, tempat lilin, vas bunga dan lain-lain. Agar dapat melukis di atas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong><img class="alignnone size-full wp-image-280" title="gelas" src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2009/05/gelas.jpg" alt="gelas" width="300" height="225" />Glass painting</strong></em> adalah sebuah ketrampilan dalam melukis di media gelas atau kaca. Kerajinan kaca yang satu ini tampak berbeda dari produk kaca dekorasi yang biasa ditemui di toko-toko kerajinan. Produk yang sering disebut sebagai <em>decorative glass painting</em> ini bisa berupa gelas, lampu hias, toples, tempat lilin, vas bunga dan lain-lain.<span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #cccccc;"> </span>Agar dapat melukis di atas material berbahan dasar kaca, benda apapun terbuat dari kaca yang bening dapat dilukis atau diwarnai sesuai dengan kemauan kita. Bahan dasar kaca yang bening, transparan dan berkilau membuat warna-warna yang dilukiskan dapat semakin menonjol dan mempunyai nilai seni tersendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Untuk mengembangkan <span> </span>kemampuan ketrampilan anggotanya, maka Kopwan “SETIA BHAKTI WANITA” Jawa Timur melalui Unit <em>Learning Center</em>nya mengadakan “Pelatihan Ketrampilan Glass Painting”. Dalam pelatihan kali ini akan di bimbing oleh Laksmiwati Etty dari kelompok 370 yang akan dilaksanakan di Gedung II pada tanggal 22, 23, 27 April 2009 serta dilanjutkan pada tanggal 3 Mei 2009. Untuk pendaftaran bisa menghubungi Tim Ketrampilan Setia Bhati Wanita Jawa Timur</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Selain mempunyai nilai artistik sebagai hiasan, kreasi <span> </span>dari glass painting ini juga bisa mempunyai nilai jual tersendiri sehingga dapat menambah penghasilan keluarga.<span class="artikel"> Pelatihan saat ini sifatnya masih dasar. Jadi untuk bisa layak jual harus dikembangkan dengan mengikuti pelatihan lanjutan.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/pelatihan-ketrampilan-glass-painting.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Angin Perubahan di Kelompok 311</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/angin-perubahan-di-kelompok-311.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/angin-perubahan-di-kelompok-311.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 05:22:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seputar SBW]]></category>

		<category><![CDATA[anggota]]></category>

		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[kelompok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Ruang yang sehari-harinya dipenuhi perkakas bengkel itu, nampak tertata rapi. Karena hari itu, ruang tersebut digunakan pertemuan kelompok.Tikar telah digelar memenuhi ruangan. Sementara disudut ruangan sudah nampak Ibu Eko PJ I kelompok 311 menghadap meja yang diatasnya bertumpuk buku administrasi kelompok. Setiap anggota yang datang langsung menghadap PJ untuk melakukan pembayaran kewajiban dan mengisi absen.
Sayangnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="artikel"><img class="size-full wp-image-66 alignleft" title="28" src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2009/05/28.jpg" alt="28" width="294" height="222" />Ruang yang sehari-harinya dipenuhi perkakas bengkel itu, nampak tertata rapi. Karena hari itu, ruang tersebut digunakan pertemuan kelompok.Tikar telah digelar memenuhi ruangan. Sementara disudut ruangan sudah nampak Ibu Eko PJ I kelompok 311 menghadap meja yang diatasnya bertumpuk buku administrasi kelompok. Setiap anggota yang datang langsung menghadap PJ untuk melakukan pembayaran kewajiban dan mengisi absen.</span></p>
<p><span class="artikel">Sayangnya sampai pukul 09.00 ternyata yang ada diruangan tersebut baru 4 anggota. Memang biasanya pertemuan kelompok 311 dimulai pukul 10.00 . Tapi karena pertmuan bulan ini bertepatan dengan puasa, maka disepakati untuk diajukan pukul 09.00 . Sepuluh menit kemudian mulailah anggota berdatangan. Sampai pertemuan dimulai pada pukul 09.15, anggota yang hadir telah mencapai 20 orang. Sehingga ruangan nampak penuh.<span id="more-65"></span></span></p>
<p><span class="artikel">Sebelum acara pertemuan dimulai, mereka saling mengobrol bahkan saling gojlok. Sebagian lagi ada yang mengingatkan teman-temannya untuk tidak lupa mengisi absen. Pendek kata saat itu suasana terasa begitu akrab dan penuh kekeluargaan. Bahkan kalau terdengar telepon rumah berdering, anggota yang terdekat segera mengangkatnya tanpa menunggu tuan rumah. Karena bisa dipastikan, telepon masuk tersebut berasal dari anggota yang tidak sempat hadir. Selain itu juga menunjukan, banyak anggota yang telah familier terhadap suasana rumah tersebut.<br />
Suasana yang riuh karena saling ngobrol berubah senyap, begitu acara dimulai. Saat itu Ibu Is yang duduk dekat PJ I mulai membacakan susunan acara, kemudian dilanjutkan pada pembacaan notulen. Dari notulen itu pula bisa diketahui bahwa pada bulan lalu telah terjadi TR sebesar Rp 900 ribu. Namun dana untuk TR tersebut telah kembali. Dalam notulen itu juga disebutkan, untuk anggota yang mengikuti pelatihan TR mendapat transport Rp 15 ribu. Dana tersebut diambil dari tabungan kelompok. </span></p>
<p><span class="artikel">Acara terus mengalir sampai pada musyawarah pengajuan pinjaman. “Ibu-ibu untuk yang SPP mohon dibaca sendiri,” himbau Ibu Ita selaku PPL yang mendampingi kelompok 311. Mendapat himbauan demikian, anggotapun nampak kebingungan. Karena memang biasanya semua dibacakan oleh PJ termasuk penulisannya. </span></p>
<p><span class="artikel">Meski nampak kikuk, akhirnya himbauan tersebut dilakukan juga. “Wah… enak begini (dibaca sendiri-red) kita bisa tahu lebih rinci” tukas Ibu Rina setelah membaca SPP-nya dan dibenarkan anggota lainnya. Sejak itulah, akhirnya disepakati untuk SPP harus dibaca sendiri oleh anggota yang mengajukan. Disamping itu juga diminta agar SPP tidak lagi ditulis oleh PJ. </span></p>
<p><span class="artikel">Suasana berubah heboh, setelah diketahui plafon kelompok tidak mencukupi. Saat itu anggota yang mengajukan SPP, baik untuk SP 1 maupun SP 2 senilai Rp 38 juta, sementara plafon kelompok hanya ada Rp 30 juta. Ibu Rina yang waktu itu mengajukan SP 1 mencoba merayu Ibu Gin agar menunda SPPnya. Pertimbangannya, bila SPP Ibu Gin yang Rp 10 juta itu ditarik maka semuanya beres. “Bulan depan aja bu, nanti saya dukung. Ibu Gin kan banyak uangnya. Jadi belum mendesak sekarang,” tukas Ibu Rina. </span></p>
<p><span class="artikel">“Hanya orang mati yang tidak butuh duit. Saat ini saya butuh karena saya sudah janjian sama orang. Lagi pula saya juga tidak ada PP. Jadi memang sudah waktunya saya pinjam,” tukas Ibu Gin membalas rayuan Ibu Rina. Suasanapun semakin heboh. Karena masing-masing mengajukan alasan bahwa SPP-nya tidak bisa ditunda. Ada yang beralasan untuk anak sekolah dan ada juga yang beralasan untuk modal usaha menjelang lebaran. </span></p>
<p><span class="artikel">Karena masing-masing bertahan, PPL pun mengajukan beberapa alternatif solusi. Diantaranya dengan memotong pinjaman secara merata. Karena potongannya ternyata cukup besar maka beberapa anggota mulai ikut merayu Ibu Gin. Mendapat serangan yang gencar akhirnya Ibu Gin luluh juga. Ia bersedia menurunkan pinjamannya dari Rp 10 juta menjadi Rp 5 juta. </span></p>
<p><span class="artikel"><br />
Tapi nampaknya keputusan Ibu Gin belum meredakan permasalahan. Beberapa anggota yang SPP ternyata juga masih tidak mau menurunkan SPP-nya. Akhirnya Ibu Ita selaku PPL membuat ketegasan agar kelompok segera membuat keputusan. Sebab kalau semua bertahan pada kepentingannya maka permasalahan tidak akan pernah selesai. Dengan demikian, kelompokpun sepakat agar SPP diturunkan untuk menyesuaikan plafon kelompok. Dengan demikian diputuskan yang mengajukan SP 1 diturunkan Rp 1,25 juta, sedang SP 2 diturunkan Rp 660 ribu. </span></p>
<p><span class="artikel">Heboh, saling rayu dan saling gojlok tapi tidak ada dendam dihati, begitulah suasana musyawarah di kelompok 311. “Ini baru pertama kali terjadi. Mungkin karena akan lebaran sehingga banyak yang butuh. Biasanya lancar-lancar saja karena plafon kelompok selalu cukup.” ujar Ibu Eko.<br />
Dulu lanjutnya, kelompok 311 memang pernah diturunkan plafonnya, karena saat itu kondisinya sedang sakit. Masalah tersebut terjadi sekitar empat tahun lalu karena ulah PJ, sehingga terjadi TR terlalu besar. Saat itu anggota kelompok 311 ini banyak yang berasal dari Siwalan Kerto. Tapi karena banyak bermasalah akhirnya banyak yang dikeluarkan. </span></p>
<p><span class="artikel">“PJ waktu itu suka meminjamkan uang pada anggota maupun non anggota. Ketika si anggota tersebut tidak bisa membayar, maka PJ meminta anggota tersebut untuk SPP. Kemudian ketika realisasi, dipotong sebesar pinjamannya. Karena anggota tersebut merasa tidak ikut memakai uangnya maka iapun tidak mau membayar angsuran. Sehingga mau tidak mau kelompok harus TR terus menerus karena tidak hanya satu anggota yang mengalami hal itu,” ujar Ibu Harto, mantan PJ yang menggantikan PJ bermasalah. </span></p>
<p><span class="artikel">Sejak peristiwa itu, PJ dipegang Ibu Harto. Seiring dengan itu, keanggotan lebih banyak dikembangkan di daerah Rewin. Pada perekembangan selanjutnya, PJ dipegang Ibu Eko hingga sekarang. Saat ini jumlah anggota ada 32 orang dan hanya 5 orang yang berasal dari Siwalan Kerto. Tak mengherankan bila kelompok ini kemudian lebih dikenal dengan kelompok Rewin. </span></p>
<p><span class="artikel">Pertemuanpun kini dilakukan secara anjang sana dengan maksud diantara anggota agar lebih saling mengenal. “Mereka yang mendapat arisan akan ketempatan pertemuan kelompok. Karena sekarang saya yang mendapat arisan maka pertemuan bulan depan dirumah saya,” ujar Ibu Lilik, PJ II yang disambut canda anggota lainnya agar konsumsinya dobel. Karena pada bulan ini tidak ada konsumsi.</span></p>
<p><span class="artikel">Agar permasalahan lama yang membuat kelompok sakit tidak terulang maka dibutlah beberapa aturan kelompok. Diantaranya adalah, kalau TR satu kali maka pinjamannya akan diturunkan Rp 1 juta. Bila ternyata TR dilakukan lebih dari 2 kali maka pinjamannya akan diturunkan 50 %. (gt) </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/angin-perubahan-di-kelompok-311.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pelatihan TR Berjubel</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/pelatihan-tr-berjubel.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/pelatihan-tr-berjubel.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 05:36:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seputar SBW]]></category>

		<category><![CDATA[anggota]]></category>

		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[pelatihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Kalau setiap periode pelatihan mampu menampung 375 anggota berarti untuk menuntaskan program ini dibutuhkan waktu sekitar 15 tahun. Cukup lama memang untuk bisa mencover seluruh anggota. Itulah sebabnya, anggota yang telah mengikuti pelatihan bisa menularkannya pada teman-temannya dikelompok. Atau paling tidak, anggota yang telah mengikuti pelatihan mampu melakukan perubahan dikelompoknya agar menjadi lebih baik.
Bila seluruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="artikel"><img class="alignleft size-full wp-image-77" title="26" src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2009/05/26.jpg" alt="26" width="300" height="224" />Kalau setiap periode pelatihan mampu menampung 375 anggota berarti untuk menuntaskan program ini dibutuhkan waktu sekitar 15 tahun. Cukup lama memang untuk bisa mencover seluruh anggota. Itulah sebabnya, anggota yang telah mengikuti pelatihan bisa menularkannya pada teman-temannya dikelompok. Atau paling tidak, anggota yang telah mengikuti pelatihan mampu melakukan perubahan dikelompoknya agar menjadi lebih baik.</span></p>
<p><span class="artikel">Bila seluruh anggota telah faham terhadap sistem, diharapkan akan dapat meminimalisir permasalahan dikelompok. Sepeti yang terungkap dalam pelatihan yang diselenggrakan Agustus lalu. Permasalahan kelompok yang muncul lebih banyak disebabkan pelaksanaan sistem tanggung renteng tidak dilandasi oleh nilai-nilai tanggung renteng. Diantaranya masalah pendomplengan yang merupakan awal dari kehancuran kelompok karena TR terus menerus dan dianggap memberatkan. . <span id="more-76"></span></span></p>
<p><span class="artikel">Untuk itulah dalam setiap pelatihan tanggung renteng selalu ditekankan tentang nilai-nilai tersebut. Pada Agustus lalu, untuk memahamkan nilai-nilai tanggung renteng, peserta diajak bermain bekiak. Kemudian peserta diajak memaknai permainan tersebut. Dari permainan tersebut jelaslah bahwa untuk mencapai tujuan bersama dibutuhkan nilai-nilai sebagaimana ada dalam tanggung renteng. Dan upaya untuk menjadikan timnya yang terbaik itulah yang seharusnya juga dilakukan pada kelompok. </span></p>
<p><span class="artikel">Tapi memang dalam pelatihan pada Agustus lalu nampaknya kurang optimal hasilnya. Pada pelatihan sebelumnya setiap kelas berisi maksimal 60 orang. Sedang pada Agustus lalu setiap kelas diisi 100 orang lebih. Hal ini terjadi karena disaat pelatihan, bersamaan juga dengan adanya tamu. Sehingga pelatihan yang sedianya dibagi dua kelas akhirnya dijadikan satu. (gt) </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/pelatihan-tr-berjubel.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Merangkai Bunga, Pelatihan Terakhir</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/merangkai-bunga-pelatihan-terakhir.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/merangkai-bunga-pelatihan-terakhir.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 05:39:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seputar SBW]]></category>

		<category><![CDATA[anggota]]></category>

		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[pelatihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Memang dalam tahun ini, anggota tidak hanya mengusulkan 1 jenis pelatihan ketrampilan. Sebagaimana dalam RK- RAPB 2008 yang telah disepakati, pelatihan tahun ini adalah potong rambut, rias wajah, sulam pita dan yang terakhir merangkai bunga. Semua pelatihan tersebut telah direalisasi termasuk merangkai bunga yang dilaksanakan pada Juli lalu. 
”Dana untuk pelatihan ketrampilan ini diambilkan dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="artikel">Memang dalam tahun ini, anggota tidak hanya mengusulkan 1 jenis pelatihan ketrampilan. Sebagaimana dalam RK- RAPB 2008 yang telah disepakati, pelatihan tahun ini adalah potong rambut, rias wajah, sulam pita dan yang terakhir merangkai bunga. Semua pelatihan tersebut telah direalisasi termasuk merangkai bunga yang dilaksanakan pada Juli lalu. </span></p>
<p><span class="artikel">”Dana untuk pelatihan ketrampilan ini diambilkan dari dana pendidikan yang besarnya 7 % dari SHU. Untuk tahun ini anggaran pendidikan nampaknya telah habis. Jadi pelatihan merangkai bunga ini adalah pelatihan yang terakhir. Kalau peserta mau pengembangkannya harus membiayai sendiri. Atau bisa diusulkan pada anggaran tahun depan,” papar Ibu Sadjim dalam sambutan pembukaan pelatihan merangkai bunga. <span id="more-79"></span></span></p>
<p><span class="artikel">Dipaparkan lebih lanjut, dengan pelatihan merangkai bunga, minimal bisa mempercantik ruangan rumah sendiri. Tapi kalau bisa, kemampuannya dikembangkan lebih lanjut sehingga menjadi usaha yang dapat menambah penghasilan keluarga. Pelatihan saat ini sifatnya masih dasar. Jadi untuk bisa layak jual harus dikembangkan dengan mengikuti pelatihan lanjutan. </span></p>
<p><span class="artikel">Dalam pelatihan yang dibimbing oleh Ibu Martha dari kelompok 302 ini diikuti 78 anggota. Dari jumlah peserta tersebut kemudian dibagi 2 kelas dengan 3 kali pertemuan. Seperti pelatihan sebelumnya, pelatihan merangkai bunga inipun diberikan secara cuma-cuma pada anggota. Tapi anggota diminta untuk membawa sendiri bahan bunga yang akan dirangkai. Sebagai perbandingan, biaya untuk pelatihan merangkai bunga ini setiap perserta bisa dikenai Rp 1 juta untuk 15 rangkaian. (gt)</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/merangkai-bunga-pelatihan-terakhir.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Disiplin Hadir Meski Rumah Jauh</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/disiplin-hadir-meski-rumah-jauh.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/disiplin-hadir-meski-rumah-jauh.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jul 2008 06:58:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dinamika Kelompok]]></category>

		<category><![CDATA[anggota]]></category>

		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[kelompok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Saling kenal dan tahu karakter masing – masing anggota dalam satu kelompok, itulah salah satu syarat sistem tanggung renteng. Hal tersebut bisa terjadi karena adanya kedekatan tempat tinggal. Tapi tidak demikian dengan kelompok 332. Berikut liputan Bulletin SBW pada pertemuan kelompok Juni lalu.
Sampai 1989 anggota kelompok 85 yang berada di Putro Agung telah mencapai 75 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="artikel">Saling kenal dan tahu karakter masing – masing anggota dalam satu kelompok, itulah salah satu syarat sistem tanggung renteng. Hal tersebut bisa terjadi karena adanya kedekatan tempat tinggal. Tapi tidak demikian dengan kelompok 332. Berikut liputan Bulletin SBW pada pertemuan kelompok Juni lalu.</p>
<p>Sampai 1989 anggota kelompok 85 yang berada di Putro Agung telah mencapai 75 orang. Sejak itulah pecah kelompok diakukan hingga 4 kali. Dan salah satunya kemudian menjadi kelompok 332 dengan anggota awal 11 orang. Mereka berasal dari sekitar Karang Asem dan Pacar Kembang. Dengan demikian kelompok ini bolehlah dikatakan sebagai kelompok senior. </span></p>
<p><span class="artikel">Tapi jangan kaget bila tidak banyak anggota dikelompok ini yang tahu dan ikut merasakan bagaimana Kopwan SBW semasa berkantor di Jl. Panglima Sudirman. Pasalnya dari 11 anggota awal, ternyata kini hanya tersisa 4 orang. Bahkan kini yang bertempat tinggal di Karang Asem dan Pacar Kembang hanya tersisa 5 orang dari 46 anggota. Justru kebanyakan mereka berasal dari Sidoarjo, Rewin, Tropodo, Benowo bahkan ada yang dari Gersik.<span id="more-151"></span></span></p>
<p><span class="artikel">“Awalnya dari 11 anggota itu mengajak saudaranya untuk jadi anggota SBW. Walaupun mereka itu tidak tinggal di Karang Asem maupun di Pacar Kembang. Kemudian dari saudara – saudara itu mengajak tetangganya untuk ikut. Makanya anggota kelompok 332 ini rumahnya jauh-jauh. Kita pernah menyarankan agar mereka bergabung saja pada kelompok didekat tempat tinggalnya, namun mereka tidak mau,” ungkap Ibu Hermanu, salah satu pendiri kelompok 332 yang juga mantan PJ. </span></p>
<p><span class="artikel">Sudah terlanjur akrab, itulah alasan mereka untuk tidak mau pindah kelompok. Seperti yang diungkapkan Ibu Hadi, saudara Ibu Hermanu yang bertempat tinggal di Rewin. Walaupun untuk menghadiri pertemuan kelompok, Ibu Hadi harus mengeluarkan uang transport cukup besar. “Di Rewin ini ada 5 anggota. Dulu kita biasa urunan Rp 6 000,- untuk naik taksi. Tapi setelah tarif taksi naik, kita urunan beli bensin untuk anggota yang membawa mobil. Tapi kalau anggota yang punya mobil ini tidak hadir, ya&#8230;kita urunan bensin untuk naik sepeda motor berboncengan. Lumayan lah&#8230; lebih irit,” tukasnya. </span></p>
<p><span class="artikel">Walaupun anggota kelompok 332 tempat tinggalnya jauh, tapi mereka cukup disiplin menghadiri pertemuan kelompok yang diadakan di Pacar Kembang V D. Hal ini bisa dilihat dari tingkat kehadiran anggota yang rata-rata 70 %. Seperti pada pertemuan Juni lalu, yang dihadiri 35 orang dari 46 anggota. Tingkat kehadiran ini tentunya ditunjang dengan adanya aturan kelompok yang menyebutkan, anggota yang tidak hadir 3 kali berturut-turut maka SPP-nya ditunda. </span></p>
<p><span class="artikel">Terkait dengan SPP, dikelompok ini juga membuat ketentuan, mereka yang mengajukan harus datang lebih pagi. Bila tidak, maka SPP-nya juga akan ditunda bulan berikutnya. Kesepakatan ini dimaksudkan untuk mempercepat proses penghitungan plafon kelompok dan besarnya pinjaman yang diajukan. Ternyata hal ini juga sangat membantu proses musyawarah SPP manakala plafon kelompok tidak mencukupi. </span></p>
<p><span class="artikel">Apalagi pada beberapa bulan terakhir, kelompok 332 mengalami kekuranga plafon. Sebetulnya untuk meningkatkan plafon juga telah dilakukan penambahan simpanan wajib. Tapi kekurangan plafon masih juga terjadi. Karena pinjaman anggota banyak yang sudah sampai batas maksimal yaitu Rp 10 juta. Itulah sebabnya kemudian muncul lagi kesepakatan agar kekurangan plafon dibagi rata. Seperti pada pertemuan kali ini dimana masing-masing anggota yang mengajukan SPP dikurangi Rp 500 ribu. </span></p>
<p><span class="artikel">Tidak cukup hanya itu, pada pertemuan kelompok Juni lalu muncul lagi aturan dimana potong pinjaman tidak boleh lebih dari 30 %.”Setiap bulan nampaknya kita selalu kekurangan plafon.. Untuk mengatasi masalah plafon ini saya usul agar yang PP tidak lebih dari 30 %. Tapi jangan untuk mengejar 30 % itu lalu angsurannya lebih dari 2. Ini supaya yang SPP tidak barengan sehingga plafonnya bisa cukup,” tandas Ibu Nasasi, PJ I kelompok 332. </span></p>
<p><span class="artikel">Usulan PJ I ini nampaknya juga tidak begitu saja diterima anggota. Diantaranya ada yang beralasan bahwa kebutuhan bisa muncul ditengah jalan. Ketika angsuran baru berjalan 50 % ternyata sudah butuh dana. “Nek nuruti kebutuhan gak onok marine. Jadi kebutuhan itu juga harus dilihat penting tidaknya. Selain itu juga harus dihitung kemampuannya. Saya sebagai PJ ini juga selalu deg-degan, karena pinjaman kita juga sudah get-getan. Mangkakno bu musywarahnya ojok asal setuju. Karena nanti kalau terjadi TR juga besar,” tukas Ibu Nasasi menanggapi. </span></p>
<p><span class="artikel">Memang anggota kelompok 332 cukup dinamis dalam bermusyawarah. Tidak hanya saat musyawarah SPP tapi juga ketika membuat aturan kelompok. Anggota juga aktif bertanya tentang berbagai kegiatan yang ada di koperasi terutama yang telah diikuti oleh PJ atau anggota yang mewakili. Seperti pada pertemuan Juni lalu, anggotan menanyakan berbagai kegiatan HUT, pelatihan ketrampilan hingga temu wicara. Kendati yang berani bersuara masih terbatas beberapa anggota. Tentunya kedepan diharapkan semua anggota kelompok ini bisa aktif dalam bermusyawarah. </span></p>
<p><span class="artikel">Sedang dari sisi administrasi , kelompok 332 juga cukup rapi. Setiap anggota yang datang langsung disodori daftar hadir. Setelah itu mengambil kartu biru dan kitir tagihan yang sudah dikemas dalam satu wadah plastik. Baru setalah itu anggota menuju ruang sebelah. Disana PJ I telah menunggu anggota yang akan membayar kewajibannya. Tapi tak lupa anggotapun harus mengisi kartu birunya. Dari situlah akan bisa diketahui siapa saja anggota yang belum menyelesaikan kewajibannya. Karena setiap anggota yang telah membayar kewajiban maka kitirnya sudah diambil. (&#8211;)</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/disiplin-hadir-meski-rumah-jauh.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Kepentingan Bersama Diutamakan</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/kepentingan-bersama-diutamakan.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/kepentingan-bersama-diutamakan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 25 Jul 2008 06:59:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dinamika Kelompok]]></category>

		<category><![CDATA[anggota]]></category>

		<category><![CDATA[kelompok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=153</guid>
		<description><![CDATA[Ketika kepentingan pribadi jadi dasar dalam pengambilan keputusan. Ketika aturan dan hasil kesepakatan diabaikan. Itulah awal perpecahan yang menuju pada kehancuran. Tidak percaya ??? kelompok 499 punya bukti tentang hal tersebut.
Suasana keakraban dan kekeluargaan saat itu sangat terasa pada pertemuan kelompok 499. Seakan, sebagai keluarga, mereka sudah lama tidak bertemu. Sehingga pertemuan kelompok menjadi ajang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="artikel">Ketika kepentingan pribadi jadi dasar dalam pengambilan keputusan. Ketika aturan dan hasil kesepakatan diabaikan. Itulah awal perpecahan yang menuju pada kehancuran. Tidak percaya ??? kelompok 499 punya bukti tentang hal tersebut.</p>
<p>Suasana keakraban dan kekeluargaan saat itu sangat terasa pada pertemuan kelompok 499. Seakan, sebagai keluarga, mereka sudah lama tidak bertemu. Sehingga pertemuan kelompok menjadi ajang lepas kangen. </span></p>
<p><span class="artikel">Setiap anggota yang baru datang selalu disambut dengan rasa riang dan canda tawa. Mereka saling bersalaman bahkan peluk dan cium sebagaimana ikatan sebuah keluarga. Tak ketinggalan mereka juga saling kabar - kabari tentang kondisi masing-masing. Sehingga suasana nampak riuh penuh cerita dan tawa.</span></p>
<p><span class="artikel">Suasana tersebut tentunya berbeda dengan 2 tahun lalu. Bahkan boleh dikata bertolak belakang. Bagaimana tidak, saat itu pertemuan kelompok justru sering dijadikan ajang adu urat leher. Hak yang semestinya bisa didapat setiap anggota, ternyata hak tersebut hanya bisa dinikmati anggota-anggota tertentu. Sehingga ada anggota yang merasa dianak tirikan. Sakit hati&#8230; tentu saja terjadi, karena merasa diperlakukan tidak adil. Akhirnya terjadilah dua kubu yang saling bertentangan dan puncaknya mereka menuntut perpisahan. <span id="more-153"></span></span></p>
<p><span class="artikel">Tak bisa dielakan, kelompok inipun akhirnya pecah dan lahirlah kelompok 499. Kejadian sebelumnya, dijadikan pelajaran berharga dalam pengelolaan kelompok ini. Bahkan sebagai tanda untuk membuka lembaran baru, merekapun mengadakan selamatan dengan memotong kambing.<br />
”Yok opo enake dan yok opo kabeh bisa merasakan enak,” celetuk Ibu Fajar, PJ II kelompok 499 yang saat itu ketempatan sebagai tuan rumah. ”Enak-enakan aja, semua permasalahan tidak perlu diselesaikan dengan otot-ototan. Kita kembalikan saja pada aturan main dan hasil kesepakatan bersama,” tambah Ibu Didik, PJ I kelompok 499.</span></p>
<p><span class="artikel">”Memang kalau eker-ekeran terus jadi tak barokah,” celetuk salah satu anggota. Cukup beralasan memang yang disampaikan. Setidaknya anggota kelompok 499 kini telah merasakan kenyamanan dalam pertemuan kelompok. Berbagai permasalahan dihadapi dengan bermusyawarah berlandaskan semangat kebersamaan dan kekeluargaan.</span></p>
<p><span class="artikel">Seperti pada pertemuan Maret lalu. Saat itu Ibu Trias Ayu menyampaikan bahwa Ibu Rika terkena demam berdarah dan harus opname. Tentu saja kewajiban pada koperasi juga belum bisa dibayar. Sementara Ibu Trias Ayu yang merasa paling bertanggung jawab terhadap Ibu Rika juga tidak mempunyai uang untuk menalangi dulu. </span></p>
<p><span class="artikel">Ini memang masalah, karena kewajiban secara kelompok tidak terpenuhi. Tapi bagi kelompok 499, hal tersebut bukanlah masalah yang harus diselesaikan dengan adu urat leher dan saling menyalahkan. Keterbukaan dari anggota yang punya masalah dan semangat anggota yang dilandasi rasa keleluargaan dan kebersamaan, menjadikan masalah mudah diselesaikan. Kewajiban yang tak terbayar ditalangi dulu dengan tabungan kelompok. Justru yang menjadi bahan pembicaraan, bagaimana bisa bersama-sama menjenguk Ibu Rika yang sakit. </span></p>
<p><span class="artikel">Melihat proses penyelesaian masalah tersebut nampaknya memang ada yang janggal. Karena ketika ada yang tidak membayar kewajiban, kenapa ada yang merasa paling bertanggung jawab. Bukankah dalam sistem tanggung renteng lebih menekankan pada tanggung jawab bersama dalam satu kelompok. </span></p>
<p><span class="artikel">Tapi nampaknya kelompok ini mempunyai aturan berbunyi, siapa yang merekomendasi masuknya anggota baru dialah penanggung jawab utama atas anggota tersebut. Namun bila ternyata ia juga tidak mampu untuk bertanggung jawab sendiri maka akan tetap menjadi tanggung jawab seluruh anggota kelompok. Tentunya aturan ini juga menuntut pada semua anggota untuk terbuka dan punya rasa tanggung jawab.</span></p>
<p><span class="artikel">Itulah sebabnya Ibu Trias Ayu merasa paling bertanggung jawab atas kewajiban Ibu Rika ketika ia tidak bisa membayar kewajibannya. Karena masuknya Ibu Rika dalam kelompok ini atas rekomendasi Ibu Trias Ayu. Namun Ibu Trias Ayu pada pertemuan bulan Maret itu kebetulan tidak punya cukup uang untuk menanggung sepenuhnya kewajiban Ibu Rika. Dan masalah inilah yang disampaikan secara terbuka pada seluruh anggota untuk dimusyawarahkan. Dan seluruh anggotapun memaklum kondisi tersebut.</span></p>
<p><span class="artikel">Nampaknya pola ini terus berkembang. Sehingga bila ada anggota yang belum bisa membayar kewajiban saat pertemuan kelompok, mereka meminta pada anggota sebagai teman terdekatnya untuk menalangi dulu. Dalam hal ini prinsipnya adalah kerana mereka tidak ingin menyusahkan anggota kelompok secara keseluruhan. </span></p>
<p><span class="artikel">”Saya dan Ibu Chusnul biasa gantian. Kalau pas tidak ada uang saya minta Ibu Chusnul untuk menalangi dulu. Dan sore atau besoknya baru saya kembalikan. Begitu pula sebaliknya. Pokok’ke mana yang ada dulu. Sehingga tidak menyusahkan kelompok,” ujar Ibu Indra, yang kebagian menjadi notulen kelompok 499 dan dibenarkan Ibu Chusnul.</p>
<p>Membangun Kebersamaan<br />
Susah – senang dijalani bersama. Kalau ada yang belum bisa membayar kewajiban, dengan keikhlasan mereka menanggungnya. Dan untuk meringankan beban, mereka pun mengadakan kas kelompok yang saat ini telah mencapai Rp 1,9 juta. Bila ada anggota yang sakit atau kena musibah, merekapun beramai-ramai berta’ziah. Dan kelompok inipun menghimpun dana dari anggotanya untuk kas sosial.<br />
Begitu pula bila ada yang mendapat suatu yang menyenangkan, semuanya diajak. Seperti tahun lalu ada salah satu anggota yang mendapat voucher menginap di hotel di Batu. Seluruh anggotapun beramai-ramai berangkat. Pada Januari lalu juga demikian. Kelompok ini mengadakan peringatan ulang tahunnya yang ke 2. Disamping dirayakan dengan acara makan-makan, kelompok ini juga mengundang anak yatim untuk mendapat santunan. </span></p>
<p><span class="artikel">Bahkan untuk membangun kebersamaan, setiap bulan mereka mengadakan iuran Rp 1000,-. Dari hasil iuran itu dibelikan 3 jenis barang yang akan dijadikan door prize pada saat pertemuan kelompok. Hal-hal seperti inilah yang ternyata semakin menyatukan rasa diantara anggota dan pertemuan kelompok menjadi suatu yang menyenangkan. </span></p>
<p><span class="artikel">Tapi kelompok ini juga membuat aturan ketat bagi anggota yang selalu mengabaikan aturan dan kurang punya rasa tanggung jawab. Untuk mereka yang 2 kali terkena TR secara berturut-turut maka SPP-nya diturunkan 25 %. Dan bila lebih dari 3 kali kena TR maka ia akan dikeluarkan dari keanggotaan. Selama berdiri, kelompok ini telah mengeluarkan 1 anggotanya. Sementara seluruh kewajiban menjadi tanggung jawab seluruh anggota. Kebetulan anggota yang dikeluarkan tersebut juga masih punya niat baik. Setiap bulan ia masih membayar kewajibannya walaupun tidak penuh. Pembayaran itu kemudian dikumpulkan dan dibagikan kepada seluruh anggota sesuai dengan uang yang dibayar untuk TR. (&#8211;) </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/kepentingan-bersama-diutamakan.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pacu Adrenalin, Pererat Pesaudaraan</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/pacu-adrenalin-pererat-pesaudaraan.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/pacu-adrenalin-pererat-pesaudaraan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 05:41:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seputar SBW]]></category>

		<category><![CDATA[anggota]]></category>

		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[Berteriak sepuasnya memang bisa melepaskan kekesalan dan depresi. Tapi hal itu tidak memungkinkan untuk dilakukan di Surabaya yang padat pemukiman. Kalaupun dilakukan, bisa-bisa bertambah stres karena dicaci maki tetangga. Bahkan bisa jadi kena timpuk sandal tetangga. Berbeda bila dilakukan di alam bebas. Seperti yang dilakukan PPL pada Juli lalu.
Suntuk, kesal dan entah perasaan tak enak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="artikel">Berteriak sepuasnya memang bisa melepaskan kekesalan dan depresi. Tapi hal itu tidak memungkinkan untuk dilakukan di Surabaya yang padat pemukiman. Kalaupun dilakukan, bisa-bisa bertambah stres karena dicaci maki tetangga. Bahkan bisa jadi kena timpuk sandal tetangga. Berbeda bila dilakukan di alam bebas. Seperti yang dilakukan PPL pada Juli lalu.<br />
Suntuk, kesal dan entah perasaan tak enak apalagi yang dirasa PPL ketika mendapatkan kelompok binaanya bermasalah. Perasaan itu semakin menjadi-jadi ketika menjelang dilaksanakan pertemuan PPL ataupun pertemuan insidentil. Karena disaat itulah semua permasalahan diungkap. Bahkan kalau salah dalam penanganan bisa sanksi yang didapat. Itulah sebabnya PPL menyambut gembira ketika diberi kesempatan untuk ikut outbond. Apalagi outbond kali ini ditambah dengan rafting (arung jeram). </span></p>
<p><span class="artikel">Tapi ketika, dipaparkan bagaimana medan arung jeram yang akan dihadapi, beberapa PPL menjadi surut semangatnya. Apalagi mereka yang tak bisa berenang ataupun secara fisik tidak memungkinkan ikut. Tapi sebagian besar justru ingin mencoba tantangan tersebut. Maka berangkatlah PPL bersama Pengurus dan Pengawas ke Desa Condong Kecamatan Piris - Probolinggo pada 18 Juli.<span id="more-82"></span></span></p>
<p><span class="artikel">Karena berangkatnya setelah sholat Jum’at maka tiba di lokasi juga sudah malam. Apalagi saat itu ada kampanye dari salah satu calon gubernur Jatim, sehingga jalanan macet. Kendati sampai dilokasi sudah malam atau sekitar pukul 19.00, acara sesuai rencana terus dilanjutkan. Setelah makan malam, PPL, Pengurus dan Pengawas melebur jadi satu untuk mengikuti game yang dipandu tim Songa Adventure. </span></p>
<p><span class="artikel">Dalam game inilah mereka dibuat tertawa lepas, sesekali mengerutkan dahi bahkan berjoget riang. Tapi pada dasarnya dalam beberapa game yang dimainkan tersebut ada unsur penggalian kemampuan analisa dan kecepatan merespon kondisi. Game diakhiri dengan membuat rancang bangun dengan bahan dari koran dan solasi. Tentu saja tidak ada satupun rancangan yang bisa bertahan berdiri tegak setelah kena angin malam. Tapi disini mengandung pembelajaran bagaimana bekerja secara tim. Kemudian membuat perencanaan dan mengaplikasikannya. Acara inipun berlangsung hingga pukul 11.20. Padahal esok harinya akan melakukan rafting.<br />
Untuk tidur para peserta rafting ini jangan dibayangkan seperti penginapan atau hotel. Karena semua peserta yang menginap di Songa Adventure tidur di saung yang telah ditata seperti perkampungan pedalaman. Tapi nampaknya semua peserta menikmati suasana tersebut. Sehingga saat bangun pagi sudah nampak segar dan siap untuk menyusuri Sungai Pekalen.</span></p>
<p><span class="artikel">Mengerikan, itulah yang tergambar dibenak peserta ketika mendapat paparan dari sang guide. ”Kalau nanti ada yang tercebur biarkan saja dan jangan panik,” demikian kata sang guide sambil menjelaskan bagaimana menolong teman yang jatuh. Tentu saja penjelasan tersebut semakin menyiutkan nyali peserta yang tadinya memang sudah takut. </span></p>
<p><span class="artikel">Setelah semua peserta mendapat peralatan seperti pelampung, helm dan dayung, merekapun diangkut dengan mobil bak terbuka menuju lokasi di Desa Pesawahan. Dari perkampungan terakhir, peserta berjalan kaki menuju sungai sekitar 1 km. Di lokasi start, ketika peserta mulai naik boat itulah, wajah-wajah tegang terlihat. Dan diawal perjalanan itu boat sudah mulai dogoncang oleh alunan air yang cukup keras. Kontan saja wajah – wajah ketakutan itu semakin menegang. Merekapun berteriak sambil berpegang erat pada tali boat. </span></p>
<p><span class="artikel">Dalam perjalanan dari 6 boat yang memberangkatkan rombongan dari SBW ini, satu diantaranya terbalik yaitu rombongan Ibu Adi Roso. Bahkan saat itu tim sempat panik karena Ibu Adi Roso terlihat. Dan ternyata ibu yang gemuk ini berada dibalik boat sambil memegangi tali.<br />
Serem tapi menyenangkan, itulah kesan dari peserta rafting. Apalagi pemandangan sepanjang sungai Pekalen yang disusuri cukup eksotik. Tak mengherankan bila beberapa PPL berkeinginan untuk berangkat sendiri. Dan yang jelas selama perjalanan itu mereka bisa berteriak sepuas dan sekeras mungkin. Karena yang mendengar hanya tebing-tebing sungai. Dalam route sepanjang 10 km ini terdapat 8 titik rawan dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. </span></p>
<p><span class="artikel">Setelah PPL, pada bulan berikutnya ganti rombongan karyawan yang berangkat ikut rafting. Sama seperti PPL, ketika ditawari pertama kali, beberapa karyawan juga tidak bersedia ikut. Macam-macam alasannya tapi sebagian besar menyatakan tidak bisa berenang. Tapi setelah itu semua menyatakan terkesan bahkan beberapa ingin kembali. Dari perjalanan yang memacu adrenalin ini nampaknya semakin mempererat tali bersaudaraan. (gt) </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/pacu-adrenalin-pererat-pesaudaraan.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Beban Lebih Ringan Bila PJ Sebagai Koordinator</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/beban-lebih-ringan-bila-pj-sebagai-koordinator.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/beban-lebih-ringan-bila-pj-sebagai-koordinator.html#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 17 Jul 2008 06:54:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dinamika Kelompok]]></category>

		<category><![CDATA[anggota]]></category>

		<category><![CDATA[kelompok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=147</guid>
		<description><![CDATA[Kelompok ini tergolong tua. Setidaknya saat ini telah berusia 24 tahun. Tapi selama itu pula kelompok ini belum pernah ada anggotanya yang melalaikan kewajiban. Dan saat ini anggotanya telah mencapai 52 orang. Itulah kelompok 186 yang bermarkas di Jl Kutisari Utara II.
Rumah yang berada di Jl. Kutisari Utara II/ 8 itu nampak ramai setiap tanggal [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="artikel"><img class="alignleft size-full wp-image-148" title="3" src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2009/05/3.jpg" alt="3" width="240" height="162" />Kelompok ini tergolong tua. Setidaknya saat ini telah berusia 24 tahun. Tapi selama itu pula kelompok ini belum pernah ada anggotanya yang melalaikan kewajiban. Dan saat ini anggotanya telah mencapai 52 orang. Itulah kelompok 186 yang bermarkas di Jl Kutisari Utara II.</p>
<p>Rumah yang berada di Jl. Kutisari Utara II/ 8 itu nampak ramai setiap tanggal 5 pukul 16.30. Setidaknya dirumah tersebut ada 37 perempuan berkumpul memenuhi beranda dan ruang tamu. Sebagian diantara mereka nampak berseragam berwarna crem. Sementara didekat pintu masuk telah dijajar meja yang diatasnya terdapat berbagai buku administrasi kelompok. Setiap anggota yang baru datang langsung menghampiri meja dan mengisi daftar hadir. Begitulah sekilas suasana pertemuan kelompok 186 pada September lalu. </span></p>
<p><span class="artikel">Sebelum acara pertemuan dimulai, anggota nampak ramai. Ada yang sibuk ngobrol dengan teman didekatnya. Tapi ada pula beberapa anggota yang sibuk melihat barang dagangan yang dibawa oleh salah satu anggota. Sementara di belakang meja Ibu Rini, PJ I dan Ibu PJ II kelompok 186 sibuk menata administrasi. Anehnya, disaat itu tidak nampak kegiatan pembayaran kewajiban. Bahkan diatas meja tidak terlihat selembarpun uang. <span id="more-147"></span></span></p>
<p><span class="artikel">Apakah anggota tidak ada yang membayar kewajiban pada pertemuan kelompok saat itu ? Ternyata memang benar. “Pada saat pertemuan kelompok memang sudah tidak ada yang membayar kewajiban. Kalaupun ada jumlahnya tidak banyak. Karena semua pembayaran kewajiban telah dilakukan pada 2 hari sebelum pertemuan kelompok. Sebab kalau dilakukan saat pertemuan maka membutuhkan waktu yang lama. Karena anggotanya banyak,” ungkap Ibu RiniPJ I kelompok 186 pada bulletin SBW.</span></p>
<p><span class="artikel">Sudah menjadi kesepakatan seluruh anggota kelompok, untuk pembayaran kewajiban dilakukan di rumah PJ I sebelum hari pertemuan kelompok. Untuk kebutuhan tersebut, PJ I yang juga pensiunan pegawai sipil AL ini selalu stand by di rumahnya terutama pada 2 hari sebelum pertemuan kelompok. Tapi itupun tidak boleh lebih dari pukul 2 siang, sebab diatas itu PJ I menggunakan waktunya untuk istirahat agar disaat pertemuan kelompok kondisi tubuh bisa prima. </span></p>
<p><span class="artikel">Dan seperti telah disepakati, ketika jam dinding menunjukan pukul 16:30, PJ I mulai membuka pertemuan kelompok dengan do’a. Walaupun saat itu baru terkumpul 30 anggota. Kendati demikian untuk urusan pembayaran kewajiban telah tuntas, sehingga perhatian anggotapun bisa terfocus pada acara. Dari acara satu ke acara lainnya terus mengalir hingga sampai pada pembacaan pengajuan SPP.</span></p>
<p><span class="artikel">Satu persatu pengajuan pinjaman dibacakan oleh PJ I dan anggotapun menyetujui semua pinjaman tanpa ada perdebatan. Melihat kondisi yang adem ayem itu, PPL mencoba untuk mengingatkan anggota agar tidak asal setuju. Kendati demikian anggota tetap adem ayem. “Kita semua sudah tahu siapa anggota yang mengajukan pinjaman, karena mereka adalah tetangga dekat. Dan kita sudah saling percaya,” ujar salah satu anggota mencoba memberi alasan kenapa adem ayem saja ketika memusyawarahkan pengajuan pinjaman.</span></p>
<p><span class="artikel">PPL saat itu juga mencoba mengingatkan pada anggota, agar melihat kembali catatan tentang kondite masing-masing anggota yang mengajukan SPP saat itu. Menanggapi hal tersebut PJ I mencoba membolak-balik catatan, dan memang terbukti tidak ada kondite jelek. Sehingga musyawarah yang membahas pengajuan pinjaman berjalan mulus. Apalagi plafon kelompok juga mencukupi. </span></p>
<p><span class="artikel">Cukup beralasan memang bila pengajuan pinjaman saat itu berjalan mulus. Karena tingginya rasa saling percaya diantara anggota dan masing-masing anggota bisa menjaga kepercayaan tersebut. Hal ini terbukti dari berdiri hingga kini, belum ada anggota yang melalaikan kewajibannya. Bahkan dalam hal pembayaran kewajiban, anggota kelompok 186 tergolong disiplin. Kebanyakan dari anggota sudah melunasi pembayaran kewajiban jauh hari sebelum hari pertemuan.</span></p>
<p><span class="artikel">“Saya tak pernah bingung atau pusing bila menjelang pertemuan kelompok. Bahkan saya masih sempat tidur siang. Masing-masing anggota sudah mengerti tanggung jawabnya sendiri. Jadi saya sebagai PJ tak pernah ngobrak-obrak anggota. Dan saya dibantu dengan PJ II tinggal mengkoordinir pembayaran kewajiban anggota,” ujar PJ I dan dibenarkan PJ II yang saat itu duduk disebelahnya.</span></p>
<p><span class="artikel">Acarapun terus berlanjut, hingga PJ I menyampaikan bahwa ada 2 orang yang akan bergabung menjadi anggota kelompok 186. Disaat 2 calon anggota tersebut memaparkan data pribadinya, sebagian anggota nampak mesam – mesem. Bagaimana tidak, karena kedua orang tersebut adalah tetangga yang sudah mereka kenal. </span></p>
<p><span class="artikel">Sebetulnya anggota kelompok 186 ini sudah tergolong banyak. Tapi karena PJ masih merasa mampu mengkoordinir anggotanya maka penambahan terus dilakukan. Apalagi kebijakan dari Kopwan SBW membolehkan hal tersebut. Disamping itu pertimbangannya dengan jumlah anggota yang banyak, bila terjadi TR akan terasa lebih ringan karena ditanggung banyak anggota. Walaupun hingga kini belum pernah ada anggota yang melalaikan kewajibannya (di TR). Sehingga tabungan kelompokpun tidak pernah terpakai dan hingga kini telah mencapai Rp 3 juta lebih. Itulah kebersamaan yang telah terbentuk di kelompok 186.</span></p>
<p><span class="artikel">Kebersamaan di kelompok 186 ini juga dibuktikan dengan seragam yang dikenakan anggota saat pertemuan kelompok. Munculnya seragam kelompok itu berangkat dari pertimbangan agar tidak ada pembeda diantara anggota. “Anggota kita itukan beragam. Dan biasanya ibu-ibu itu malu kalau setiap pertemuan bajunya itu-itu saja. Makanya dari pada bingung harus pakai apa kalau mau ke pertemuan ya… mending pakai seragam saja. Selain itu dengan berseragam ada rasa kebersamaan. Tidak ada lagi saling lirik melihat baju teman yang bagus atau yang kurang bagus, semuanya sama,” tukas PJ I(&#8211;)</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/beban-lebih-ringan-bila-pj-sebagai-koordinator.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Realisasi Rencana Ketrampilan</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/realisasi-rencana-ketrampilan.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/realisasi-rencana-ketrampilan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 May 2008 05:47:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seputar SBW]]></category>

		<category><![CDATA[anggota]]></category>

		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[ketrampilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Setiap tahun Kopwan SBW selalu membuat rencana untuk pemberdayaan anggota dengan memberikan berbagai pelatihan ketrampilan. Rencana inipun dibuat berdasarkan usulan anggota yang kemudian disahkan dalam rapat anggota. Untuk tahun ini rencana ketrampilan nampaknya banyak jenisnya. Dalam RK-RAPB 2008 disebutkan, untuk ketrampilan pada tahun ini adalah pelatihan potong rambut, rias wajah, merangkai bunga, bordir dan sulam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="artikel"><img class="alignleft size-medium wp-image-90" title="22" src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2009/05/22-300x224.jpg" alt="22" width="300" height="224" />Setiap tahun Kopwan SBW selalu membuat rencana untuk pemberdayaan anggota dengan memberikan berbagai pelatihan ketrampilan. Rencana inipun dibuat berdasarkan usulan anggota yang kemudian disahkan dalam rapat anggota. Untuk tahun ini rencana ketrampilan nampaknya banyak jenisnya. Dalam RK-RAPB 2008 disebutkan, untuk ketrampilan pada tahun ini adalah pelatihan potong rambut, rias wajah, merangkai bunga, bordir dan sulam pita. </span></p>
<p><span class="artikel">Sebagai realisasi dari rencana tersebut, telah diawali dengan mengadakan pelatihan tata rias wajah sejak 6 Mei lalu. Dalam pelatihan ini peserta diberikan ketrampilan bagaimana merawat dan merias wajah sendiri. Sehingga penampilan nampak selalu segar dan cantik sepanjang hari. Untuk itulah, pada kesempatan itu peserta juga diberikan ketrampilan bagaimana merias wajah untuk pagi dan malam hari. <span id="more-89"></span></span></p>
<p><span class="artikel">Pelatihan yang diikuti 60 anggota ini dibagi dalam dua kelas yaitu kelas pagi dan kelas siang. Sedang masa pelatihan dibagi menjadi 6 kali pertemuan dan berakhir dengan ujian yang diselenggarakan pada 27 Mei lalu. “Semoga apa yang ibu – ibu dapatkan bisa bermanfaat, minimal untuk diri sendiri sehingga bisa selalu nampak cantik dihadapan suami. Syukur-syukur ketrampilan yang ibu dapatkan bisa dikembangkan menjadi usaha baru untuk menambah penghasilan keluarga,” harap Ibu Sadjim, Ketua I Kopwan SBW sebelum acara ujian dilaksanakan.<br />
Karena rencana pelatihan ketrampilan ini banyak jenisnya, maka realisasinyapun dibuat beruntun. Begitu pelatihan ketrampilan tata rias wajah telah usai, tak lama setelah itu dilanjutkan dengan membuka pelatihan ketrampilan tata rambut. Pelatihan ketrampilan menata rambut ini dimulai sejak 3 Juni lalu. Rencananya pelatihan ini berlangsung hingga 12 kali pertemuan. Dalam pelatihan ini diikuti 75 anggota yang dibagi dalam 3 kelas. </span></p>
<p><span class="artikel">Pada pelatihan tata rias wajah dan tata ramput, peserta dibimbing oleh dua instruktur yang semuanya juga anggota. Kedua instruktur tersebut adalah Ibu Maya Sukatman dan Ibu Hartani Mahdi Kedua ibu ini saling bahu membahu dalam mmberikan materi hingga praktek. Bahkan dengan ketelatenannya, kedua ibu ini tidak segan-segan mendatangi satu per satu peserta untuk memberi pengarahan. (gt) </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/realisasi-rencana-ketrampilan.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

