<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	>

<channel>
	<title>Setia Bhakti Wanita &#187; kegiatan</title>
	<atom:link href="http://www.setiabhaktiwanita.com/tag/kegiatan/feed" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://www.setiabhaktiwanita.com</link>
	<description>Berkembang dengan Derap Kebersamaan</description>
	<pubDate>Tue, 24 Jan 2012 03:20:21 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=abc</generator>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
			<item>
		<title>Menegkop :  Hebat .. SBW Mampu Menekan NPL Hingga 0 %</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/menegkop-hebat-sbw-mampu-menekan-npl-hingga-0.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/menegkop-hebat-sbw-mampu-menekan-npl-hingga-0.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 10 Nov 2009 07:28:13 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seputar SBW]]></category>

		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[koperasi]]></category>

		<category><![CDATA[tanggung-renteng]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=405</guid>
		<description><![CDATA[Menteri Negara Koperasi dan UKM Sjarifuddin Hasan, kagum begitu mendengar bahwa NPL di Kopwan SBW 0 %. Apalagi juga dijelaskan bahwa dana LPDB bisa terserab habis oleh anggota dan aman.
Bagi lembaga keuangan, mencapai NPL 0 % seakan mustahil. Tapi tidak demikian dengan Kopwan SBW yang dengan sistem tanggung rentengnya mampu menekan NPL hingga mendekati 0 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p align="center"><em>Menteri</em><em> Negara </em><em>Koperasi dan UKM</em><em> Sjarifuddin Hasan, kagum begitu mendengar bahwa NPL di Kopwan SBW 0 %. Apalagi juga dijelaskan bahwa dana LPDB bisa terserab habis oleh anggota dan aman.</em></p>
<p><img src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2009/11/Menkop-300x224.jpg" alt="Menkop" title="Menkop" width="300" height="224" class="alignnone size-medium wp-image-406" />Bagi lembaga keuangan, mencapai NPL 0 % seakan mustahil. Tapi tidak demikian dengan Kopwan SBW yang dengan sistem tanggung rentengnya mampu menekan NPL hingga mendekati 0 %. Hal ini pula yang membuat kagum Bp Menteri Negara Koperasi dan UKM, Sjarifuddin Hasan saat berkunjung ke Kopwan SBW pada 7 Nopember lalu.</p>
<p>Nampaknya sistem tanggung renteng masih asing bagi Menteri Koperasi dan UKM yang baru. Tak mengherankan bila pengganti Bp Suryadharma Ali ini serasa biasa-biasa saja ketika masuk ke Kopwan SBW. Apalagi ketika memasuki gedung I Kopwan SBW yang terlihat sepi.</p>
<p><span id="more-405"></span>“Kok sepi,” tanya Bp Sjarifuddin Hasan pada Ibu Sadjim yang saat itu berada disampingnya. Mendapat pertanyaan tersebut, Ibu Sadjim, Ketua I Kopwan SBW menjelaskan tentang hari keja di Kopwan SBW. Dari penjelasan tersebut, terus berlanjut pada pemaparan tentang keberadaan Kopwan SBW. Termasuk bagaimana gedung-gedung Kopwan SBW dibangun dengan keswadayaan anggotanya.</p>
<p>Kunjungan Menteri Koperasi dan UKM ke Kopwan SBW ini memang sangat singkat. Bahkan rombongan yang tiba sekitar pukul 11.00 itu tidak sempat duduk. Sehingga penjelasan tentang keberadaan Kopwan SBW diberikan sambil berjalan menyusuri gedung I dan gedung II.</p>
<p>Dalam perjalanan itulah Ibu Sadjim yang berada disamping Bp Mentri terus memberi pemaparan tentang terbentuknya Kopwan SBW hingga sistem pelayanan pada anggota. “Pinjaman untuk anggota itu pada tahapan pertama sebesar Rp 750 ribu. Setelah itu batas pinjaman akan mengikuti sistem plafon dengan batas maksimal pinjaman sampai Rp 16 juta per orang,” papar Ibu Sadjim.</p>
<p>“Kopwan SBW ini juga termasuk salah satu primer Puskowanjati yang menerima dana LPDB,” celetuk Bapak Fadjar Sofyar, Direktur LPDB kepada Bapak Menteri. “Terus bagaimana pola penyalurannya,” tanya Bp Sjarifuddin. “Untuk penyalurannya, semua terserab anggota. Karena omset kita per bulan itu sekitar Rp 10 sampai Rp 11 miliar,” papar Ibu Sadjim. Penjelasan ini nampaknya juga membuat Bp Mentri Koperasi dan UKM merasa puas.</p>
<p>Di gedung II tepatnya di ruang garment, Bp Mentri sempat berhenti agak lama. “Yang berjualan disini semuanya anggota. Mereka menyewa pada koperasi perbulannya Rp 125 ribu,” papar Ibu Sadjim menjelaskan tentang ruang yang disewa anggota untuk berjualan.  Ruang tempat memajang berbagai produk anggota tersebut  lebih dikenal dengan ruang garment.</p>
<p>Dari gedung II, rombongan terus diajak menuju swalayan SBW. Disinilah Bapak Menteri mendapat penjelasan bahwa dengan sistem tanggung renteng NPL bisa ditekan hingga 0 %. Seakan tidak percaya mendengar itu, Bp Menteri mengulanginya dengan pertanyaan untuk memastikan apa yang telah didengar. Keraguan itupun dijawab Ibu Sadjim dengan menjelaskan sekilas tentang sistem kelompok tanggung renteng. “Hebat….SBW mampu mencapai NPL 0 %,” tukas Bp Sjarifuddin kepada rombongan yang menyertainya. Pujian itupun disambut tepuk tangan oleh seluruh yang hadir.  (gt)</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/menegkop-hebat-sbw-mampu-menekan-npl-hingga-0.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Peringatan HUT 31</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/peringatan-hut-31.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/peringatan-hut-31.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Jun 2009 07:41:44 +0000</pubDate>
		<dc:creator>gale</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seputar SBW]]></category>

		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[peringatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=339</guid>
		<description><![CDATA[Memperingati hari ulang tahun (HUT) ke- 31  Koperasi Wanita Setia Bhakti Wanita Jawa Timur yang jatuh pada tanggal 30 Mei 2009, anggota Kopwan Setia Bhakti Wanita yang diwakili oleh utusan tiap-tiap kelompok  bersama-sama dengan jajaran operasional mengadakan syukuran di Hotel Mercure Surabaya pada Minggu 31 Mei 2009. Acara HUT yang berlangsung terebut dihadiri kurang lebih [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><div id="attachment_380" class="wp-caption alignleft" style="width: 241px"><a href="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2009/06/img_1643.jpg"><img class="size-medium wp-image-380" src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2009/06/img_1643-300x213.jpg" alt="Hari Ulang Tahun Kopwan SBW" width="231" height="164" /></a><p class="wp-caption-text">Hari Ulang Tahun Kopwan SBW</p></div></p>
<p>Memperingati hari ulang tahun (HUT) ke- 31  <strong>Koperasi Wanita Setia Bhakti Wanita Jawa Timur</strong> yang jatuh pada tanggal 30 Mei 2009, anggota Kopwan Setia Bhakti Wanita yang diwakili oleh utusan tiap-tiap kelompok  bersama-sama dengan jajaran operasional mengadakan syukuran di Hotel Mercure Surabaya pada Minggu 31 Mei 2009. Acara HUT yang berlangsung terebut dihadiri kurang lebih 350 orang tampak semarak dan penuh makna kekeluargaan. Selain merayakan hari ulang tahunnya, koperasi wanita Setia Bhakti Wanita Jawa Timur juga me-launching sebuah buku berjudul <strong>Aplikasi Sistem Tanggung Renteng</strong><a title="buku aplikasi tanggung renteng" href="http://e-kopwansbw.com/produk/launching-buku" target="_blank"><strong> </strong></a>yang disusun oleh Gatot Supriyanto.<span id="more-339"></span></p>
<p>Acara peringatan HUT Kopwan Setia Bhakti Wanita Jawa Timur serta <em>Launching</em> buku Aplikasi Sistem Tanggung Renteng ini juga di hadiri oleh pejabat negara, diantaranya adalah H.Guritno Kusumo, SE.MM (Sekretaris Menteri Negara Koperasi dan UKM RI), Drs.Bramansetyo, Msi (Kepala Dinas Koperasi UMKM Provinsi Jawa Timur), Drs. Hadi Mulyono (Kepala Dinas Koperasi dan UMKM Kota Surabaya) serta utusan rekanan perbankan dari Bank Bukopin, Bank Mandiri, Bank Mu&#8217;amalat, PNM dan para Primer dari Puskowanjati serta pihak Puskowanjati.</p>
<p>Salah satu acara HUT Kopwan Setia Bhakti Wanita Jawa Timur adalah membahas buku Aplikasi Sistem Tanggung Renteng, acara bedah buku ini menghadirkan dua tenaga ahli dibidang koperasi dan sistem tanggung-renteng yaitu Priyo Jatmiko (Dosen Universitas Brawijaya Malang) serta Ir.H.Soebroto Hadi Soegondo (tenaga ahli Kementrian Koperasi). Berbagai macam pertanyaan dilontarkan oleh utusan dari kelompok Koperasi Wanita Setia Bhakti Wanita Jawa Timur karena ketertarikan akan sistem tanggung-renteng yang diterapkan oleh koperasi wanita Setia Bhakti Wanita Jawa Timur.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/peringatan-hut-31.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pelatihan Ketrampilan Glass Painting</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/pelatihan-ketrampilan-glass-painting.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/pelatihan-ketrampilan-glass-painting.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 03 May 2009 17:29:39 +0000</pubDate>
		<dc:creator>fidi</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seputar SBW]]></category>

		<category><![CDATA[anggota]]></category>

		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[ketrampilan]]></category>

		<category><![CDATA[pelatihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=279</guid>
		<description><![CDATA[Glass painting adalah sebuah ketrampilan dalam melukis di media gelas atau kaca. Kerajinan kaca yang satu ini tampak berbeda dari produk kaca dekorasi yang biasa ditemui di toko-toko kerajinan. Produk yang sering disebut sebagai decorative glass painting ini bisa berupa gelas, lampu hias, toples, tempat lilin, vas bunga dan lain-lain. Agar dapat melukis di atas [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><em><strong><img class="alignnone size-full wp-image-280" title="gelas" src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2009/05/gelas.jpg" alt="gelas" width="300" height="225" />Glass painting</strong></em> adalah sebuah ketrampilan dalam melukis di media gelas atau kaca. Kerajinan kaca yang satu ini tampak berbeda dari produk kaca dekorasi yang biasa ditemui di toko-toko kerajinan. Produk yang sering disebut sebagai <em>decorative glass painting</em> ini bisa berupa gelas, lampu hias, toples, tempat lilin, vas bunga dan lain-lain.<span style="font-family: &quot;Arial&quot;,&quot;sans-serif&quot;; color: #cccccc;"> </span>Agar dapat melukis di atas material berbahan dasar kaca, benda apapun terbuat dari kaca yang bening dapat dilukis atau diwarnai sesuai dengan kemauan kita. Bahan dasar kaca yang bening, transparan dan berkilau membuat warna-warna yang dilukiskan dapat semakin menonjol dan mempunyai nilai seni tersendiri.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Untuk mengembangkan <span> </span>kemampuan ketrampilan anggotanya, maka Kopwan “SETIA BHAKTI WANITA” Jawa Timur melalui Unit <em>Learning Center</em>nya mengadakan “Pelatihan Ketrampilan Glass Painting”. Dalam pelatihan kali ini akan di bimbing oleh Laksmiwati Etty dari kelompok 370 yang akan dilaksanakan di Gedung II pada tanggal 22, 23, 27 April 2009 serta dilanjutkan pada tanggal 3 Mei 2009. Untuk pendaftaran bisa menghubungi Tim Ketrampilan Setia Bhati Wanita Jawa Timur</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align: justify;">Selain mempunyai nilai artistik sebagai hiasan, kreasi <span> </span>dari glass painting ini juga bisa mempunyai nilai jual tersendiri sehingga dapat menambah penghasilan keluarga.<span class="artikel"> Pelatihan saat ini sifatnya masih dasar. Jadi untuk bisa layak jual harus dikembangkan dengan mengikuti pelatihan lanjutan.</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/pelatihan-ketrampilan-glass-painting.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Angin Perubahan di Kelompok 311</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/angin-perubahan-di-kelompok-311.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/angin-perubahan-di-kelompok-311.html#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 12 Oct 2008 05:22:47 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seputar SBW]]></category>

		<category><![CDATA[anggota]]></category>

		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[kelompok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=65</guid>
		<description><![CDATA[Ruang yang sehari-harinya dipenuhi perkakas bengkel itu, nampak tertata rapi. Karena hari itu, ruang tersebut digunakan pertemuan kelompok.Tikar telah digelar memenuhi ruangan. Sementara disudut ruangan sudah nampak Ibu Eko PJ I kelompok 311 menghadap meja yang diatasnya bertumpuk buku administrasi kelompok. Setiap anggota yang datang langsung menghadap PJ untuk melakukan pembayaran kewajiban dan mengisi absen.
Sayangnya [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="artikel"><img class="size-full wp-image-66 alignleft" title="28" src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2009/05/28.jpg" alt="28" width="294" height="222" />Ruang yang sehari-harinya dipenuhi perkakas bengkel itu, nampak tertata rapi. Karena hari itu, ruang tersebut digunakan pertemuan kelompok.Tikar telah digelar memenuhi ruangan. Sementara disudut ruangan sudah nampak Ibu Eko PJ I kelompok 311 menghadap meja yang diatasnya bertumpuk buku administrasi kelompok. Setiap anggota yang datang langsung menghadap PJ untuk melakukan pembayaran kewajiban dan mengisi absen.</span></p>
<p><span class="artikel">Sayangnya sampai pukul 09.00 ternyata yang ada diruangan tersebut baru 4 anggota. Memang biasanya pertemuan kelompok 311 dimulai pukul 10.00 . Tapi karena pertmuan bulan ini bertepatan dengan puasa, maka disepakati untuk diajukan pukul 09.00 . Sepuluh menit kemudian mulailah anggota berdatangan. Sampai pertemuan dimulai pada pukul 09.15, anggota yang hadir telah mencapai 20 orang. Sehingga ruangan nampak penuh.<span id="more-65"></span></span></p>
<p><span class="artikel">Sebelum acara pertemuan dimulai, mereka saling mengobrol bahkan saling gojlok. Sebagian lagi ada yang mengingatkan teman-temannya untuk tidak lupa mengisi absen. Pendek kata saat itu suasana terasa begitu akrab dan penuh kekeluargaan. Bahkan kalau terdengar telepon rumah berdering, anggota yang terdekat segera mengangkatnya tanpa menunggu tuan rumah. Karena bisa dipastikan, telepon masuk tersebut berasal dari anggota yang tidak sempat hadir. Selain itu juga menunjukan, banyak anggota yang telah familier terhadap suasana rumah tersebut.<br />
Suasana yang riuh karena saling ngobrol berubah senyap, begitu acara dimulai. Saat itu Ibu Is yang duduk dekat PJ I mulai membacakan susunan acara, kemudian dilanjutkan pada pembacaan notulen. Dari notulen itu pula bisa diketahui bahwa pada bulan lalu telah terjadi TR sebesar Rp 900 ribu. Namun dana untuk TR tersebut telah kembali. Dalam notulen itu juga disebutkan, untuk anggota yang mengikuti pelatihan TR mendapat transport Rp 15 ribu. Dana tersebut diambil dari tabungan kelompok. </span></p>
<p><span class="artikel">Acara terus mengalir sampai pada musyawarah pengajuan pinjaman. “Ibu-ibu untuk yang SPP mohon dibaca sendiri,” himbau Ibu Ita selaku PPL yang mendampingi kelompok 311. Mendapat himbauan demikian, anggotapun nampak kebingungan. Karena memang biasanya semua dibacakan oleh PJ termasuk penulisannya. </span></p>
<p><span class="artikel">Meski nampak kikuk, akhirnya himbauan tersebut dilakukan juga. “Wah… enak begini (dibaca sendiri-red) kita bisa tahu lebih rinci” tukas Ibu Rina setelah membaca SPP-nya dan dibenarkan anggota lainnya. Sejak itulah, akhirnya disepakati untuk SPP harus dibaca sendiri oleh anggota yang mengajukan. Disamping itu juga diminta agar SPP tidak lagi ditulis oleh PJ. </span></p>
<p><span class="artikel">Suasana berubah heboh, setelah diketahui plafon kelompok tidak mencukupi. Saat itu anggota yang mengajukan SPP, baik untuk SP 1 maupun SP 2 senilai Rp 38 juta, sementara plafon kelompok hanya ada Rp 30 juta. Ibu Rina yang waktu itu mengajukan SP 1 mencoba merayu Ibu Gin agar menunda SPPnya. Pertimbangannya, bila SPP Ibu Gin yang Rp 10 juta itu ditarik maka semuanya beres. “Bulan depan aja bu, nanti saya dukung. Ibu Gin kan banyak uangnya. Jadi belum mendesak sekarang,” tukas Ibu Rina. </span></p>
<p><span class="artikel">“Hanya orang mati yang tidak butuh duit. Saat ini saya butuh karena saya sudah janjian sama orang. Lagi pula saya juga tidak ada PP. Jadi memang sudah waktunya saya pinjam,” tukas Ibu Gin membalas rayuan Ibu Rina. Suasanapun semakin heboh. Karena masing-masing mengajukan alasan bahwa SPP-nya tidak bisa ditunda. Ada yang beralasan untuk anak sekolah dan ada juga yang beralasan untuk modal usaha menjelang lebaran. </span></p>
<p><span class="artikel">Karena masing-masing bertahan, PPL pun mengajukan beberapa alternatif solusi. Diantaranya dengan memotong pinjaman secara merata. Karena potongannya ternyata cukup besar maka beberapa anggota mulai ikut merayu Ibu Gin. Mendapat serangan yang gencar akhirnya Ibu Gin luluh juga. Ia bersedia menurunkan pinjamannya dari Rp 10 juta menjadi Rp 5 juta. </span></p>
<p><span class="artikel"><br />
Tapi nampaknya keputusan Ibu Gin belum meredakan permasalahan. Beberapa anggota yang SPP ternyata juga masih tidak mau menurunkan SPP-nya. Akhirnya Ibu Ita selaku PPL membuat ketegasan agar kelompok segera membuat keputusan. Sebab kalau semua bertahan pada kepentingannya maka permasalahan tidak akan pernah selesai. Dengan demikian, kelompokpun sepakat agar SPP diturunkan untuk menyesuaikan plafon kelompok. Dengan demikian diputuskan yang mengajukan SP 1 diturunkan Rp 1,25 juta, sedang SP 2 diturunkan Rp 660 ribu. </span></p>
<p><span class="artikel">Heboh, saling rayu dan saling gojlok tapi tidak ada dendam dihati, begitulah suasana musyawarah di kelompok 311. “Ini baru pertama kali terjadi. Mungkin karena akan lebaran sehingga banyak yang butuh. Biasanya lancar-lancar saja karena plafon kelompok selalu cukup.” ujar Ibu Eko.<br />
Dulu lanjutnya, kelompok 311 memang pernah diturunkan plafonnya, karena saat itu kondisinya sedang sakit. Masalah tersebut terjadi sekitar empat tahun lalu karena ulah PJ, sehingga terjadi TR terlalu besar. Saat itu anggota kelompok 311 ini banyak yang berasal dari Siwalan Kerto. Tapi karena banyak bermasalah akhirnya banyak yang dikeluarkan. </span></p>
<p><span class="artikel">“PJ waktu itu suka meminjamkan uang pada anggota maupun non anggota. Ketika si anggota tersebut tidak bisa membayar, maka PJ meminta anggota tersebut untuk SPP. Kemudian ketika realisasi, dipotong sebesar pinjamannya. Karena anggota tersebut merasa tidak ikut memakai uangnya maka iapun tidak mau membayar angsuran. Sehingga mau tidak mau kelompok harus TR terus menerus karena tidak hanya satu anggota yang mengalami hal itu,” ujar Ibu Harto, mantan PJ yang menggantikan PJ bermasalah. </span></p>
<p><span class="artikel">Sejak peristiwa itu, PJ dipegang Ibu Harto. Seiring dengan itu, keanggotan lebih banyak dikembangkan di daerah Rewin. Pada perekembangan selanjutnya, PJ dipegang Ibu Eko hingga sekarang. Saat ini jumlah anggota ada 32 orang dan hanya 5 orang yang berasal dari Siwalan Kerto. Tak mengherankan bila kelompok ini kemudian lebih dikenal dengan kelompok Rewin. </span></p>
<p><span class="artikel">Pertemuanpun kini dilakukan secara anjang sana dengan maksud diantara anggota agar lebih saling mengenal. “Mereka yang mendapat arisan akan ketempatan pertemuan kelompok. Karena sekarang saya yang mendapat arisan maka pertemuan bulan depan dirumah saya,” ujar Ibu Lilik, PJ II yang disambut canda anggota lainnya agar konsumsinya dobel. Karena pada bulan ini tidak ada konsumsi.</span></p>
<p><span class="artikel">Agar permasalahan lama yang membuat kelompok sakit tidak terulang maka dibutlah beberapa aturan kelompok. Diantaranya adalah, kalau TR satu kali maka pinjamannya akan diturunkan Rp 1 juta. Bila ternyata TR dilakukan lebih dari 2 kali maka pinjamannya akan diturunkan 50 %. (gt) </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/angin-perubahan-di-kelompok-311.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Perangi Penyakit Kemapanan</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/perangi-penyakit-kemapanan.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/perangi-penyakit-kemapanan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 10 Oct 2008 05:30:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seputar SBW]]></category>

		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[program]]></category>

		<category><![CDATA[sosialisasi]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=71</guid>
		<description><![CDATA[Sedianya dalam acara yang diikuti sekitar 175 ibu non anggota itu menghadirkan Mbak Ratih Sanggarwati dan Okky Asokawati. Tapi sayang Mbak Okky tidak bisa hadir karena menyertai kegiatan Bapak Mentri Koperasi ditempat lain. Mbak Ratih ini pada 27 Desember lalu telah dikukuhkan sebagai duta Program Perempuan Keluarga Sehat dan Sejahtera (Perkasa). Sedang Mbak Okky Asokawati [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="artikel">Sedianya dalam acara yang diikuti sekitar 175 ibu non anggota itu menghadirkan Mbak Ratih Sanggarwati dan Okky Asokawati. Tapi sayang Mbak Okky tidak bisa hadir karena menyertai kegiatan Bapak Mentri Koperasi ditempat lain. Mbak Ratih ini pada 27 Desember lalu telah dikukuhkan sebagai duta Program Perempuan Keluarga Sehat dan Sejahtera (Perkasa). Sedang Mbak Okky Asokawati dikukuhkan sebagai duta koperasi.</span></p>
<p><span class="artikel">Terkait dengan statusnya itulah mereka berdua berkeliling keberbagai daerah untuk mensosialisasi koperasi dan program Perkasa. Pada Agustus lalu, Kopwan SBW mendapat giliran untuk memfasilitasi acara sosialisasi tersebut. Dalam hal ini SBW diminta untuk menyediakan termpat dan peserta non anggota minimal 100 orang. Tentu saja bagi SBW permintaan tersebut bukan hal yang sulit untuk dipenuhi. Gedung lengkap ber AC sudah tersedia. Sementara untuk mendapatkan peserta, juga tidak sulit, tinggal minta kekelompok-kelompok untuk mengajak tetangga atau temannya. <span id="more-71"></span></span></p>
<p><span class="artikel">Terbukti, pada 20 Agustus lalu gedung pertemuan SBW penuh sesak perempuan non anggota. Anggotapun tidak menyia-nyiakan moment ini, diantaranya ada yang mengelar dagangan di ruang pertemuan tersebut. Beberapa sponsor juga hadir menggelar produknya. Sehingga moment ini tidak hanya jadi ajang promo koperasi tapi juga produk anggota. </span></p>
<p><span class="artikel">Pada kesempatan itu Mbak Ratih yang asli Ngawi itu mencoba memotivasi ibu –ibu untuk memerangi penyakit kemapanan yaitu MALAS. Dengan meningkatkan kualitas diri agar lebih produktif . Dicontohkan bagaimana hebatnya perempuan Indonesia dalam mengelola keuangan keluarga. Dengan penghasilan suami yang terbatas tapi masih bisa menutup kebutuhan keluarga.<br />
Tapi sebetulnya, lebih hebat lagi bila kaum ibu juga berupaya meningkatkan kualitas dirinya sehingga bisa turut menopang penghasilan keluarga. Biasanya kalau diajak demikian alasannya selalu sama yaitu modal atau dana. Benarkah demikian ? nampaknya tidak selalu demikian. Karena yang utama justru kemauan yang kuat untuk melakukan perubahan. </span></p>
<p><span class="artikel">Dalam hal ini Mbak Ratih mencontohkan seorang ibu yang bekerja sebagai tukang tambal ban yang kemudian berubah menjadi pengusaha catering. Perubahan terjadi karena memang ada keinginan kuat dari ibu tersebut untuk meraih kehidupan yang lebih baik. Diantara upaya si ibu tersebut adalah dengan menjadi anggota koperasi. Di koperasi itulah ia difasilitasi bukan hanya pinjaman modal tapi juga pemberian ketrampilan. Tentunya contoh demikian ini juga banyak di Kopwan SBW. </span></p>
<p><span class="artikel">Lebih lanjut, Mbak Ratih menjelaskan tentang koperasi. Untuk membukanya ia mencoba mengangkat tradisi Rewang . ”Dengan adanya tradisi Rewang itu, kalau kita punya gawe, pekerjaanya bisa tuntas. Itu artinya pekerjaan berat menjadi ringan bila dikerjakan bersama-sama. Dan itulah koperasi,” tandasnya. </span></p>
<p><span class="artikel">Dengan kemampuan kita yang terbatas, kita akan sulit mencapai tujuan. Beda bila kita yang punya kemampuan terbatas itu bergabung jadi satu, tentu tujuan akan lebih mudah dicapai. Itulah budaya kebersamaan dan itulah yang menjadi dasar kita berkoperasi. Dengan berkoperasi kita akan mendapatkan kesempatan lebih mudah untuk mendapatkan modal. Dengan bersama-sama, kita akan lebih mudah meningkatkan kualitas diri. Apalagi dengan sistem tanggung renteng.<br />
Dengan berkoperasi kita bisa berkumpul untuk membuka wawasan dan untuk meningkatkan kualitas diri dan juga penghasilan. Bila kualitas para perempuan meningkat maka akan meningkatkan pula kualitas keluarga. Dengan kualtas keluarga meningkat akan melahirkan generasi penerus yang berkualitas pula.</span></p>
<p><span class="artikel">Setelah mendapat penjelasan tentang manfaat berkoperasi, nampaknya ada beberapa peserta yang ingin menjadi anggota koperasi. Dalam hal ini Ibu Sadjim menjelaskan bagaimana mekanisme penerimaan anggota baik masuk melalui kelompok maupun membentuk kelompok. Cuma yang dikeluhkan penanya tersebut adalah sulitnya mencari anggota untuk bisa membentuk kelompok. Akhirnya Mbak Ratih minta peserta yang lain untuk maju bila berminat menjadi anggota. </span></p>
<p><span class="artikel">Nampaknya banyak peserta yang berminat tapi nampak keraguan untuk bergbung dalam satu kelompok. Sehingga saat itu yang maju hanya 3 orang. Dari 3 orang inilah yang kemudian diharapkan bisa membentuk satu kelompok. Tapi sebelumnya diharapkan untuk bisa saling mengenal dahulu sehingga pada tahap berikutnya bisa saling mempercayai. Karena memang itulah modal awal membentuk kelompok. Pada tahap selanjutnya tentu bergantung masing-masing anggota bagaimana bisa menjaga kepercayaan yang telah diberikan kepadanya. (gt) </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/perangi-penyakit-kemapanan.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pelatihan TR Berjubel</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/pelatihan-tr-berjubel.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/pelatihan-tr-berjubel.html#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Oct 2008 05:36:01 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seputar SBW]]></category>

		<category><![CDATA[anggota]]></category>

		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[pelatihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=76</guid>
		<description><![CDATA[Kalau setiap periode pelatihan mampu menampung 375 anggota berarti untuk menuntaskan program ini dibutuhkan waktu sekitar 15 tahun. Cukup lama memang untuk bisa mencover seluruh anggota. Itulah sebabnya, anggota yang telah mengikuti pelatihan bisa menularkannya pada teman-temannya dikelompok. Atau paling tidak, anggota yang telah mengikuti pelatihan mampu melakukan perubahan dikelompoknya agar menjadi lebih baik.
Bila seluruh [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="artikel"><img class="alignleft size-full wp-image-77" title="26" src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2009/05/26.jpg" alt="26" width="300" height="224" />Kalau setiap periode pelatihan mampu menampung 375 anggota berarti untuk menuntaskan program ini dibutuhkan waktu sekitar 15 tahun. Cukup lama memang untuk bisa mencover seluruh anggota. Itulah sebabnya, anggota yang telah mengikuti pelatihan bisa menularkannya pada teman-temannya dikelompok. Atau paling tidak, anggota yang telah mengikuti pelatihan mampu melakukan perubahan dikelompoknya agar menjadi lebih baik.</span></p>
<p><span class="artikel">Bila seluruh anggota telah faham terhadap sistem, diharapkan akan dapat meminimalisir permasalahan dikelompok. Sepeti yang terungkap dalam pelatihan yang diselenggrakan Agustus lalu. Permasalahan kelompok yang muncul lebih banyak disebabkan pelaksanaan sistem tanggung renteng tidak dilandasi oleh nilai-nilai tanggung renteng. Diantaranya masalah pendomplengan yang merupakan awal dari kehancuran kelompok karena TR terus menerus dan dianggap memberatkan. . <span id="more-76"></span></span></p>
<p><span class="artikel">Untuk itulah dalam setiap pelatihan tanggung renteng selalu ditekankan tentang nilai-nilai tersebut. Pada Agustus lalu, untuk memahamkan nilai-nilai tanggung renteng, peserta diajak bermain bekiak. Kemudian peserta diajak memaknai permainan tersebut. Dari permainan tersebut jelaslah bahwa untuk mencapai tujuan bersama dibutuhkan nilai-nilai sebagaimana ada dalam tanggung renteng. Dan upaya untuk menjadikan timnya yang terbaik itulah yang seharusnya juga dilakukan pada kelompok. </span></p>
<p><span class="artikel">Tapi memang dalam pelatihan pada Agustus lalu nampaknya kurang optimal hasilnya. Pada pelatihan sebelumnya setiap kelas berisi maksimal 60 orang. Sedang pada Agustus lalu setiap kelas diisi 100 orang lebih. Hal ini terjadi karena disaat pelatihan, bersamaan juga dengan adanya tamu. Sehingga pelatihan yang sedianya dibagi dua kelas akhirnya dijadikan satu. (gt) </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/pelatihan-tr-berjubel.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Merangkai Bunga, Pelatihan Terakhir</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/merangkai-bunga-pelatihan-terakhir.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/merangkai-bunga-pelatihan-terakhir.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 07 Oct 2008 05:39:12 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seputar SBW]]></category>

		<category><![CDATA[anggota]]></category>

		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[pelatihan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=79</guid>
		<description><![CDATA[Memang dalam tahun ini, anggota tidak hanya mengusulkan 1 jenis pelatihan ketrampilan. Sebagaimana dalam RK- RAPB 2008 yang telah disepakati, pelatihan tahun ini adalah potong rambut, rias wajah, sulam pita dan yang terakhir merangkai bunga. Semua pelatihan tersebut telah direalisasi termasuk merangkai bunga yang dilaksanakan pada Juli lalu. 
”Dana untuk pelatihan ketrampilan ini diambilkan dari [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="artikel">Memang dalam tahun ini, anggota tidak hanya mengusulkan 1 jenis pelatihan ketrampilan. Sebagaimana dalam RK- RAPB 2008 yang telah disepakati, pelatihan tahun ini adalah potong rambut, rias wajah, sulam pita dan yang terakhir merangkai bunga. Semua pelatihan tersebut telah direalisasi termasuk merangkai bunga yang dilaksanakan pada Juli lalu. </span></p>
<p><span class="artikel">”Dana untuk pelatihan ketrampilan ini diambilkan dari dana pendidikan yang besarnya 7 % dari SHU. Untuk tahun ini anggaran pendidikan nampaknya telah habis. Jadi pelatihan merangkai bunga ini adalah pelatihan yang terakhir. Kalau peserta mau pengembangkannya harus membiayai sendiri. Atau bisa diusulkan pada anggaran tahun depan,” papar Ibu Sadjim dalam sambutan pembukaan pelatihan merangkai bunga. <span id="more-79"></span></span></p>
<p><span class="artikel">Dipaparkan lebih lanjut, dengan pelatihan merangkai bunga, minimal bisa mempercantik ruangan rumah sendiri. Tapi kalau bisa, kemampuannya dikembangkan lebih lanjut sehingga menjadi usaha yang dapat menambah penghasilan keluarga. Pelatihan saat ini sifatnya masih dasar. Jadi untuk bisa layak jual harus dikembangkan dengan mengikuti pelatihan lanjutan. </span></p>
<p><span class="artikel">Dalam pelatihan yang dibimbing oleh Ibu Martha dari kelompok 302 ini diikuti 78 anggota. Dari jumlah peserta tersebut kemudian dibagi 2 kelas dengan 3 kali pertemuan. Seperti pelatihan sebelumnya, pelatihan merangkai bunga inipun diberikan secara cuma-cuma pada anggota. Tapi anggota diminta untuk membawa sendiri bahan bunga yang akan dirangkai. Sebagai perbandingan, biaya untuk pelatihan merangkai bunga ini setiap perserta bisa dikenai Rp 1 juta untuk 15 rangkaian. (gt)</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/merangkai-bunga-pelatihan-terakhir.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Disiplin Hadir Meski Rumah Jauh</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/disiplin-hadir-meski-rumah-jauh.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/disiplin-hadir-meski-rumah-jauh.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 29 Jul 2008 06:58:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Dinamika Kelompok]]></category>

		<category><![CDATA[anggota]]></category>

		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[kelompok]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=151</guid>
		<description><![CDATA[Saling kenal dan tahu karakter masing – masing anggota dalam satu kelompok, itulah salah satu syarat sistem tanggung renteng. Hal tersebut bisa terjadi karena adanya kedekatan tempat tinggal. Tapi tidak demikian dengan kelompok 332. Berikut liputan Bulletin SBW pada pertemuan kelompok Juni lalu.
Sampai 1989 anggota kelompok 85 yang berada di Putro Agung telah mencapai 75 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="artikel">Saling kenal dan tahu karakter masing – masing anggota dalam satu kelompok, itulah salah satu syarat sistem tanggung renteng. Hal tersebut bisa terjadi karena adanya kedekatan tempat tinggal. Tapi tidak demikian dengan kelompok 332. Berikut liputan Bulletin SBW pada pertemuan kelompok Juni lalu.</p>
<p>Sampai 1989 anggota kelompok 85 yang berada di Putro Agung telah mencapai 75 orang. Sejak itulah pecah kelompok diakukan hingga 4 kali. Dan salah satunya kemudian menjadi kelompok 332 dengan anggota awal 11 orang. Mereka berasal dari sekitar Karang Asem dan Pacar Kembang. Dengan demikian kelompok ini bolehlah dikatakan sebagai kelompok senior. </span></p>
<p><span class="artikel">Tapi jangan kaget bila tidak banyak anggota dikelompok ini yang tahu dan ikut merasakan bagaimana Kopwan SBW semasa berkantor di Jl. Panglima Sudirman. Pasalnya dari 11 anggota awal, ternyata kini hanya tersisa 4 orang. Bahkan kini yang bertempat tinggal di Karang Asem dan Pacar Kembang hanya tersisa 5 orang dari 46 anggota. Justru kebanyakan mereka berasal dari Sidoarjo, Rewin, Tropodo, Benowo bahkan ada yang dari Gersik.<span id="more-151"></span></span></p>
<p><span class="artikel">“Awalnya dari 11 anggota itu mengajak saudaranya untuk jadi anggota SBW. Walaupun mereka itu tidak tinggal di Karang Asem maupun di Pacar Kembang. Kemudian dari saudara – saudara itu mengajak tetangganya untuk ikut. Makanya anggota kelompok 332 ini rumahnya jauh-jauh. Kita pernah menyarankan agar mereka bergabung saja pada kelompok didekat tempat tinggalnya, namun mereka tidak mau,” ungkap Ibu Hermanu, salah satu pendiri kelompok 332 yang juga mantan PJ. </span></p>
<p><span class="artikel">Sudah terlanjur akrab, itulah alasan mereka untuk tidak mau pindah kelompok. Seperti yang diungkapkan Ibu Hadi, saudara Ibu Hermanu yang bertempat tinggal di Rewin. Walaupun untuk menghadiri pertemuan kelompok, Ibu Hadi harus mengeluarkan uang transport cukup besar. “Di Rewin ini ada 5 anggota. Dulu kita biasa urunan Rp 6 000,- untuk naik taksi. Tapi setelah tarif taksi naik, kita urunan beli bensin untuk anggota yang membawa mobil. Tapi kalau anggota yang punya mobil ini tidak hadir, ya&#8230;kita urunan bensin untuk naik sepeda motor berboncengan. Lumayan lah&#8230; lebih irit,” tukasnya. </span></p>
<p><span class="artikel">Walaupun anggota kelompok 332 tempat tinggalnya jauh, tapi mereka cukup disiplin menghadiri pertemuan kelompok yang diadakan di Pacar Kembang V D. Hal ini bisa dilihat dari tingkat kehadiran anggota yang rata-rata 70 %. Seperti pada pertemuan Juni lalu, yang dihadiri 35 orang dari 46 anggota. Tingkat kehadiran ini tentunya ditunjang dengan adanya aturan kelompok yang menyebutkan, anggota yang tidak hadir 3 kali berturut-turut maka SPP-nya ditunda. </span></p>
<p><span class="artikel">Terkait dengan SPP, dikelompok ini juga membuat ketentuan, mereka yang mengajukan harus datang lebih pagi. Bila tidak, maka SPP-nya juga akan ditunda bulan berikutnya. Kesepakatan ini dimaksudkan untuk mempercepat proses penghitungan plafon kelompok dan besarnya pinjaman yang diajukan. Ternyata hal ini juga sangat membantu proses musyawarah SPP manakala plafon kelompok tidak mencukupi. </span></p>
<p><span class="artikel">Apalagi pada beberapa bulan terakhir, kelompok 332 mengalami kekuranga plafon. Sebetulnya untuk meningkatkan plafon juga telah dilakukan penambahan simpanan wajib. Tapi kekurangan plafon masih juga terjadi. Karena pinjaman anggota banyak yang sudah sampai batas maksimal yaitu Rp 10 juta. Itulah sebabnya kemudian muncul lagi kesepakatan agar kekurangan plafon dibagi rata. Seperti pada pertemuan kali ini dimana masing-masing anggota yang mengajukan SPP dikurangi Rp 500 ribu. </span></p>
<p><span class="artikel">Tidak cukup hanya itu, pada pertemuan kelompok Juni lalu muncul lagi aturan dimana potong pinjaman tidak boleh lebih dari 30 %.”Setiap bulan nampaknya kita selalu kekurangan plafon.. Untuk mengatasi masalah plafon ini saya usul agar yang PP tidak lebih dari 30 %. Tapi jangan untuk mengejar 30 % itu lalu angsurannya lebih dari 2. Ini supaya yang SPP tidak barengan sehingga plafonnya bisa cukup,” tandas Ibu Nasasi, PJ I kelompok 332. </span></p>
<p><span class="artikel">Usulan PJ I ini nampaknya juga tidak begitu saja diterima anggota. Diantaranya ada yang beralasan bahwa kebutuhan bisa muncul ditengah jalan. Ketika angsuran baru berjalan 50 % ternyata sudah butuh dana. “Nek nuruti kebutuhan gak onok marine. Jadi kebutuhan itu juga harus dilihat penting tidaknya. Selain itu juga harus dihitung kemampuannya. Saya sebagai PJ ini juga selalu deg-degan, karena pinjaman kita juga sudah get-getan. Mangkakno bu musywarahnya ojok asal setuju. Karena nanti kalau terjadi TR juga besar,” tukas Ibu Nasasi menanggapi. </span></p>
<p><span class="artikel">Memang anggota kelompok 332 cukup dinamis dalam bermusyawarah. Tidak hanya saat musyawarah SPP tapi juga ketika membuat aturan kelompok. Anggota juga aktif bertanya tentang berbagai kegiatan yang ada di koperasi terutama yang telah diikuti oleh PJ atau anggota yang mewakili. Seperti pada pertemuan Juni lalu, anggotan menanyakan berbagai kegiatan HUT, pelatihan ketrampilan hingga temu wicara. Kendati yang berani bersuara masih terbatas beberapa anggota. Tentunya kedepan diharapkan semua anggota kelompok ini bisa aktif dalam bermusyawarah. </span></p>
<p><span class="artikel">Sedang dari sisi administrasi , kelompok 332 juga cukup rapi. Setiap anggota yang datang langsung disodori daftar hadir. Setelah itu mengambil kartu biru dan kitir tagihan yang sudah dikemas dalam satu wadah plastik. Baru setalah itu anggota menuju ruang sebelah. Disana PJ I telah menunggu anggota yang akan membayar kewajibannya. Tapi tak lupa anggotapun harus mengisi kartu birunya. Dari situlah akan bisa diketahui siapa saja anggota yang belum menyelesaikan kewajibannya. Karena setiap anggota yang telah membayar kewajiban maka kitirnya sudah diambil. (&#8211;)</span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/disiplin-hadir-meski-rumah-jauh.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Pacu Adrenalin, Pererat Pesaudaraan</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/pacu-adrenalin-pererat-pesaudaraan.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/pacu-adrenalin-pererat-pesaudaraan.html#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 22 Jul 2008 05:41:15 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seputar SBW]]></category>

		<category><![CDATA[anggota]]></category>

		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=82</guid>
		<description><![CDATA[Berteriak sepuasnya memang bisa melepaskan kekesalan dan depresi. Tapi hal itu tidak memungkinkan untuk dilakukan di Surabaya yang padat pemukiman. Kalaupun dilakukan, bisa-bisa bertambah stres karena dicaci maki tetangga. Bahkan bisa jadi kena timpuk sandal tetangga. Berbeda bila dilakukan di alam bebas. Seperti yang dilakukan PPL pada Juli lalu.
Suntuk, kesal dan entah perasaan tak enak [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="artikel">Berteriak sepuasnya memang bisa melepaskan kekesalan dan depresi. Tapi hal itu tidak memungkinkan untuk dilakukan di Surabaya yang padat pemukiman. Kalaupun dilakukan, bisa-bisa bertambah stres karena dicaci maki tetangga. Bahkan bisa jadi kena timpuk sandal tetangga. Berbeda bila dilakukan di alam bebas. Seperti yang dilakukan PPL pada Juli lalu.<br />
Suntuk, kesal dan entah perasaan tak enak apalagi yang dirasa PPL ketika mendapatkan kelompok binaanya bermasalah. Perasaan itu semakin menjadi-jadi ketika menjelang dilaksanakan pertemuan PPL ataupun pertemuan insidentil. Karena disaat itulah semua permasalahan diungkap. Bahkan kalau salah dalam penanganan bisa sanksi yang didapat. Itulah sebabnya PPL menyambut gembira ketika diberi kesempatan untuk ikut outbond. Apalagi outbond kali ini ditambah dengan rafting (arung jeram). </span></p>
<p><span class="artikel">Tapi ketika, dipaparkan bagaimana medan arung jeram yang akan dihadapi, beberapa PPL menjadi surut semangatnya. Apalagi mereka yang tak bisa berenang ataupun secara fisik tidak memungkinkan ikut. Tapi sebagian besar justru ingin mencoba tantangan tersebut. Maka berangkatlah PPL bersama Pengurus dan Pengawas ke Desa Condong Kecamatan Piris - Probolinggo pada 18 Juli.<span id="more-82"></span></span></p>
<p><span class="artikel">Karena berangkatnya setelah sholat Jum’at maka tiba di lokasi juga sudah malam. Apalagi saat itu ada kampanye dari salah satu calon gubernur Jatim, sehingga jalanan macet. Kendati sampai dilokasi sudah malam atau sekitar pukul 19.00, acara sesuai rencana terus dilanjutkan. Setelah makan malam, PPL, Pengurus dan Pengawas melebur jadi satu untuk mengikuti game yang dipandu tim Songa Adventure. </span></p>
<p><span class="artikel">Dalam game inilah mereka dibuat tertawa lepas, sesekali mengerutkan dahi bahkan berjoget riang. Tapi pada dasarnya dalam beberapa game yang dimainkan tersebut ada unsur penggalian kemampuan analisa dan kecepatan merespon kondisi. Game diakhiri dengan membuat rancang bangun dengan bahan dari koran dan solasi. Tentu saja tidak ada satupun rancangan yang bisa bertahan berdiri tegak setelah kena angin malam. Tapi disini mengandung pembelajaran bagaimana bekerja secara tim. Kemudian membuat perencanaan dan mengaplikasikannya. Acara inipun berlangsung hingga pukul 11.20. Padahal esok harinya akan melakukan rafting.<br />
Untuk tidur para peserta rafting ini jangan dibayangkan seperti penginapan atau hotel. Karena semua peserta yang menginap di Songa Adventure tidur di saung yang telah ditata seperti perkampungan pedalaman. Tapi nampaknya semua peserta menikmati suasana tersebut. Sehingga saat bangun pagi sudah nampak segar dan siap untuk menyusuri Sungai Pekalen.</span></p>
<p><span class="artikel">Mengerikan, itulah yang tergambar dibenak peserta ketika mendapat paparan dari sang guide. ”Kalau nanti ada yang tercebur biarkan saja dan jangan panik,” demikian kata sang guide sambil menjelaskan bagaimana menolong teman yang jatuh. Tentu saja penjelasan tersebut semakin menyiutkan nyali peserta yang tadinya memang sudah takut. </span></p>
<p><span class="artikel">Setelah semua peserta mendapat peralatan seperti pelampung, helm dan dayung, merekapun diangkut dengan mobil bak terbuka menuju lokasi di Desa Pesawahan. Dari perkampungan terakhir, peserta berjalan kaki menuju sungai sekitar 1 km. Di lokasi start, ketika peserta mulai naik boat itulah, wajah-wajah tegang terlihat. Dan diawal perjalanan itu boat sudah mulai dogoncang oleh alunan air yang cukup keras. Kontan saja wajah – wajah ketakutan itu semakin menegang. Merekapun berteriak sambil berpegang erat pada tali boat. </span></p>
<p><span class="artikel">Dalam perjalanan dari 6 boat yang memberangkatkan rombongan dari SBW ini, satu diantaranya terbalik yaitu rombongan Ibu Adi Roso. Bahkan saat itu tim sempat panik karena Ibu Adi Roso terlihat. Dan ternyata ibu yang gemuk ini berada dibalik boat sambil memegangi tali.<br />
Serem tapi menyenangkan, itulah kesan dari peserta rafting. Apalagi pemandangan sepanjang sungai Pekalen yang disusuri cukup eksotik. Tak mengherankan bila beberapa PPL berkeinginan untuk berangkat sendiri. Dan yang jelas selama perjalanan itu mereka bisa berteriak sepuas dan sekeras mungkin. Karena yang mendengar hanya tebing-tebing sungai. Dalam route sepanjang 10 km ini terdapat 8 titik rawan dengan waktu tempuh sekitar 2 jam. </span></p>
<p><span class="artikel">Setelah PPL, pada bulan berikutnya ganti rombongan karyawan yang berangkat ikut rafting. Sama seperti PPL, ketika ditawari pertama kali, beberapa karyawan juga tidak bersedia ikut. Macam-macam alasannya tapi sebagian besar menyatakan tidak bisa berenang. Tapi setelah itu semua menyatakan terkesan bahkan beberapa ingin kembali. Dari perjalanan yang memacu adrenalin ini nampaknya semakin mempererat tali bersaudaraan. (gt) </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/pacu-adrenalin-pererat-pesaudaraan.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Realisasi Rencana Ketrampilan</title>
		<link>http://www.setiabhaktiwanita.com/realisasi-rencana-ketrampilan.html</link>
		<comments>http://www.setiabhaktiwanita.com/realisasi-rencana-ketrampilan.html#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 30 May 2008 05:47:56 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Gatot</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[Seputar SBW]]></category>

		<category><![CDATA[anggota]]></category>

		<category><![CDATA[kegiatan]]></category>

		<category><![CDATA[ketrampilan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://www.setiabhaktiwanita.com/?p=89</guid>
		<description><![CDATA[Setiap tahun Kopwan SBW selalu membuat rencana untuk pemberdayaan anggota dengan memberikan berbagai pelatihan ketrampilan. Rencana inipun dibuat berdasarkan usulan anggota yang kemudian disahkan dalam rapat anggota. Untuk tahun ini rencana ketrampilan nampaknya banyak jenisnya. Dalam RK-RAPB 2008 disebutkan, untuk ketrampilan pada tahun ini adalah pelatihan potong rambut, rias wajah, merangkai bunga, bordir dan sulam [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><span class="artikel"><img class="alignleft size-medium wp-image-90" title="22" src="http://www.setiabhaktiwanita.com/wp-content/uploads/2009/05/22-300x224.jpg" alt="22" width="300" height="224" />Setiap tahun Kopwan SBW selalu membuat rencana untuk pemberdayaan anggota dengan memberikan berbagai pelatihan ketrampilan. Rencana inipun dibuat berdasarkan usulan anggota yang kemudian disahkan dalam rapat anggota. Untuk tahun ini rencana ketrampilan nampaknya banyak jenisnya. Dalam RK-RAPB 2008 disebutkan, untuk ketrampilan pada tahun ini adalah pelatihan potong rambut, rias wajah, merangkai bunga, bordir dan sulam pita. </span></p>
<p><span class="artikel">Sebagai realisasi dari rencana tersebut, telah diawali dengan mengadakan pelatihan tata rias wajah sejak 6 Mei lalu. Dalam pelatihan ini peserta diberikan ketrampilan bagaimana merawat dan merias wajah sendiri. Sehingga penampilan nampak selalu segar dan cantik sepanjang hari. Untuk itulah, pada kesempatan itu peserta juga diberikan ketrampilan bagaimana merias wajah untuk pagi dan malam hari. <span id="more-89"></span></span></p>
<p><span class="artikel">Pelatihan yang diikuti 60 anggota ini dibagi dalam dua kelas yaitu kelas pagi dan kelas siang. Sedang masa pelatihan dibagi menjadi 6 kali pertemuan dan berakhir dengan ujian yang diselenggarakan pada 27 Mei lalu. “Semoga apa yang ibu – ibu dapatkan bisa bermanfaat, minimal untuk diri sendiri sehingga bisa selalu nampak cantik dihadapan suami. Syukur-syukur ketrampilan yang ibu dapatkan bisa dikembangkan menjadi usaha baru untuk menambah penghasilan keluarga,” harap Ibu Sadjim, Ketua I Kopwan SBW sebelum acara ujian dilaksanakan.<br />
Karena rencana pelatihan ketrampilan ini banyak jenisnya, maka realisasinyapun dibuat beruntun. Begitu pelatihan ketrampilan tata rias wajah telah usai, tak lama setelah itu dilanjutkan dengan membuka pelatihan ketrampilan tata rambut. Pelatihan ketrampilan menata rambut ini dimulai sejak 3 Juni lalu. Rencananya pelatihan ini berlangsung hingga 12 kali pertemuan. Dalam pelatihan ini diikuti 75 anggota yang dibagi dalam 3 kelas. </span></p>
<p><span class="artikel">Pada pelatihan tata rias wajah dan tata ramput, peserta dibimbing oleh dua instruktur yang semuanya juga anggota. Kedua instruktur tersebut adalah Ibu Maya Sukatman dan Ibu Hartani Mahdi Kedua ibu ini saling bahu membahu dalam mmberikan materi hingga praktek. Bahkan dengan ketelatenannya, kedua ibu ini tidak segan-segan mendatangi satu per satu peserta untuk memberi pengarahan. (gt) </span></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://www.setiabhaktiwanita.com/realisasi-rencana-ketrampilan.html/feed</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>

